Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

SAMPANG — PLN Mohon Maaf, Pemadaman Listrik di Dusun Rabesen Masih Diperbaiki

Sabtu siang di Dusun Rabesen tak lagi diiringi dengung kipas angin atau suara televisi. Sejak pukul 09.00 WIB, aliran listrik ke puluhan rumah di dusun yan

Jul 08, 2026 - 04:11
0 0

Sabtu siang di Dusun Rabesen tak lagi diiringi dengung kipas angin atau suara televisi. Sejak pukul 09.00 WIB, aliran listrik ke puluhan rumah di dusun yang terletak di Desa Gulbung, Kabupaten Sampang, tiba-tiba terputus. Di dapur-dapur yang mulai gelap, ibu-ibu rumah tangga mengganti kompor listrik dengan tunggu kayu bakar. Anak-anak yang harus menyelesaikan tugas sekolah terpaksa menyalakan lilin di meja belajar, sementara para nelayan yang bergantung pada pompa air untuk tambak mereka hanya bisa menatap langit dengan cemas. Listrik bukan sekadar penerangan, tetapi urat nadi kehidupan mereka.

Padamnya listrik selama berjam-jam itu sontak mengubah rutinitas warga. Di salah satu rumah, Siti Aisyah (42) mengaku tak bisa menyimpan ikan segar di freezer, sementara suaminya, seorang tukang las, terpaksa menolak pesanan karena mesin las tak bisa menyala. “Dari pagi gelap begini, kerjaan terhenti. Anak saya juga merengek karena ruangannya panas,” ucapnya lirih saat ditemui di beranda rumahnya yang mulai dirayapi senja. Bukan hanya kerugian waktu, bagi warga yang menggantungkan hidup pada peralatan listrik, setiap jam tanpa daya berarti hilangnya pendapatan.

Gelap yang Menanti Terang

Laporan gangguan segera mengalir ke pihak PLN. Namun, hingga petang, tidak ada tanda-tanda petugas tiba di lokasi. Warga yang menghubungi nomor pengaduan semakin gelisah. Cahaya lampu petromaks mulai terlihat di beberapa sudut, menciptakan pemandangan kontras antara desa tetangga yang tetap benderang dan Dusun Rabesen yang tenggelam dalam gulita. Di balik diamnya malam yang mendekat, ribuan pertanyaan berputar: kapan listrik menyala lagi?

Konfirmasi yang dilakukan media pada pukul 17.49 WIB akhirnya memecah keheningan. Pihak PLN, melalui Mahfud selaku petugas yang menangani laporan, memberikan tanggapan singkat melalui pesan: “Sudah tak info ke bagian teknik mas.” Pernyataan itu melegakan sekaligus menegaskan bahwa pengaduan warga telah sampai ke meja yang tepat, meski penanganan di lapangan masih tertunda.

“Mohon ditunggu mas, dua unit tim masih melakukan perbaikan karena bersamaan banyak gangguan,”

tulis Mahfud lagi pada pukul 17.58 WIB, menjelaskan alasan keterlambatan respons. Gangguan listrik di Sampang ternyata tidak hanya terjadi di Rabesen; dua tim teknik PLN sedang dikerahkan untuk memadamkan berbagai titik masalah secara bersamaan. Realita ini memperlihatkan bahwa infrastruktur kelistrikan di wilayah pedesaan masih rentan terhadap tekanan beban yang melonjak.

Permohonan Maaf di Ujung Kabel

Pada pukul 18.02 WIB, secercah kata maaf tiba di ujung jari warga melalui layar ponsel. Mahfud meneruskan pesan bernada empati: “Siap mas, copy. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” Kalimat sederhana itu, meski tidak langsung memulihkan aliran listrik, setidaknya memberikan pengakuan atas penderitaan yang dialami warga. Di tengah krisis, pengakuan bahwa kesulitan mereka didengar menjadi secercah harapan.

Warga pun menyambut permohonan maaf itu dengan hati yang masih bertanya-tanya. “Kami cuma ingin listrik nyala lagi, biar anak-anak bisa tidur nyenyak tanpa kegerahan,” ujar Mulyono (55), seorang petani garam yang rumahnya ikut terdampak. Ia menambahkan bahwa rasa aman dan kenyamanan keluarga adalah hal yang paling utama, lebih dari sekadar permintaan maaf formal.

Hingga malam tiba, proses perbaikan oleh dua unit tim teknik PLN masih berlangsung di lapangan. Suara derit kendaraan gardu induk dan percakapan para petugas di dekat trafo menjadi musik pengiring penantian warga. Meski kelelahan dan frustrasi mulai terasa, asa tetap menyala: bahwa segera, lampu-lampu rumah akan kembali memancarkan cahaya hangatnya, dan Dusun Rabesen akan terlepas dari gelap yang memaksanya berhenti.

Di balik setiap padamnya lampu, terukir kisah tentang ketabahan dan betapa berharganya energi yang sering kita abaikan. Kali ini, warga hanya bisa menunggu sembari memeluk keyakinan bahwa terang akan kembali menyapa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User