Surabaya — KAKI Jatim Apresiasi Polri di Hari Bhayangkara ke-80
Mentari Rabu pagi belum sepenuhnya menyibak kabut Surabaya ketika bendera merah-putih dan bendera Polri berkibar berdampingan di sejumlah sudut kota. Tangg
Mentari Rabu pagi belum sepenuhnya menyibak kabut Surabaya ketika bendera merah-putih dan bendera Polri berkibar berdampingan di sejumlah sudut kota. Tanggal 1 Juli 2026 bukan sekadar peringatan biasa bagi para penyandang seragam khaki. Di usia yang menginjak delapan puluh tahun, Kepolisian Republik Indonesia kembali mengukir catatan perjalanan pengabdian yang dipenuhi liku, keringat, dan juga harapan dari masyarakat yang mereka jaga. Di tengah euforia tersebut, suara apresiasi datang dari seorang pria yang kerap menyuarakan keadilan di Jawa Timur, Moh Hosen, Ketua Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) Jatim. Bukan sekadar ucapan formal, baginya momentum ini adalah waktu yang tepat untuk mengingat kembali makna kehadiran polisi di tengah kehidupan warga.
Abdi Negara di Balik Seragam Khaki
Bagi Moh Hosen, peran Polri tak bisa direduksi sekadar patroli malam atau penertiban lalu lintas. Lebih dari itu, institusi ini adalah garda terdepan yang menentukan apakah rakyat bisa tidur nyenyak atau terjaga oleh kecemasan. Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada Rabu ini, menurutnya, adalah cermin panjang dari perjuangan menjaga keutuhan NKRI. Ia menegaskan bahwa keberadaan Polri telah menjangkau keamanan dan ketertiban masyarakat di berbagai lapisan.
"Ucapan selamat Hari Bhayangkara ke-80 kami sampaikan kepada seluruh Kepolisian Republik Indonesia. Semoga Polri semakin profesional, presisi, dan dicintai masyarakat dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat," ujar Moh Hosen.
Namun di balik kata-kata itu, terdengar pula suara-suara kecil dari warga biasa yang merasakan dampak langsung dari kehadiran polisi di lingkungan mereka. Di sudut Pasar Keputran, Surabaya, seorang pedagang kopi bernama Sutrisno sempat berhenti sejenak dari aktivitasnya saat detik-detik upacara bendera berlangsung di Mapolrestabes.
"Saya di sini dagang sudah hampir lima belas tahun. Malam-malam buta pun tetap berani pulang karena sering lihat polisi patroli. Mereka bukan cuma jaga kota, tapi jaga hati warga kecil seperti saya," tutur Sutrisno dengan senyum tipis yang terukir lega di wajahnya.
Integritas dan Mimpi Indonesia yang Bersih
Moh Hosen tidak berhenti pada ucapan selamat semata. Ia melanjutkan harapannya agar Polri terus menjaga integritas dan komitmen dalam memberikan rasa aman. Bagi lembaga antikorupsi yang dipimpinnya, sinergi dengan aparat penegak hukum adalah fondasi penting untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Ia percaya, seragam khaki yang bersih dari noda korupsi akan menjadi cermin bagi institusi negara lainnya.
"Kami dari KAKI Jatim mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian Polri selama ini. Semoga Polri tetap jaya dan setia jadi abdi negara dalam mengawal keutuhan NKRI serta memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat Indonesia," tambahnya.
Tak jauh dari kantor KAKI Jatim, seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar di kawasan Wonokromo, Dewi Lestari, turut menyuarakan harapan serupa. Baginya, kehadiran polisi yang ramah di sekitar sekolah memberikan ketenangan bagi para orang tua yang mengantar anaknya.
"Anak-anak kami jadi lebih berani berangkat sekolah pagi-pagi karena ada polisi yang selalu sigap bantu penyeberangan. Itu sebenarnya hal kecil, tapi bagi kami, itu artinya dunia," kata Dewi dengan nada bergetar haru.
Sinergi di Usia Emas
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tahun 2026, bagi Moh Hosen, bukan sekadar perayaan institusional, melainkan momen rekonsiliasi antara aparat dan rakyat. Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan dan pembangunan nasional hanya bisa terwujud jika seluruh elemen masyarakat berjalan beriringan dengan Polri. Dalam dinamika kehidupan berbangsa, institusi polisi bukan entitas yang berdiri di atas, melainkan bersama-sama dengan warga menapaki jalan menuju Indonesia yang maju, aman, dan sejahtera.
Di bawah terik matahari Surabaya yang kian memanas, bendera Polri tetap berkibar tegak. Seperti harapan yang disampaikan Moh Hosen dan dirasakan warga kecil seperti Sutrisno serta Dewi, delapan puluh tahun bukanlah usia yang membuat lelah, melainkan batu loncatan untuk pengabdian yang lebih dalam. (Kusnadi)
Comments (0)