Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Konsumsi Domestik Diprediksi Menguat, Jadi Motor Ekonomi 2024

Pagi itu, gerobak sayur milik Sri (52), seorang pedagang di Pasar Minggu, kosong lebih cepat dari biasanya. “Alhamdulillah, hari ini habis sebelum jam semb

Jul 09, 2026 - 15:06
0 0
Konsumsi Domestik Diprediksi Menguat, Jadi Motor Ekonomi 2024

Pagi itu, gerobak sayur milik Sri (52), seorang pedagang di Pasar Minggu, kosong lebih cepat dari biasanya. “Alhamdulillah, hari ini habis sebelum jam sembilan. Biasanya sampai siang masih ada sisa,” ujarnya sambil tersenyum, tangannya cekatan merapikan uang receh. Bagi Sri, momen kecil seperti ini adalah sinyal. Sinyal bahwa para ibu rumah tangga berani merogoh dompet lebih dalam, bahwa para pelanggannya tak lagi menawar sekeras dulu, dan bahwa daya beli masyarakat perlahan pulih.

Cerita Sri bukan sekadar anekdot dari pinggir pasar. Cerita ini sejalan dengan proyeksi para ekonom bahwa aktivitas konsumsi domestik, tulang punggung perekonomian Indonesia, akan menguat signifikan pada 2024. Setelah beberapa tahun bergulat dengan ketidakpastian global, mesin ekonomi dalam negeri tampaknya akan kembali menderu, dipicu oleh inflasi yang mendingin, percepatan penyerapan tenaga kerja, dan membaiknya kepercayaan konsumen.

Napas Lega dari Dapur Rakyat

Bagi pasangan muda, Rizki dan Ayu, stabilnya harga adalah alasan utama untuk kembali merancang impian kecil mereka. Tahun lalu, rencana merenovasi dapur harus ditunda karena harga material melonjak. “Kami lihat harga semen dan cat mulai stabil, harga cabai dan bawang juga nggak naik gila-gilaan lagi. Jadi, sisa uang belanja bisa dialokasikan untuk renovasi,” jelas Rizki, karyawan swasta di kawasan Sudirman. Perhitungan sederhana ini diamini jutaan rumah tangga. Dengan inflasi yang terkendali, ruang fiskal keluarga bertambah. Yang semula habis untuk kebutuhan pokok, kini menyisakan porsi untuk kebutuhan sekunder, seperti elektronik baru atau liburan singkat ke luar kota.

“Kami amati ada pergeseran pola pengeluaran,” kata Ratna Dewi, ekonom independen yang selama ini fokus pada riset perilaku konsumen. “Ketika inflasi pangan dan energi tidak lagi menjadi hantu, kelas menengah mulai berani melakukan discretionary spending. Ini krusial karena kelas menengah adalah motor konsumsi terbesar kita.”

“Ketika inflasi pangan dan energi tidak lagi menjadi hantu, kelas menengah mulai berani melakukan discretionary spending. Ini krusial karena kelas menengah adalah motor konsumsi terbesar kita.”
— Ratna Dewi, ekonom

Lebih dari Sekadar Angka: Wajah di Balik Lapangan Kerja

Penguatan konsumsi tak bisa dilepaskan dari meningkatnya penciptaan lapangan kerja. Di kawasan industri Cikarang, pabrik garmen yang sempat merumahkan separuh karyawannya kini kembali membuka lowongan. Darno, supervisor produksi, menceritakan bagaimana raut wajah para buruh berubah. “Dulu mereka sering menunduk lesu waktu istirahat. Sekarang, ada senyum dan cerita tentang rencana beli baju Lebaran lebih awal, atau mengajukan kredit motor kecil.” Dari sini, efek domino terlihat jelas: satu orang kembali bekerja berarti satu keluarga kembali memiliki pendapatan, kembali berbelanja, kembali menghidupkan warung-warung di sekitar.

Data resmi memang belum sepenuhnya bercerita, namun proyeksi pemerintah dan Bank Indonesia menyebutkan penyerapan tenaga kerja di sektor padat karya, UMKM, dan ekonomi digital akan menjadi titik terang di 2024. Program kartu prakerja yang diperbaiki dan kemudahan perizinan usaha diharapkan kian memicu geliat wirausaha. Pada level akar rumput, Bu Sri adalah buktinya: semakin banyak yang bekerja, semakin laris dagangannya.

UMKM: Katup Optimisme Baru

Di sudut lain Jakarta, Dani, pemilik kedai kopi kecil di Tebet, merasakan langsung denyut ekonomi yang mulai normal. “Ramainya konsumen sudah seperti sebelum pandemi. Bedanya, sekarang mereka lebih pintar memilih, tapi tetap mau keluar uang untuk pengalaman dan kualitas,” ujarnya. Dani baru saja melunasi pinjaman modal usaha mikro yang diambilnya tiga tahun lalu, dan berencana menambah satu outlet baru. Keputusan yang dulu dianggap gegabah, kini terasa lebih rasional. Sebab, optimisme tak lagi dibangun di atas mimpi, melainkan di atas catatan omzet yang pelan-pelan naik.

Para pelaku UMKM seperti Dani merepresentasikan poros harapan. Mereka tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga menjadi barometer kepercayaan konsumen. Ketika seseorang rela antre untuk secangkir kopi seharga Rp35.000, itu pertanda bahwa ketakutan akan resesi mulai luntur.

Meski tantangan global berupa perlambatan ekonomi mitra dagang dan harga komoditas yang volatil tetap mengintai, Indonesia tampaknya akan bertumpu pada kekuatan dari dalam. Penguatan konsumsi bukanlah cerita tentang indeks kepercayaan belaka, melainkan tentang senyum Bu Sri yang pulang lebih cepat, tentang Rizki dan Ayu yang akhirnya memesan keramik dapur mungil itu, tentang Darno yang melihat para buruh berjalan tegap, dan tentang Dani yang berani bermimpi membuka cabang kedua. Semua adalah keping-keping nyata dari narasi besar bernama pertumbuhan ekonomi.

Dengan fondasi daya beli yang terjaga, inflasi yang jinak, dan penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan, 2024 diharapkan menjadi tahun di mana mimpi-mimpi kecil itu menemukan panggungnya kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User