Irjen Pol. Djoko Poerwanto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Tengah
Irjen Pol. Djoko Poerwanto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Tengah
Suatu siang di penghujung 2025, di sebuah warung kopi sederhana di bilangan Pahandut, Palangka Raya, seorang pria berseragam duduk lesehan di antara para penambang emas. Tidak ada pengawalan berlebihan, hanya kopi pahit dan obrolan tentang harga getah karet yang terus merosot. Pria itu adalah Inspektur Jenderal Polisi Djoko Poerwanto, Kapolda Kalimantan Tengah. Bukan pemandangan lazim melihat jenderal bintang dua larut dalam percakapan akrab seperti itu, namun bagi anak buahnya, pemandangan tersebut adalah refleksi dari doktrinnya sendiri: polisi adalah pelayan, bukan sekadar penjaga.
Profil Singkat
Lahir di jantung budaya Jawa, Djoko Poerwanto bukanlah produk instan. Lulusan Akademi Kepolisian ini menghabiskan sebagian besar kariernya di ranah reserse, meniti jalan sunyi dari penyidik hingga akhirnya menduduki pucuk pimpinan di provinsi dengan bentang alam seluas Pulau Jawa ini. Posturnya yang gagah khas perwira tinggi tidak lantas membuat jarak dengan masyarakat. Justru di Kalimantan Tengah, ia menemukan panggung untuk mengejawantahkan gaya kepemimpinan yang lebih hangat, jauh dari kesan law enforcement yang kaku dan intimidatif.
Karier dan Riwayat Jabatan
Sebelum bertugas sebagai Kapolda Kalteng, karier Djoko Poerwanto sudah teruji di berbagai medan. Ia pernah menjabat sebagai Dirreskrimum Polda Jawa Tengah, posisi yang darinya ia belajar memahami akar masalah kriminalitas bukan dari permukaan, tetapi dari struktur sosialnya. Kariernya melesat saat dipercaya menjadi Wakapolda Kalimantan Timur dan kemudian Sahlisosbud Kapolri. Di posisi strategis Mabes Polri itu, ia mendalami isu-isu sosial budaya, yang kelak menjadi bekal berharganya saat memimpin wilayah multietnis seperti Kalimantan Tengah. Perjalanan panjang ini menempa instingnya: bahwa pendekatan hukum pidana murni seringkali gagal menyelesaikan konflik komunal dan persoalan agraria.
Kinerja dan Program Unggulan
Kalimantan Tengah bukan sekadar provinsi dengan hutan tropis. Di sinilah denyut nadi Ibu Kota Nusantara (IKN) dan mega proyek Food Estate terasa secara langsung. Di bawah komandonya, Polda Kalteng tidak hanya sibuk dengan pengamanan, tetapi aktif membangun sistem deteksi dini konflik. Program "Barigas" (Baris Gasan Masyarakat) menjadi andalannya, sebuah inisiatif yang menempatkan Bhabinkamtibmas sebagai problem solver di tingkat desa, bukan sekadar tukang lapor.
Salah satu gebrakan yang paling diingat publik adalah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di musim kemarau 2025. Alih-alih hanya represif menangkap pelaku pembakaran, Djoko menginisiasi pendekatan restoratif: para pembakar lahan kecil diwajibkan mengikuti pelatihan pertanian tanpa bakar sebagai syarat diversi hukum. Langkah ini didukung penuh oleh tim gabungan Operasi Bina Karuna Telabang, yang menggabungkan drone pengawas dengan aksi nyata pemulihan lahan gambut.
Di bawah kepemimpinannya, pengungkapan kejahatan transnasional juga menunjukkan taringnya. Pada awal 2026, Polda Kalteng di bawah arahan langsung Irjen Djoko berhasil membongkar jaringan penyelundupan tenaga kerja non-prosedural yang hendak dikirim ke Malaysia melalui jalur tikus. Dalam jumpa pers yang emosional, ia menegaskan bahwa "kita bukan hanya menggagalkan pengiriman orang, tapi menyelamatkan impian manusia."
"Kita bukan hanya menggagalkan pengiriman orang, tapi menyelamatkan impian manusia. Di balik setiap berkas perkara, ada nasib keluarga yang dipertaruhkan."
Strategi komunikasi publiknya juga patut dicatat. Ia memanfaatkan media sosial Polda Kalteng bukan sebagai etalase pita jasa, melainkan sebagai ruang interaksi. Live Instagram bersama tokoh adat Dayak untuk membahas isu pertanahan, serta program "Kandarat" (Kunjungan Mendengar Aspirasi dan Aduan Masyarakat) yang menyambangi pelosok desa tanpa sinyal, menjadi saksi bagaimana relasi polisi dan warga kembali dibangun di atas fondasi kepercayaan, bukan ketakutan.
Tantangan dan Harapan
Tentu saja, memimpin Kalimantan Tengah yang tengah bertransformasi besar bukan tanpa ganjalan. Potensi gesekan antara pendatang dan penduduk lokal di sekitar lingkar IKN membutuhkan energi ekstra. Djoko kerap menyebut filosofi "Huma Betang", rumah panjang khas Dayak, sebagai inspirasinya: bahwa perbedaan adalah sesuatu yang dirayakan dalam satu atap besar bernama Indonesia. Ia berharap, Polda Kalteng mampu menjadi perekat sosial yang riil, mencegah polarisasi sebelum ia berubah menjadi bara.
Saat mentari senja perlahan tenggelam di Sungai Kahayan, Irjen Pol. Djoko Poerwanto kembali menyeruput kopinya. Tidak ada raut lelah, hanya kewaspadaan lelaki yang paham bahwa keamanan bukan sekadar tentang ketiadaan kejahatan, melainkan hadirnya keadilan. Di tanah yang katanya berdarah emas ini, ia memilih untuk menambang hati warganya.
Comments (0)