Dari Desa, Merah Putih Menyala: Sawit dan Surya Kini Milik Koperasi

Sebelum mentari sepenuhnya merekah, Kusno sudah berdiri di tepi kebun sawitnya. Di ufuk timur, cahaya jingga perlahan mengusir gelap yang semalam menyelimuti dusun kecil di Sumatera itu. Jari-jarinya ...

Jul 12, 2026 - 22:00
0 0

Sebelum mentari sepenuhnya merekah, Kusno sudah berdiri di tepi kebun sawitnya. Di ufuk timur, cahaya jingga perlahan mengusir gelap yang semalam menyelimuti dusun kecil di Sumatera itu. Jari-jarinya yang kapalan menyentuh pelepah tua, dan matanya menerawang jauh—ke masa depan yang dulu hanya ada dalam mimpi. Di genggamannya, selembar kertas kumal bertuliskan “Koperasi Desa Merah Putih” menjadi saksi bisu bahwa hidup di pelosok negeri tak lagi hanya tentang bertahan, tetapi tentang berjuang dan bangkit bersama.

Langkah Baru dari Sudut Dusun

Kisah Kusno bukan sekadar cerita seorang petani. Ia adalah potret dari ribuan warga desa yang segera menyaksikan perubahan besar. Pemerintah, melalui Menteri Koperasi Ferry Juliantono, menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan diresmikan sejumlah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang tak lagi bermain di ranah konvensional. Koperasi ini sengaja dibentuk untuk menyentuh sektor-sektor yang sebelumnya dianggap hanya milik korporasi besar: perkebunan kelapa sawit dan pembangkit listrik tenaga surya.

“Ini bukan lagi tentang simpan pinjam yang itu-itu saja. Kami ingin koperasi hadir sebagai nadi ekonomi desa yang sesungguhnya,” ujar Menteri Ferry, suaranya bergetar oleh keyakinan yang dalam. Di balik layar, persiapan panjang telah dilakukan agar badan usaha milik warga ini benar-benar siap mengelola bisnis strategis yang selama ini hanya dinikmati segelintir pihak. “Saatnya energi desa menerangi negeri,” tambahnya, memicu tepuk tangan para kepala desa yang hadir dalam pertemuan itu.

Bukan Sekadar Simpan Pinjam

Selama bertahun-tahun, koperasi di desa seringkali hanya berkutat pada urusan simpan pinjam dengan skala kecil. Namun, KDMP hadir membawa napas baru. Dengan dukungan penuh pemerintah, koperasi ini akan merambah bisnis perkebunan kelapa sawit secara kolektif. Artinya, petani seperti Kusno tak lagi sendiri menghadapi tengkulak atau fluktuasi harga. Mereka akan memiliki pabrik mini, rantai pasok yang lebih pendek, dan yang terpenting, keuntungan yang kembali ke tangan sendiri.

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang menjadi sekretariat sementara, Kusno dan beberapa petani lain berkumpul. Papan tulis kecil penuh coretan menjadi saksi diskusi mereka tentang rendemen, harga tandan buah segar, hingga cara mengelola limbah cair. “Dulu saya jual sendiri, kadang untung, sering buntung. Sekarang, saya percaya koperasi ini akan jadi tameng bagi kami,” bisik Kusno, menahan haru. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga, menetes di atas kertas lusuh bertuliskan hitungan modal bersama.

Cahaya dari Desa

Tak berhenti di sawit, KDMP juga bersiap mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala desa. Bayangkan, atap-atap rumah, lahan kosong, dan bangunan fasilitas umum akan diubah menjadi “ladang” panel surya yang hasilnya menghidupi seluruh kampung. Inisiatif ini lahir dari kenyataan pahit bahwa masih banyak pelosok negeri yang gelap di malam hari, terputus dari jaringan listrik nasional.

“Dengan PLTS yang dikelola koperasi, kami tak hanya mendapat listrik, tetapi juga sumber pendapatan baru. Kelebihan daya bisa dijual, warga jadi pemilik sekaligus penikmat,” ujar Menteri Ferry, matanya berbinar seolah telah melihat desa-desa yang berpijar oleh energi sendiri. Di beberapa desa percontohan, anak-anak kini bisa belajar tanpa terganggu matinya genset, dan para perajin kecil bisa bekerja lebih lama tanpa takut tagihan listrik membengkak.

Momen Mengharukan di Balik Mimpi

Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat, seorang ibu bernama Martina datang ke sekretariat KDMP. Tangannya membawa rantang berisi singkong rebus, sekadar bentuk syukur karena koperasi akan segera meresmikan PLTS di desanya. “Cucu saya bisa belajar sampai malam, suami saya tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk beli solar buat genset. Air mata saya ini bukan karena sedih, tapi karena akhirnya mimpi yang kami pendam bertahun-tahun benar-benar terwujud,” tuturnya dengan suara bergetar.

Kisah Martina adalah cermin dari banyak keluarga di desa. Di balik angka-angka investasi dan teknis pembangunan, ada momen manusiawi yang menyentuh: lilin-lilin yang dulu menjadi saksi perjuangan belajar anak-anak desa, kini perlahan tergantikan oleh cahaya stabil dari panel surya milik bersama. Koperasi tak hanya membangun bisnis, tapi juga menyalakan harapan.

Bangkit Bersama Merah Putih

Nama “Merah Putih” bukan sekadar identitas, melainkan lambang keberanian (merah) dan kesucian niat (putih) untuk membangun desa secara mandiri. Pemerintah menegaskan bahwa koperasi ini akan terus diperluas hingga menjangkau ribuan desa lain di seluruh Indonesia. Sektor yang digarap pun akan semakin beragam, menyesuaikan potensi lokal masing-masing.

Bagi Kusno, Martina, dan jutaan warga desa lainnya, KDMP adalah jawaban atas doa panjang. Perjalanan memang baru dimulai, dan tantangan tentu akan datang. Namun, seperti fajar yang tak pernah ingkar janji menyapa bumi, semangat gotong royong yang menjadi ruh koperasi akan selalu menemani langkah mereka. Dari desa, merah putih menyala, menerangi negeri dengan kekuatan yang paling sederhana namun paling hakiki: kebersamaan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User