Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Kondisi Terkini Es Abadi di Puncak Jaya

Laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua, terus mengalami penyusutan drastis dari tahun ke tahun. Berdasarkan pema

Jul 08, 2026 - 04:35
0 0
Kondisi Terkini Es Abadi di Puncak Jaya

Laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua, terus mengalami penyusutan drastis dari tahun ke tahun. Berdasarkan pemantauan terkini, tutupan es di puncak tertinggi di Indonesia itu diprediksi akan lenyap sepenuhnya pada akhir tahun 2026 atau paling lambat awal tahun 2027. Kehilangan ini bukan hanya menjadi catatan sejarah iklim nasional, tetapi juga menandai titik kritis dampak pemanasan global di wilayah tropis.

BRIN Tegaskan Es Tak Akan Kembali

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui peneliti astronomi dan klimatologinya, Profesor Thomas Djamaluddin, memberikan konfirmasi yang mengejutkan: es yang telah mencair dari Puncak Jaya tidak akan pernah terbentuk kembali. Dalam keterangannya kepada media kami pada Sabtu (4/7/2026), ia menekankan bahwa kenaikan suhu global yang terus berlangsung menjadi faktor penentu yang tak terelakkan.

"Kalau es menghilang di Puncak Jaya tidak mungkin lagi kembali karena temperatur global terus meningkat, jadi makin panas," ujar Profesor Thomas Djamaluddin.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meskipun ada upaya konservasi atau perubahan pola cuaca lokal, pemanasan global berskala planet tidak memungkinkan suhu di ketinggian tersebut kembali ke ambang yang dibutuhkan untuk membentuk lapisan es permanen.

Pemicu Utama: Pemanasan Global dan Umpan Balik Lingkungan

Profesor Thomas menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari lingkaran setan perubahan iklim. Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mendorong kenaikan suhu rata-rata bumi, yang kemudian mempercepat pencairan es di berbagai belahan dunia, termasuk di pegunungan tropis seperti Puncak Jaya. Es yang mencair tidak hanya menghilangkan cadangan air tawar, tetapi juga mengurangi efek albedo—kemampuan permukaan es memantulkan kembali radiasi matahari ke luar angkasa. Ketika es digantikan oleh batuan gelap, lebih banyak panas diserap, sehingga suhu lokal semakin meningkat dan memperparah laju pencairan.

Menurut data yang dirangkum media kami, lapisan es di Puncak Jaya telah menyusut hingga lebih dari 90% dalam tiga dekade terakhir. Jika pada awal 1990-an masih terdapat sekitar 200 hektar hamparan es, kini luasnya diperkirakan kurang dari 10 hektar dan terus berkurang setiap bulan.

Dampak Ekologis dan Sosial

Hilangnya es abadi di Puncak Jaya tidak hanya berdampak pada ekosistem lokal yang bergantung pada aliran air dari lelehan es, tetapi juga menjadi alarm bagi komunitas global. Kawasan Papua yang kaya keanekaragaman hayati sangat sensitif terhadap perubahan ketersediaan air tawar. Selain itu, bagi masyarakat adat di sekitar pegunungan, es abadi memiliki nilai kultural dan spiritual yang mendalam. Kepunahan es ini menjadi simbol nyata dari perubahan iklim yang kini sudah berada di depan mata.

BRIN bersama lembaga terkait terus melakukan pemantauan dan penelitian untuk mendokumentasikan proses pencairan ini. Meski tidak mungkin mengembalikan es yang hilang, data yang dikumpulkan diharapkan bisa menjadi dasar pengembangan strategi adaptasi perubahan iklim di wilayah rawan bencana iklim di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Komunitas. Reporter cerita komunitas dan tren lokal.

Comments (0)

User