Pemkot Tangsel Tata Kawasan Kumuh Keranggan dan Perkuat Deteksi Dini TBC
Tangsel, Beritaseputar.com – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengukuhkan komitmen ganda di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu: membenahi permu
Tangsel, Beritaseputar.com – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengukuhkan komitmen ganda di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu: membenahi permukiman padat yang selama ini identik dengan keterbatasan sanitasi sembari menggelar program deteksi dini tuberkulosis (TBC) berbasis kewilayahan. Langkah terpadu ini menandai babak baru penanganan kawasan kampung kota yang tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga menyasar akar persoalan kesehatan warganya.
Pembangunan Infrastruktur Dasar: Dari Jalan hingga Sanitasi
Kawasan Kampung Kota di Keranggan selama bertahun-tahun bergulat dengan jalan lingkungan yang sempit dan rusak, drainase buruk, serta minimnya akses air bersih. Kini, Pemkot Tangsel menggelontorkan paket pembangunan infrastruktur dasar yang meliputi peningkatan jalan beton, saluran drainase terintegrasi, jaringan air bersih perpipaan, dan sejumlah titik septictank komunal. Triwulan pertama 2025, lebih dari 700 meter jalan lingkungan telah diperkeras, sementara dua bak penampung air hujan dan sumur resapan dibangun untuk mengendalikan genangan.
“Ini bukan sekadar perbaikan fisik. Kami ingin mengubah wajah lingkungan yang selama ini dianggap kumuh menjadi kawasan layak huni yang sehat. Infrastruktur dasar adalah fondasi,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Tangsel, Dr. Ir. H. Budi Santoso, M.T., saat meninjau proyek, Selasa (15/7).
Penataan tersebut juga dibarengi penataan ruang publik, seperti revitalisasi balai warga dan penghijauan bantaran sungai kecil yang membelah perkampungan. Warga dilibatkan dalam gotong royong pemeliharaan, menciptakan rasa memiliki yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar di wilayah kumuh.
Pendekatan Kewilayahan Deteksi Dini TBC: Masyarakat Jadi Ujung Tombak
Di tengah deru alat berat, Dinas Kesehatan Tangsel meluncurkan program “Gerakan Keranggan Sehat Bebas TBC” dengan pendekatan berbasis kewilayahan. Petugas kesehatan bersama kader dari 15 posyandu dan 10 dasawisma setempat menyisir rumah-rumah untuk menemukan individu dengan gejala suspek TBC—batuk berdahak lebih dari dua pekan, penurunan berat badan drastis, dan berkeringat malam. Sejak April, tim berhasil menjangkau 2.840 keluarga dan menemukan 32 suspek yang segera dirujuk ke puskesmas untuk tes dahak molekuler (TCM).
“Kami dorong warga tidak lagi takut atau malu memeriksakan diri. Dengan pendekatan dari pintu ke pintu yang dilakukan kader setempat, stigma perlahan luntur. Mereka ibarat ‘mata’ yang melihat kondisi riil di lapangan,” kata dr. Siti Nurhaliza, Kepala Puskesmas Setu, kepada Beritaseputar.com.
Metode kewilayahan ini menempatkan kader sebagai navigator yang memetakan persebaran suspek menggunakan aplikasi sederhana berbasis ponsel pintar. Data tersebut diintegrasikan dengan profil sanitasi rumah—kondisi ventilasi, paparan asap dalam ruangan, dan kepadatan hunian—sehingga intervensi bisa bersifat spesifik. Program ini mendapat dukungan dari Dinas Perumahan dan Permukiman yang memastikan renovasi rumah tidak sehat berjalan paralel dengan pengobatan pasien TBC.
Sinergi Infrastruktur dan Kesehatan: Memutus Rantai Penularan dari Akar
Hubungan antara lingkungan fisik dan TBC tidak bisa diabaikan. Data Dinas Kesehatan Tangsel mencatat, angka notifikasi semua kasus TBC di Kecamatan Setu mencapai 178 per 100.000 penduduk pada 2024, dengan kontribusi terbesar dari wilayah kumuh seperti Keranggan. Ventilasi buruk dan lembapnya rumah menjadi medium ideal bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis untuk bertahan lama di udara. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur sanitasi dan perbaikan rumah secara langsung memotong mata rantai penularan.
Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Infrastruktur dan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) murni, Pemkot Tangsel mengalokasikan Rp 4,2 miliar untuk penataan Keranggan, termasuk pembangunan 12 unit rumah sehat bagi keluarga miskin yang terindikasi memiliki pasien TBC. “Kami tidak ingin pasien yang sudah sembuh kembali sakit karena tinggal di lingkungan yang tidak layak. Jadi, pengobatan dan perbaikan rumah berjalan seiring,” tambah Budi Santoso.
Dampak dan Harapan ke Depan
Sejak infrastruktur mulai berfungsi, warga melaporkan penurunan frekuensi banjir lingkungan dan berkurangnya jentik nyamuk. Sementara itu, program deteksi dini TBC berhasil menemukan kasus baru lebih cepat—waktu penemuan turun dari rata-rata 42 hari menjadi 19 hari setelah gejala muncul. Ini berkat kader yang proaktif tidak hanya mengedukasi tetapi juga mengantar suspek ke fasilitas kesehatan.
Ke depan, Pemkot Tangsel berencana mereplikasi model terpadu ini ke kampung kota lain seperti Pisangan dan Ciputat. “Kami ingin setiap pembangunan fisik sejak awal terintegrasi dengan target kesehatan. Kampung yang bersih harus bebas TBC,” pungkas Wali Kota Tangerang Selatan dalam pernyataan tertulisnya.
Masyarakat Keranggan pun menyambut positif. Sutinah (45), salah satu warga yang rumahnya diperbaiki, mengatakan, “Bapak saya dulu sempat kena TBC, sekarang lingkungan kami lebih sehat, ada jamban dan air bersih. Alhamdulillah, anak-anak jarang batuk-batuk.” Kisah Sutinah menjadi bukti bahwa kolaborasi pembangunan fisik dan intervensi kesehatan mampu mewujudkan permukiman yang manusiawi dan tangguh terhadap ancaman penyakit menular.
[SOCIAL_TWEET]: Lingkungan kumuh Keranggan kini berbenah—jalan mulus, air bersih, dan kader kesehatan sisir rumah demi deteksi dini TBC. Kolaborasi Pemkot Tangsel buktikan pembangunan fisik dan kesehatan bisa sejalan! #TangselSehat #BebasTBC #InfrastrukturMaju[SOCIAL_TG]: 🏗️ Pemkot Tangsel tata kawasan kumuh Keranggan: jalan baru, sanitasi aman, plus skrining TBC massal berbasis kewilayahan. 32 suspek terdeteksi, lingkungan makin sehat. Detailnya di sini!
Comments (0)