Dari Tepian Sungai Kuantan, Diva Menyanyikan Harapan di D'Academy 8

Pagi masih tipis di tepian Sungai Kuantan. Kabut turun pelan, menari di atas permukaan air yang tenang. Di sebuah rumah papan sederhana, seorang gadis duduk bersila di beranda. Matanya setengah terpej...

Jul 12, 2026 - 21:48
0 0
Dari Tepian Sungai Kuantan, Diva Menyanyikan Harapan di D'Academy 8

Pagi masih tipis di tepian Sungai Kuantan. Kabut turun pelan, menari di atas permukaan air yang tenang. Di sebuah rumah papan sederhana, seorang gadis duduk bersila di beranda. Matanya setengah terpejam, sementara suara seraknya merambatkan notasi-notasi cengkok dangdut klasik. Di tangan kanannya, gagang sapu lusuh menjelma mikrofon, sementara jemari kirinya mengetuk-ngetuk lantai kayu menirukan ketukan tabla. Itulah Diva, sebelum mentari meninggi dan ia harus membantu ibunya menggoreng pisang di dapur sempit, sudah lebih dulu menyematkan mimpinya di langit-langit pagi. Bagi sebagian orang, suara yang keluar dari mulutnya hanyalah senandung iseng. Namun bagi gadis asal Kuantan Singingi, Riau itu, setiap nada adalah doa yang ia panjatkan.

Suara dari Kampung Kecil

Diva lahir dan tumbuh di sebuah desa yang lebih sering mendengar deru mesin perahu ketimbang gemuruh tepuk tangan. Ayahnya seorang penyadap karet yang berangkat sebelum subuh dan pulang ketika matahari sudah condong ke barat. Ibunya berjualan gorengan keliling, menggendong baskom di atas kepala menyusuri jalan tanah. Dari radio tua bermerek usang peninggalan kakeknya, Diva kecil pertama kali mendengar lengkingan biduan legendaris. Lagu-lagu Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, dan Evie Tamala ia hafal di luar kepala, bahkan sebelum ia bisa membaca. Namun jalannya tak mulus. Di kampungnya, menyanyi dangdut sering dipandang sebelah mata. 'Ngapain sih nyanyi begitu? Mending bantu-bantu di rumah,' begitu bisik-bisik yang kadang mampir ke telinganya. Diva memilih tersenyum. Setiap malam, saat listrik kadang padam dan hanya pelita yang menyala, ia duduk di bawah pohon sawit belakang rumah, menyanyikan lagu-lagu kesayangannya pada kunang-kunang yang menjadi satu-satunya penonton setia.

Keberangkatan yang Mengharukan

Momen itu tiba ketika seorang guru seni di sekolah menengah merekam suaranya menggunakan ponsel butut dan mengirimkannya ke sebuah komunitas musik di Pekanbaru. Rekamannya menyebar dari satu grup obrolan ke grup lain, hingga akhirnya seorang panitia audisi D'Academy 8 menghubunginya. Diva tak percaya. Untuk pertama kalinya ia harus meninggalkan desa, naik bus antarkota selama hampir dua belas jam, menuju kota besar yang gemerlap. Uang seadanya diselipkan ibunya di dalam amplop cokelat, bersama selembar doa yang ditulis tangan. Di terminal yang riuh, Diva menggenggam erat tas ranselnya, menahan air mata saat bus mulai bergerak. Di sepanjang perjalanan, ia memandangi hamparan kebun sawit yang perlahan berganti gedung-gedung tinggi. Dadanya berdebar bukan main. Yang ada di benaknya hanya satu: ia tak boleh pulang dengan tangan hampa.

'Saya ingin menyanyi untuk ibu saya. Biar ibu bisa berhenti menggendong baskom gorengan setiap subuh,' kata Diva dengan suara bergetar, tepat sebelum memasuki ruang audisi.

Di Bawah Sorot Lampu Panggung

Saat namanya dipanggil, Diva melangkah dengan lutut yang gemetar. Juri duduk di hadapannya, wajah-wajah yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi. Lampu sorot terasa panas, tapi ketika musik mulai mengalun dan ia membuka mulut, seluruh gugup itu luruh seketika. Suara merdunya mengisi ruangan, mengalirkan kisah perjuangan yang selama ini ia pendam. Para juri terpana. Sebuah standing ovation diberikan, dan satu per satu komentar membangun mengalir penuh pujian. Di luar studio, ibunya menunggu dengan ponsel yang terus berdering, sementara tetangga-tetangga berkerumun ingin tahu kabar. Ketika Diva akhirnya dinyatakan lolos ke babak selanjutnya, tangisnya pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan air mata seorang anak kampung yang mimpinya tiba-tiba saja menemukan panggung.

Kini, perjalanan Diva di D'Academy 8 masih berlanjut. Setiap akhir minggu, masyarakat Kuantan Singingi berkumpul di balai desa, menonton siaran langsung sambil membawa poster bertuliskan namanya. Diva menjadi simbol: bahwa dari tepian sungai yang sunyi, sebuah suara bisa melambung jauh melampaui riak air. Di setiap penampilannya, ia tak pernah lupa menyelipkan pesan sederhana: mimpi tak mengenal batas geografis. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mulai menyanyi, meski hanya pada kunang-kunang yang diam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User