Bukan Soal Ekonomi, Anak Muda Kini Ogah Menikah

Fenomena menurunnya angka pernikahan di kalangan anak muda bukan lagi sekadar isu ekonomi. Survei terbaru menunjukkan bahwa generasi Milenial dan Gen Z mem

Jul 11, 2026 - 16:31
0 0
Bukan Soal Ekonomi, Anak Muda Kini Ogah Menikah

Fenomena menurunnya angka pernikahan di kalangan anak muda bukan lagi sekadar isu ekonomi. Survei terbaru menunjukkan bahwa generasi Milenial dan Gen Z memiliki pandangan yang berbeda terhadap institusi pernikahan. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai sebuah kewajiban sosial, melainkan pilihan personal yang bisa ditunda—bahkan dihindari sama sekali.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka pernikahan di Indonesia terus menurun dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2013, jumlah pernikahan mencapai 2,2 juta, sementara pada 2024 turun drastis menjadi 1,8 juta. Penurunan ini bukan hanya karena tekanan ekonomi, tetapi juga karena pergeseran nilai yang mendasar.

Bukan Lagi Soal Uang

Banyak pihak berasumsi bahwa alasan utama anak muda enggan menikah adalah beban finansial. Namun, riset terbaru justru membantah asumsi itu. Pendapatan per kapita masyarakat terus meningkat, namun angka pernikahan tetap merosot. "Kalau hanya soal uang, seharusnya ketika ekonomi membaik, orang kembali menikah. Tapi ini tidak terjadi," ujar Dr. Rina Wijaya, sosiolog dari Universitas Indonesia, dalam wawancara dengan Beritaseputar.com (6/6).

"Yang terjadi adalah perubahan orientasi hidup. Bagi banyak anak muda, pernikahan bukan lagi penanda kedewasaan. Mereka lebih memilih fokus pada pengembangan diri, karier, dan kebebasan pribadi."

Otonomi dan Karier Jadi Prioritas

Generasi muda saat ini dibesarkan dengan nilai-nilai individualisme yang lebih kuat. Mereka melihat pernikahan sebagai komitmen yang berpotensi membatasi ruang gerak. Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Riset Sosial Masyarakat (LRSM) pada 2025, 68% responden usia 22–35 tahun mengaku lebih memprioritaskan karier dan kebebasan pribadi daripada membangun rumah tangga. Hanya 32% yang masih menganggap pernikahan sebagai target hidup utama.

"Saya mau menikah bukan karena tekanan, tapi karena siap. Dan sepertinya saya belum siap," kata Alya, 28 tahun, pekerja kreatif. Bagi Alya dan banyak teman sebayanya, fear of missing out (FOMO) terhadap pengalaman hidup lebih besar daripada ketakutan melajang di usia tua.

Takut Perceraian dan Trauma Masa Lalu

Fenomena tingginya angka perceraian juga mempengaruhi pola pikir anak muda. Indonesia mencatatkan rekor perceraian tertinggi pada 2023, dengan 450.000 kasus yang diputus pengadilan agama. Banyak anak muda yang berasal dari keluarga broken home mengalami trauma dan enggan mengulang pola yang sama. Mereka memilih berhati-hati, bahkan menghindari ikatan pernikahan formal.

Pola hubungan alternatif seperti living together atau kohabitasi semakin diterima secara sosial. Di kota-kota besar, stigma terhadap pasangan yang tinggal bersama tanpa menikah semakin luntur. Hal ini semakin memperkuat tren penundaan pernikahan.

Media Sosial dan ‘Fear of Divorce’

Media sosial turut memperkuat keengganan menikah. Konten tentang pengalaman pahit pernikahan, perselingkuhan, hingga drama rumah tangga viral dan membentuk opini negatif. Algoritma seringkali menyajikan konten yang memicu ketakutan, membuat anak muda semakin ragu. "Generasi sekarang melihat pernikahan dari kacamata Instagram dan TikTok. Mereka terpapar sisi buruk pernikahan lebih banyak daripada keindahannya," ujar psikolog klinis Rizki Pratama.

Dampak Jangka Panjang

Pergeseran ini membawa konsekuensi demografis yang serius. Rasio kelahiran total (TFR) Indonesia turun ke 1,9 pada 2025, di bawah angka pengganti. Jumlah lansia diproyeksikan melonjak, sementara populasi usia produktif menyusut. Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang mendorong generasi muda untuk membangun keluarga tanpa mengabaikan aspirasi pribadi mereka.

Bagaimanapun, pernikahan tetap menjadi pondasi sosial yang penting, tetapi definisinya bisa berubah. Masyarakat perlu menerima bahwa pernikahan bukan lagi satu-satunya pilihan, dan menghormati keputusan setiap individu.

[SOCIAL_TWEET]: Angka pernikahan turun drastis, tapi bukan karena ekonomi. Anak muda lebih pilih karier dan kebebasan. Lalu, bagaimana nasib demografi kita? #NikahMuda #GenZ #TrenSosial[SOCIAL_TG]: 📉 Angka pernikahan merosot, bukan karena uang, tapi karena pergeseran nilai. Anak muda kini lebih cinta kebebasan. Dampaknya? Populasi lansia bisa meledak. 👥 Baca selengkapnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User