Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Atlanta — Pundak-Pundak Itu Mengangkat Messi ke Langit Dunia

Malam itu, Stadion Mercedes-Benz bukan sekadar arena pertandingan. Ia berubah menjadi altar penghormatan. Di tengah gemuruh 71.000 pasang mata, Lionel Mess

Jul 09, 2026 - 21:24
0 0
Atlanta — Pundak-Pundak Itu Mengangkat Messi ke Langit Dunia
Malam itu, Stadion Mercedes-Benz bukan sekadar arena pertandingan. Ia berubah menjadi altar penghormatan. Di tengah gemuruh 71.000 pasang mata, Lionel Messi — pria mungil yang bahunya telah memikul harapan seluruh negeri selama dua dekade — akhirnya merasakan bagaimana rasanya dipikul oleh mereka yang ia perjuangkan. Sosok nomor 10 itu melayang. Bukan karena selebrasi gol spektakuler ciptaannya sendiri, melainkan karena belasan rekan setim mengangkatnya ke udara. Tangisan haru, tawa pecah, dan seruan "Messi, Messi!" menggema dalam bahasa Spanyol yang terasa seperti doa. Argentina baru saja memastikan tempat di perempat final Piala Dunia 2026, dan momen ini adalah puncak dari drama yang tak akan terlupakan.

Ketika Sang Legenda Mulai Terjatuh

Perjalanan malam itu tidak dimulai dengan kemeriahan, melainkan dengan keheningan yang mencekam. Mesir — tim yang dipandang sebelah mata sebelum turnamen — ternyata datang dengan tembok pertahanan yang disiplin.
  1. Menit ke-23: Messi terjatuh di kotak penalti setelah berduel dengan Bek Mesir, Ahmed Hegazi. Wasit asal Jepang, Hiroshi Tanaka, mengabaikan permintaan penalti. Puluhan juta rakyat Argentina menahan napas. Wajah Messi menekuk frustrasi.
  2. Menit ke-45+2: Tendangan bebas melengkung Messi dari jarak 22 meter hanya membentur mistar gawang. Bunyi "thud" logam itu seakan menampar harapan La Albiceleste. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum.
  3. Menit ke-67: Mohamed Salah nyaris membuat Georgia senyap ketika tendangan kaki kirinya hanya berjarak beberapa inci dari tiang jauh. Raut cemas mulai terlihat di bangku cadangan Argentina.
"Kami melihat Leo frustrasi. Tapi justru di saat seperti itu, kami tahu dia akan menemukan jalannya," ujar Rodrigo De Paul selepas pertandingan, matanya masih berkaca-kaca.

Dua Detik yang Mengubah Segalanya

Kebuntuan pecah di menit ke-84. Sebuah umpan terobosan yang tampak biasa saja dari Enzo Fernández tiba-tiba menjadi luar biasa. Messi, dengan sentuhan pertama yang hanya bisa dilakukan oleh seorang jenius, mengontrol bola seolah merekatkannya ke kaki kiri. Satu, dua bek Mesir dilewati. Lalu, tanpa backlift mencolok, ia melepaskan tembakan mendatar yang menusuk sudut sempit gawang. Gol. Skor 1-0. "Bukan gol terindah yang pernah ia cetak. Tapi gol ini... rasanya berbeda. Seperti pelepasan seluruh beban Argentina," kata Maria Gonzalez, seorang jurnalis yang mengikuti Messi sejak debutnya di 2005.

Pundak yang Kini Bergantian Memikul

Peluit panjang berbunyi. Pemain Argentina berkerumun. Lalu, secara spontan — tanpa direncanakan — Lisandro Martínez dan Cristian Romero mengangkat Messi. Dalam hitungan detik, lebih banyak tangan ikut menopang. Messi mengangkat kedua tangannya ke langit. Kamera menangkap matanya yang sembab. Pemandangan itu punya makna yang begitu dalam. Selama 22 tahun, pundak Messi-lah yang memikul tanggung jawab Argentina. Kini, pundak-pundak generasi baru — Julian Alvarez, Ángel Di María yang bermain di Piala Dunia terakhirnya, Fernández, dan De Paul — bergantian mengangkat sang maestro. Ini adalah Piala Dunia terakhir Messi. Semua orang tahu itu. Dan malam di Atlanta itu, rekan-rekannya mengirimkan pesan tegas: Kami akan memikul beban ini bersamamu, Kapten.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User