Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Robert Wolter Monginsidi Dijatuhi Hukuman Mati di Usia 24 Tahun

Ada sorot mata yang tak mudah dilupakan. Bukan karena galak, melainkan karena begitu tajam menatap masa depan. “Matanya seperti menyimpan seluruh amarah da

Jul 09, 2026 - 01:56
0 0

Ada sorot mata yang tak mudah dilupakan. Bukan karena galak, melainkan karena begitu tajam menatap masa depan. “Matanya seperti menyimpan seluruh amarah dan cinta pada negeri ini,” kenang seorang rekan seperjuangan yang enggan disebut namanya. Mata itu milik Robert Wolter Monginsidi—Bote, begitu ia disapa—lelaki muda yang gugur demi republik yang baru saja belajar berjalan.

Pemuda yang Dilahirkan untuk Menyalakan Api

Sejak awal, Bote bukan anak yang biasa-biasa saja. Guru sekolahnya, Sugardo, memberinya nama panggilan “Woce”—sebuah panggilan sayang yang melekat hingga ia dewasa. Bote tumbuh di Sulawesi yang bergejolak, dan semangat perlawanan seakan mendarah daging. Pada 1945, saat proklamasi membahana, ia baru berusia 20 tahun—usia yang sama dengan Republik ini sendiri. Ia adalah generasi yang dibesarkan oleh janji kemerdekaan.

Rangkaian Peristiwa: Dari Perlawanan hingga Tiang Gantungan

  1. 1945-1946: Bote bergabung dengan laskar pemuda di Sulawesi Selatan, mengorganisasi serangan-serangan gerilya melawan pasukan Belanda yang kembali menduduki Indonesia.
  2. 1947: Belanda menangkapnya untuk pertama kali. Ia dipenjara, namun lolos dan kembali memimpin perlawanan. “Bote bukan sekadar gerilyawan; ia adalah api yang terus menyala,” tulis Ben Anderson, sejarawan yang mengkaji “Revolusi Pemuda” Indonesia.
  3. 1949, Juli: Dalam kondisi genting, Bote kembali ditangkap oleh pasukan Belanda. Kali ini pengadilan kolonial tak bermain-main: Raad van Justitie menjatuhkan hukuman mati, tuduhan makar yang tak bisa dinegosiasikan.
  4. 17 September 1949: Di sebuah lapangan di Makassar, Bote berdiri di depan regu tembak. Usianya baru 24 tahun. “Merdeka atau mati,” ucapnya lirih—kata-kata yang kemudian dicatat oleh seorang sipir penjara dan menjadi legenda.

Sorot Mata yang Abadi

Malam sebelum eksekusi, Bote menulis surat terakhir untuk keluarganya. Seorang kerabat jauh, yang kini berusia senja, masih menyimpan salinan surat itu. “Kalian jangan menangis,” begitu pesannya. “Kalian harus tersenyum karena aku mati untuk sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.” Kata-kata itu, menurut kerabat tersebut, “membuat kami menangis sekaligus bangga. Kami kehilangan Bote, tapi Indonesia tidak kehilangan semangatnya.”

Hari ini, 2026, Nusantara Centre mengangkat Monginsidi sebagai tokoh kesepuluh dalam program “Jenius Pikiran Pendiri Republik.” Program yang menyambut kemerdekaan ke-81 ini bertujuan membukukan, memfilmkan, dan menyebarkan kembali kedaulatan berbangsa lewat kisah-kisah yang nyaris terlupakan. Bote adalah bukti: Republik ini dirawat oleh pemuda-pemuda dengan sorot mata tajam, yang tak gentar menatap laras senapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User