Istana Buckingham — Raja Charles III Buka Lowongan Videografer Bergaji Rp1,2 Miliar
Udara pagi di sekitar Istana Buckingham terasa sedikit berbeda pada awal pekan ini. Bukan karena parade pergantian penjaga atau kunjungan kenegaraan, melai
Udara pagi di sekitar Istana Buckingham terasa sedikit berbeda pada awal pekan ini. Bukan karena parade pergantian penjaga atau kunjungan kenegaraan, melainkan sebuah pengumuman yang menyebar cepat di platform LinkedIn dan situs resmi keluarga kerajaan. Raja Charles III dan Ratu Camilla membuka lowongan pekerjaan untuk posisi videografer dengan gaji mencapai £52.000 per tahun, atau setara dengan sekitar Rp1,2 miliar (kurs Rp23.000). Bagi para kreator konten digital, ini adalah panggilan yang sulit diabaikan: bekerja langsung di jantung monarki Inggris, merekam momen-momen bersejarah, dan digaji dengan nominal yang jauh di atas rata-rata industri kreatif di London.
Lowongan ini menandai babak baru strategi komunikasi Kerajaan Inggris. Setelah bertahun-tahun menjaga jarak dengan hingar-bingar media sosial, Istana sepertinya menyadari bahwa relevansi sebuah institusi berusia lebih dari seribu tahun sangat bergantung pada kemampuannya menyapa generasi baru. Dan siapakah yang lebih memahami bahasa generasi itu selain seorang videografer yang piawai meramu konten pendek nan memikat untuk Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts?
Deskripsi Pekerjaan: Lebih dari Sekadar Merekam
Dalam iklan yang dipasang melalui situs resmi Royal Household, posisi ini disebut sebagai "Digital Content Creator (Video)"—sebuah jabatan yang terdengar segar di lingkungan istana. Tanggung jawab utamanya adalah memproduksi konten video "kekinian" yang menampilkan kegiatan Raja, Ratu, dan anggota keluarga kerajaan lainnya. Tapi jangan bayangkan sekadar merekam pidato atau potongan acara seremoni.
Pelamar diharapkan mampu mengonsep, merekam, mengedit, dan mendistribusikan konten video yang dapat bersaing dengan kreator digital profesional di luar sana. Mereka harus bisa menangkap momen-momen spontan—senyum kecil Ratu Camilla saat bertemu anak-anak sekolah, atau tangan Raja Charles yang dengan telaten menanam pohon dalam kunjungan lingkungan—lalu mengemasnya menjadi 30-60 detik yang menyentuh hati. Penguasaan perangkat lunak editing seperti Adobe Premiere Pro atau DaVinci Resolve menjadi wajib, begitu pula pemahaman mendalam tentang algoritma media sosial.
"Kami mencari seseorang yang dapat menceritakan kisah-kisah dari keluarga kerajaan melalui lensa yang segar dan autentik. Bukan hanya dokumentasi protokoler, tetapi narasi visual yang membuat publik merasa terhubung," demikian petikan deskripsi pekerjaan tersebut.
Gaji dan Tunjangan: Angka yang Membuka Mata
Angka £52.000 per tahun memang mencolok. Jika dibandingkan, gaji rata-rata videografer di London berkisar antara £28.000 hingga £38.000. Posisi ini jelas menawarkan kompensasi premium. Namun nominal itu juga mencerminkan ekspektasi tinggi yang disematkan. Selain gaji pokok, paket remunerasi mencakup tunjangan pensiun 15% yang dibayar penuh oleh pemberi kerja, asuransi kesehatan komprehensif, dan akses ke fasilitas istana. Tidak disebutkan apakah pelamar akan mendapatkan tempat tinggal di kompleks istana—sebuah praktik yang lazim untuk staf senior—tetapi spekulasi di kalangan kreator konten sudah bermunculan.
Bekerja untuk Raja bukan sekadar soal uang. Ini tentang prestise dan akses eksklusif ke balik pintu yang selama ini hanya bisa dilihat dari luar pagar emas. Videografer terpilih akan mendokumentasikan tur kerajaan, resepsi diplomatik, hingga momen-momen privat yang dikurasi dengan hati-hati untuk konsumsi publik.
Mengapa Posisi Ini Dibuka Sekarang?
