Pemerhati Budaya Sesalkan Kondisi Memprihatinkan Museum Geusan Ulun Sumedang
Pagi itu, sinar matahari menerobos celah-celah jendela Museum Geusan Ulun, menyentuh lembut etalase kaca penyimpan mahkota Binokasih—simbol kejayaan Keraja
Pagi itu, sinar matahari menerobos celah-celah jendela Museum Geusan Ulun, menyentuh lembut etalase kaca penyimpan mahkota Binokasih—simbol kejayaan Kerajaan Sumedang Larang. Namun, kilau sejarah itu meredup. Bukan termakan usia, melainkan oleh lapisan debu yang nyaris menutupi kemilau emas mahkota pusaka tersebut. Di sudut lain, kereta kencana kebesaran para leluhur berdiri gagah, tapi lantai di sekitarnya bercak-bercak lembap. Inilah potret yang ditemukan Andy Java, seorang pemerhati lingkungan dan budaya, saat ia menyusuri museum kebanggaan warga Sumedang itu pada Sabtu (4/7/2026). "Museum ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah rumah jiwa masyarakat Sunda. Tapi melihatnya sekarang, rasanya seperti masuk ke rumah yang lama ditinggal penghuninya," bisik Andy, suaranya bergetar menahan sedih.
Bukan Sekadar Museum, Melainkan Pusaka yang Hidup
Museum Geusan Ulun, yang terletak di Kompleks Keraton Sumedang Larang, bukanlah museum biasa. Ia menyimpan jejak panjang peradaban Tatar Sunda; mulai dari mahkota Binokasih, pusaka-pusaka keramat, kereta kencana, hingga tiga harimau awetan yang menjadi saksi bisu hubungan manusia dan alam di masa lalu. Setiap sudutnya adalah lembaran buku sejarah yang nyata. Namun, senyapnya gedung itu kini terasa bukan karena khidmatnya pengetahuan, melainkan karena ruang yang kusam dan pencahayaan minim, seolah kabut lupa menyelimuti setiap artefak berharga itu. Bagi Andy, kondisi ini adalah luka yang menganga di tengah kekayaan identitas budaya Sumedang. "Kalau bukan kita, siapa lagi?" ucapnya lirih, mengulang-ulang pertanyaan yang menyiratkan kegelisahan mendalam.
Catatan Harian di Balik Debu dan Cahaya Redup
Saya mencoba merekonstruksi langkah demi langkah keprihatinan yang terekam hari itu:
- Pukul 10.00 WIB: Andy tiba di pintu utama museum. Harapannya besar ingin mengajak keponakannya belajar sejarah leluhur. "Saya ingin dia bangga jadi orang Sumedang," katanya.
- Pukul 10.15 WIB: Memasuki ruang koleksi pusaka. Matanya langsung tertuju pada etalase mahkota Binokasih. "Kacanya kusam, debu menumpuk di sudut-sudut bingkai. Pantulan cahayanya buram, jadi tidak jelas melihat detail ukiran mahkotanya," kenang Andy.
- Pukul 10.30 WIB: Beralih ke area kereta kencana. Andy mengamati roda dan badan kereta yang tampak kurang terawat. Debu menempel di kayu berornamen emas, memberinya kesan muram.
- Pukul 10.45 WIB: Mengunjungi diorama harimau awetan. Meski masih berdiri gagah, pencahayaan di sekitarnya redup, membuat suasana lebih mencekam ketimbang edukatif. "Anak saya malah takut, bukan penasaran," ujar seorang pengunjung lain yang enggan disebut namanya.
- Pukul 11.00 WIB: Andy menuju toilet. Inilah titik puncak kekecewaannya. "Toiletnya kotor, airnya tidak lancar. Museum ini simbol peradaban, tapi fasilitas dasarnya seolah diabaikan," ujarnya dengan nada tak percaya.
Dari urutan peristiwa sederhana itu, tampak bahwa persoalannya bukan pada besarnya biaya restorasi, melainkan pada hal-hal fundamental: kebersihan, pencahayaan, dan kenyamanan pengunjung. Andy menekankan, "Pengelola jangan hanya fokus melestarikan koleksi secara fisik, tapi juga aura dan rasa hormat yang harus dirasakan setiap orang yang masuk. Mengelola museum bukan semata bisnis, ini tugas suci menjaga jati diri bangsa."
"Budaya Jati Diri Bangsa" yang Tergerus Debu
Ungkapan "budaya jati diri bangsa" yang digaungkan Andy bukanlah retorika kosong. Di setiap etalase berdebu, tersimpan kisah tentang siapa kita sebagai bangsa. Museum adalah ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika debu dibiarkan menumpuk, bukan hanya kaca yang buram, tetapi juga ingatan kolektif kita. "Sumedang ini kaya, warisan leluhurnya melimpah. Tapi kekayaan ini tidak ada artinya kalau kita hanya bisa menyimpannya, bukan merawatnya dengan cinta," tutup Andy. Suaranya menggema di antara dinding-dinding tua museum, berharap ada telinga yang mendengar, dan hati yang tergerak.
Comments (0)