Indonesia Peringkat Empat Negara Paling Anti-Israel, AS Tumbang dari Belgia
Dua peristiwa yang tampak tak berkaitan—sebuah survei opini global dan kekalahan telak di lapangan hijau—ternyata menyimpan benang merah yang sama: batas k
Dua peristiwa yang tampak tak berkaitan—sebuah survei opini global dan kekalahan telak di lapangan hijau—ternyata menyimpan benang merah yang sama: batas kekuasaan politik dalam membentuk realitas internasional. Di satu sisi, Pew Research Center merilis data mengejutkan tentang sentimen anti-Israel yang mengakar kuat di Indonesia. Di sisi lain, Amerika Serikat harus menelan pil pahit kekalahan 4-1 dari Belgia di Piala Dunia 2026, meskipun Presiden Donald Trump telah melakukan intervensi langsung dengan menghubungi FIFA. Kedua narasi ini bertemu dalam satu pelajaran penting: diplomasi dan tekanan politik tidak selalu mampu membengkokkan kenyataan di lapangan, baik itu opini publik maupun skor pertandingan.
Potret Sentimen Global: Indonesia dan Penolakan Terhadap Israel
Survei berskala global yang dilakukan Pew Research Center menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia sebagai negara dengan pandangan paling negatif terhadap Israel. Sebanyak 86% responden Indonesia menyatakan memiliki pandangan tidak menyukai negara tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik kering—ia merupakan cerminan dari sikap politik luar negeri Indonesia yang secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina sejak era Soekarno hingga pemerintahan saat ini.
Yang menarik, survei ini hadir bersamaan dengan maraknya aksi solidaritas untuk Palestina di berbagai kota besar Indonesia. Salah satu demonstrasi terbesar terjadi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Massa yang hadir tidak hanya menyuarakan dukungan untuk Palestina, tetapi juga mengkritik peran AS yang dianggap bias dalam konflik Timur Tengah. Paradoksnya, di saat yang sama AS justru sedang berjuang di arena internasional yang sama sekali berbeda: Piala Dunia 2026.
Ketika Diplomasi Tidak Cukup: AS Tumbang 4-1 dari Belgia
Di tengah gegap gempita Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Utara, tim nasional Amerika Serikat menghadapi kenyataan pahit. AS kalah telak 4-1 dari Belgia dalam pertandingan yang menjadi sorotan bukan hanya karena skornya, tetapi karena ada drama politik di baliknya. Presiden Donald Trump, yang dikenal dengan gaya diplomasi transaksionalnya, dikabarkan telah menghubungi FIFA sebelum pertandingan berlangsung. Langkah ini memicu spekulasi luas tentang apa yang sebenarnya dibicarakan dalam komunikasi tersebut.
Apakah Trump mencoba memengaruhi keputusan wasit? Atau sekadar memberikan dukungan moral kepada timnas? Yang jelas, hasil akhir di lapangan berbicara lebih keras daripada telepon apa pun. Belgia tampil dominan sepanjang 90 menit, sementara AS kesulitan mengembangkan permainan. Kekalahan ini menjadi tamparan simbolis bagi gagasan bahwa kekuatan politik seorang presiden adidaya bisa menjangkau hingga ke rumput hijau stadion.
"Survei Pew dan kekalahan AS dari Belgia sama-sama menunjukkan bahwa ada realitas yang tidak bisa dinegosiasikan—baik itu sentimen publik yang terbentuk oleh sejarah panjang solidaritas, maupun hasil pertandingan yang ditentukan oleh performa di lapangan. Politik punya batasnya," ujar seorang analis hubungan internasional yang enggan disebut namanya.
Membaca Dua Peristiwa dalam Satu Bingkai
Jika ditarik lebih jauh, kedua peristiwa ini menawarkan refleksi yang tajam tentang keterbatasan pengaruh politik dalam ranah yang berbeda. Di Indonesia, sentimen anti-Israel bukanlah produk propaganda sesaat, melainkan akumulasi dari dekade-dekade solidaritas terhadap Palestina yang telah menjadi bagian dari identitas diplomatik bangsa. Tidak ada tekanan eksternal—baik dari AS maupun negara lain—yang mampu menggeser posisi ini secara signifikan. Survei Pew Research Center menegaskan bahwa opini publik memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada manuver politik jangka pendek.
Sementara itu, kekalahan AS dari Belgia menjadi pengingat bahwa olahraga, khususnya sepak bola, memiliki logika internal yang tidak tunduk pada hierarki kekuasaan global. Meskipun AS adalah tuan rumah Piala Dunia 2026 dan presidennya melakukan kontak langsung dengan FIFA, skor akhir tetap ditentukan oleh 22 pemain di lapangan, bukan oleh siapa yang menelepon siapa. Belgia, sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa, membuktikan bahwa kualitas teknis dan taktik tidak bisa digantikan oleh lobi politik.
Kedua narasi ini pada akhirnya menyampaikan pesan yang senada: realitas punya caranya sendiri untuk menegaskan diri. Baik itu dalam bentuk angka survei yang konsisten dari tahun ke tahun, maupun dalam bentuk gol-gol yang bersarang di gawang. Dunia menyaksikan bahwa pengaruh—entah itu dalam bentuk opini publik atau performa olahraga—tidak selalu bisa dibentuk oleh kekuasaan politik semata.
Ke depan, tantangan bagi negara-negara seperti AS adalah memahami bahwa soft power tidak bisa dipaksakan. Dukungan terhadap Israel yang menjadi kebijakan luar negeri AS selama ini justru berkontribusi pada sentimen negatif di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Sementara itu, ambisi untuk mendominasi panggung sepak bola dunia membutuhkan investasi jangka panjang dalam pembinaan, bukan sekadar telepon ke petinggi FIFA. Dua pelajaran dari dua peristiwa yang terpisah, namun berbicara dalam bahasa yang sama: kenyataan tidak bisa dinegosiasikan.
[SOCIAL_TWEET]: Survei Pew: 86% warga Indonesia berpandangan negatif terhadap Israel, peringkat 4 dunia. Di saat yang sama, AS kalah 4-1 dari Belgia meski Trump hubungi FIFA. Dua peristiwa, satu pelajaran: realitas tak bisa dinegosiasikan oleh kekuasaan politik. #Indonesia #PewResearch #PialaDunia2026 #Trump[SOCIAL_TG]: 📊 Survei Pew Research Center: 86% warga Indonesia berpandangan negatif terhadap Israel—peringkat 4 dunia! ⚽️ Di sisi lain, AS kalah 4-1 dari Belgia di Piala Dunia 2026 meski Trump hubungi FIFA. Dua peristiwa beda benua, satu pesan: politik ada batasnya.
Comments (0)