Keputusan membuka lowongan ini bukanlah langkah tiba-tiba. Sejak naik takhta pada September 2022, Raja Charles III secara konsisten menunjukkan keinginan untuk memodernisasi citra monarki. Di era Ratu Elizabeth II, media sosial Kerajaan sudah ada, tetapi nadanya cenderung formal dan satu arah. Kini, di bawah arahan Raja Charles dan Ratu Camilla—yang notabene lebih akrab dengan sorotan media massa—strategi komunikasi bergeser ke arah yang lebih hangat dan interaktif.
Data dari YouGov pada awal 2025 menunjukkan bahwa tingkat popularitas monarki di kalangan warga Inggris berusia 18-34 tahun terus menurun. Hanya 37% dari kelompok usia tersebut yang menyatakan dukungan kuat terhadap institusi kerajaan, dibandingkan 62% pada kelompok usia di atas 55 tahun. Celah generasi ini menjadi alarm. Menghadirkan konten video yang relevan di platform yang digemari anak muda adalah salah satu upaya menjembatani jurang tersebut.
Selain itu, kompetisi untuk mendapatkan perhatian publik semakin sengit. Kerajaan-kerajaan Eropa lain, seperti Kerajaan Belanda dan Spanyol, telah lebih dulu aktif di TikTok dengan pendekatan yang ringan. Akun resmi Keluarga Kerajaan Inggris saat ini memang sudah memiliki jutaan pengikut, tetapi tingkat interaksi relatif rendah karena konten yang dianggap terlalu kaku. Videografer baru diharapkan menjadi katalis perubahan itu.
Respons Publik dan Antusiasme Kreator
Begitu lowongan ini mencuat di media sosial, tagar #RoyalVideographer sempat menjadi trending topic di Inggris. Banyak kreator konten yang berbagi tangkapan layar iklan tersebut sambil bercanda bahwa mereka akan mengirimkan lamaran. Namun di balik candaan, ada diskusi serius tentang bagaimana seharusnya keluarga kerajaan merepresentasikan diri di era digital.
"Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tapi tantangannya besar: bagaimana membuat konten yang modern tanpa kehilangan martabat institusi? Itu keseimbangan yang rumit," kata Alex Morris, seorang videografer lepas yang berbasis di London, dalam wawancara dengan BBC.
Para pengamat media menilai bahwa langkah ini cukup berani. Ada risiko bahwa upaya tampil 'kekinian' justru menuai kritik karena dianggap tidak pantas. Namun di sisi lain, inertness atau berdiam diri bisa lebih berbahaya dalam jangka panjang. John Harrington, pakar komunikasi politik dari King’s College London, menyebutkan bahwa "monarki yang tidak beradaptasi akan dianggap sebagai museum hidup, kehilangan koneksi emosional dengan warga negaranya."
Proses Rekrutmen dan Harapan ke Depan
Lamaran untuk posisi ini dibuka hingga pertengahan November 2025. Proses seleksi diperkirakan akan sangat ketat, melibatkan tes portofolio, wawancara dengan tim komunikasi istana, hingga background check menyeluruh mengingat sensitivitas akses yang diberikan. Hanya pelamar yang mampu menunjukkan kombinasi keahlian teknis, kreativitas tinggi, dan pemahaman mendalam tentang etiket kerajaan yang akan dipertimbangkan.
Jika berhasil, penunjukan ini bisa menjadi preseden. Mungkin di masa depan kita akan melihat posisi-posisi digital lain di lingkungan Kerajaan: manajer komunitas, analis data media sosial, bahkan kreator filter AR untuk Instagram. Semua itu menggambarkan bahwa monarki Inggris, setidaknya di bawah Charles III, tidak takut menapaki jalan yang belum terpetakan—selama ada kamera yang merekam setiap langkahnya.
[SOCIAL_TWEET]: Siapa bilang kerja di istana harus jadi bangsawan? 👑 Raja Charles III buka lowongan videografer dengan gaji Rp1,2 M! Kesempatan langka buat kreator konten yang mau ceritakan kisah kerajaan lewat lensa fresh. #RoyalVideographer #LowonganKerja [SOCIAL_TG]: 🔥 Lowongan Kerja Impian: Videografer Kerajaan Inggris Gaji Rp1,2 M! Raja Charles III mencari kreator video handal untuk memodernisasi konten kerajaan. Tugasnya: mengemas momen-momen bersejarah jadi konten viral yang menyentuh generasi muda. Minat?
Comments (0)