Irjen Pol. Yudhiawan Wibisono: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Utara

Irjen Pol. Yudhiawan Wibisono: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Utara

Jul 12, 2026 - 11:19
Updated: 2 hours ago
0 0
Irjen Pol. Yudhiawan Wibisono: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Utara

Di sudut lapangan kecil kompleks Mapolda Sulawesi Utara, pagi itu, seorang lelaki bertubuh tegap berhenti sejenak dari rutinitas larinya. Ia tak berkata banyak. Hanya menepuk bahu seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu, lalu memungut selembar bungkus permen yang terlewat, dan memasukkannya ke tong sampah terdekat. Adegan itu berlangsung kurang dari dua menit, dan boleh jadi luput dari perhatian banyak orang. Tapi bagi Bripda Jefri, petugas kebersihan itu, gestur kecil itu berbicara banyak tentang siapa komandannya yang baru.

Nama komandan itu adalah Irjen Pol. Yudhiawan Wibisono. Sejak dilantik sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara pada penghujung 2024, ia membawa serta bukan cuma bintang dua di pundak, melainkan juga semacam kesunyian yang bekerja. Ia bukan tipe polisi yang gemar tampil di panggung dengan retorika berapi-api. Ia lebih suka hadir: di lapangan, di tengah warga, di balik meja kerjanya yang dipenuhi peta kerawanan dan laporan intelijen pagi hari.

Akar dari Tanah Pasundan

Lahir di Bandung pada 17 Maret 1969, Yudhiawan adalah produk asli Akademi Kepolisian angkatan 1992—sebuah generasi yang ditempa di era transisi dan menyaksikan bagaimana Polri perlahan melepaskan diri dari bayang-bayang Angkatan Bersenjata. Seperti banyak perwira tinggi lainnya, kariernya dibangun dari bawah: dari tugas operasional di lapangan, hingga menempati pos-pos strategis di bidang sumber daya manusia.

Satu hal yang membedakannya adalah porsi panjang pengabdiannya di fungsi SDM. Ia pernah menjabat sebagai Karo SDM Polda Metro Jaya, Kepala Biro Pengkajian dan Pengembangan SSDM Polri, hingga Kepala Divisi Hukum Polri. Rekam jejak ini membentuknya menjadi pemimpin yang punya kepekaan tinggi terhadap personelnya. Bagi Yudhiawan, seorang polisi yang lapar atau anaknya yang sakit di rumah, adalah urusan negara—bukan sekadar urusan pribadi. Maka, tak heran jika di awal masa jabatannya di Sulawesi Utara, program kesejahteraan personel menjadi salah satu titik tekan pertama yang ia gaungkan dalam rapat-rapat terbatas.

Menata Ulang Rasa Aman

Sulawesi Utara adalah provinsi dengan mozaik keamanan yang tak sederhana. Di satu sisi, Manado dan Bitung adalah kota-kota yang terus bertumbuh, dengan denyut ekonomi yang menuntut stabilitas. Di sisi lain, ada garis perbatasan dengan Filipina yang selalu menyimpan potensi kerawanan, mulai dari penyelundupan hingga ancaman terorisme lintas negara.

Di sinilah gaya kepemimpinan Yudhiawan mulai menemukan bentuknya. Ia tidak memilih pendekatan keamanan yang sekadar reaktif—menunggu kejadian lalu bertindak. Sebaliknya, ia mendorong apa yang ia sebut sebagai "pemolisian yang mendengarkan."

"Kita tidak bisa memaksakan keamanan kalau masyarakat tak merasa memiliki. Tugas kita menghadirkan polisi yang jadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,"

begitu sebuah kalimat yang sering ia lontarkan dalam sesi tatap muka dengan tokoh masyarakat dan mahasiswa.

Salah satu wujud konkret dari visi ini adalah penguatan program Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Di bawah komandonya, para Bhabinkamtibmas tak hanya bertugas sebagai pengumpul informasi, melainkan juga sebagai mediator konflik lahan dan pemuda. Data internal Polda Sulut mencatat, sepanjang tahun 2025, keberhasilan mediasi konflik sosial di tingkat desa dan kelurahan meningkat hingga 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya—sebuah angka yang signifikan untuk wilayah dengan potensi gesekan horizontal yang cukup tinggi.

Melawan Kejahatan Transnasional dengan Kolaborasi

Namun, kerja yang paling senyap dan paling menantang berada di perairan. Sulawesi Utara adalah pintu masuk. Selama tahun 2025, Polda Sulawesi Utara di bawah komandonya berhasil menggagalkan setidaknya tiga upaya penyelundupan narkotika berskala besar melalui jalur laut. Dalam konferensi pers yang digelar di Dermaga Bitung, wajah Yudhiawan tidak menunjukkan sorak-sorai kemenangan. Ia justru lebih banyak berbicara tentang bagaimana jaringan ini terhubung dengan sindikat internasional, dan betapa kolaborasi dengan Philippine National Police serta Australian Federal Police menjadi kunci yang tak terhindarkan.

Di sinilah pengalamannya di Divisi Hukum Polri berperan penting. Ia memahami betul seluk-beluk perjanjian internasional dan mutual legal assistance, sehingga penanganan kasus-kasus ini tak berhenti di penangkapan, melainkan berlanjut ke pengembangan yang lebih luas. Ini adalah bentuk baru dari polisi modern: bukan lagi sekadar penembak jitu, melainkan pemimpin yang piawai merangkai strategi global di ruang rapat.

Tantangan yang Belum Usai

Tentu, tak ada kepemimpinan yang berjalan mulus-mulus saja. Salah satu ujian berat baginya adalah membangun kembali kepercayaan publik yang sempat retak akibat beberapa insiden yang melibatkan oknum anggota di tahun-tahun sebelumnya. Yudhiawan meresponsnya dengan cara yang khas: transparan. Ia meminta Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) bekerja lebih cepat dalam menangani laporan masyarakat, sekaligus membuka ruang pengaduan yang lebih luas.

  • Memperkuat pengawasan internal terhadap pelanggaran anggota
  • Meningkatkan kehadiran polisi di daerah rawan konflik perbatasan
  • Mempercepat respons terhadap laporan masyarakat melalui kanal digital
  • Mengintegrasikan program pembinaan pemuda dalam strategi pencegahan kejahatan

Menyaksikan Yudhiawan bekerja, kita barangkali akan teringat pada sebuah metafora sederhana yang ia sendiri gunakan di hadapan para perwira mudanya: "Jadilah seperti akar. Ia tidak terlihat, tapi ia yang membuat pohon berdiri tegak. Jangan hanya jadi daun yang ribut dan mudah gugur."

Di tengah kompleksitas Sulawesi Utara—antara keindahan Bunaken dan ancaman di Selat Mindanao—seorang Yudhiawan Wibisono memilih, dengan senyap, untuk menjadi akar. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pohon besar bernama keamanan, yang di bawah keteduhannya, warga berhak untuk terus bermimpi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User