Momen Haru Poppy Sovia di Peluncuran Aku Sebelum Aku
Suasana di ruang konferensi itu tiba-tiba berubah hening. Sabtu siang di Jakarta, tepat pada 11 Juli 2026, lampu sorak masih menyala terang, namun fokus puluhan pasang mata tertuju pada sosok perempua...
Suasana di ruang konferensi itu tiba-tiba berubah hening. Sabtu siang di Jakarta, tepat pada 11 Juli 2026, lampu sorak masih menyala terang, namun fokus puluhan pasang mata tertuju pada sosok perempuan yang baru saja menghapus sudut matanya dengan punggung tangan. Poppy Sovia—nama yang lebih sering kita kenal lewat karakter-karakter kuat di layar—siang itu berdiri bukan sebagai pemeran, melainkan sebagai manusia seutuhnya yang sedang membagikan fragmen paling rapuh dalam hidupnya.
Momen hening itu menandai pengakuan jujurnya tentang proses syuting Aku Sebelum Aku, sebuah proyek yang digarap bersama Netflix dan menjadi tonggak baru dalam perjalanan kariernya. Bukan perkara mudah membicarakan luka yang telah lama dipendam. Namun di sanalah letak kekuatan kisah ini bermula.
Perjalanan Menuju Diri Sendiri
Di balik layar produksi yang serba profesional, tersimpan kisah personal yang membuat para awak media yang hadir ikut menitikkan air mata. Poppy mengisahkan bagaimana proyek ini memaksanya menyelami sudut masa lalu yang selama ini sengaja dikuncinya rapat-rapat. Sebuah perjuangan yang tak lagi bicara soal akting, melainkan tentang keberanian untuk menyapa luka yang belum sepenuhnya kering.
"Saya kira saya sudah sembuh," ucapnya lirih di atas panggung, suaranya sedikit bergetar sebelum melanjutkan. "Ternyata saya hanya pandai menghindar."
Kesederhanaan kalimat itu justru menjadi pukulan telak bagi banyak orang di ruangan. Di sinilah kekuatan Aku Sebelum Aku sesungguhnya bersemayam: bukan pada plot besar atau efek visual mewah, melainkan pada kejujuran yang telanjang tentang kondisi manusia. Poppy, yang sebelumnya dikenal sebagai aktris dengan kemampuan olah rasa mendalam, justru mengaku kali ini ia tidak bisa lagi membedakan mana karakter dan mana dirinya sendiri.
Mimpi yang Lahir dari Rasa Sakit
Bercerita tentang mimpi kadang tak selalu bermula dari ambisi yang membara. Bagi Poppy, proyek ini lahir dari ruang sunyi yang menyimpan banyak pertanyaan tanpa jawaban. Ia ingin membuat sesuatu yang bisa menjadi teman bagi mereka yang merasa sendirian dalam pergulatan batinnya. Sebuah inspirasi sederhana yang muncul justru ketika ia sedang berada di titik paling rendah dalam hidupnya.
"Aku hanya ingin bilang ke orang-orang di luar sana: kamu tidak sendiri," katanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi. Di hadapannya, deretan kursi wartawan terlihat beberapa kali saling pandang, seolah ikut larut dalam gelombang emosi yang tak terduga.
Proses kreatifnya sendiri bukan tanpa hambatan. Ada hari-hari ketika ia harus menghentikan syuting lebih awal karena tangis yang tak bisa ditahan. Ada sesi diskusi naskah yang justru berubah menjadi sesi terapi dadakan. Poppy menceritakan itu semua bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk menunjukkan bahwa bangkit dari keterpurukan adalah proses yang berantakan, penuh air mata, dan tak pernah linier.
Berkaca pada Masa Depan
Menjelang akhir konferensi pers, ketika sesi tanya jawab dibuka, seorang jurnalis muda bertanya tentang apa yang ingin disampaikan Poppy kepada dirinya sendiri di masa lalu. Pertanyaan itu kembali memancing keheningan. Poppy terdiam selama beberapa detik, lalu tersenyum—senyum pertama yang benar-benar tulus sepanjang siang itu.
"Aku akan bilang, 'Terima kasih sudah bertahan. Di masa depan, semua akan jadi masuk akal'," jawabnya pelan, dan kali ini ia tidak lagi menghapus air matanya. Ia membiarkan satu butir bening itu jatuh di pipinya yang mulai memerah. Momen menyentuh ini seketika memenuhi ruangan dengan perasaan hangat yang sulit diungkapkan.
Aku Sebelum Aku bukan sekadar judul film atau proyek kolaborasi dengan platform global. Ia adalah cermin yang dengan berani dipilih Poppy untuk menatap bayangan dirinya sendiri, tanpa riasan, tanpa skenario yang bisa ia kontrol. Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa terkadang, untuk menemukan versi terbaik diri kita, kita harus berdamai dengan versi yang paling hancur sekalipun.
Di sudut lain panggung, layar besar yang sejak awal menampilkan poster resmi film itu seolah menjadi saksi bisu. Siang itu, Poppy Sovia tidak hanya mempromosikan sebuah tontonan. Ia membuka pintu ke dalam dirinya sendiri, mengundang kita semua untuk menyaksikan bahwa menjadi manusia artinya terluka, bertumbuh, dan terus berusaha memahami diri—persis seperti judul yang kini terpampang dengan gagah di belakangnya.
Baca juga:
Comments (0)