Irjen Pol. Nanang Avianto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Timur

Irjen Pol. Nanang Avianto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Timur

Jul 12, 2026 - 11:05
Updated: 2 hours ago
0 0
Irjen Pol. Nanang Avianto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Timur

Pagi itu, langit Samarinda masih diselimuti kabut tipis ketika sebuah mobil patroli melintas pelan di Jalan Awang Long. Dari dalam kendaraan, seorang perwira tinggi berbadan tegap menatap lekat ke arah trotoar—tepat di titik yang dua pekan sebelumnya menjadi lokasi kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang pelajar. Ia turun, berbincang dengan pedagang nasi kuning di sudut jalan, mendengar kisah tentang anak itu: seorang siswa teladan yang setiap pagi melintas tanpa pengawalan dan tanpa rambu keselamatan yang memadai. Dua minggu kemudian, lampu lalu lintas baru berdiri di persimpangan itu. Inilah Irjen Pol. Nanang Avianto, seorang jenderal yang percaya bahwa memimpin bukan hanya tentang perintah dari ruang tertutup, melainkan tentang mendengar dan hadir.

"Polisi yang baik lahir dari pemahaman, bukan dari kuasa."

Kata-kata itu sering ia lontarkan dalam apel pagi, dan bukan sekadar retorika. Di balik sikapnya yang tenang dan tutur katanya yang terukur, Nanang adalah sosok polisi karir yang menempa dirinya melalui jalan panjang penuh liku. Ia lahir di Pacitan, Jawa Timur, pada 15 Desember 1968, dan sejak awal telah menunjukkan ketertarikannya pada hukum dan ketertiban. Tidak banyak yang tahu bahwa sebelum mengenakan seragam cokelat kebanggaannya, ia sempat bercita-cita menjadi guru karena baginya, membentuk manusia adalah pekerjaan paling mulia. Takdir membawanya ke Akpol 1991, dan sejak itu, jalur pengabdiannya terus menanjak.

Karier dan Riwayat Jabatan

Jejak tugas Nanang Avianto membentang dari ujung timur hingga barat Indonesia. Ia bukan tipe perwira yang hanya duduk di balik meja. Sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, ia menangani kasus-kasus besar dengan pendekatan investigasi yang dingin namun tetap memanusiakan tersangka. Ketika menjabat Kapolres Metro Bekasi pada 2014, ia dikenal sebagai polisi yang getol mendorong restorative justice untuk kasus-kasus ringan yang melibatkan masyarakat kecil. Semangat itu tidak pernah padam meskipun jabatannya kini telah mencapai Inspektur Jenderal.

Karirnya semakin cemerlang saat ia dipercaya menjadi Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, di mana ia menangani kasus-kasus yang menyita perhatian publik seperti kejahatan siber dan pencucian uang. Pada 2021, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, memimpin operasi keamanan berskala besar selama pandemi. Pada 2024, ia mencapai puncak baru dengan dilantik sebagai Kapolda Kalimantan Timur—sebuah wilayah yang kompleks dengan tantangan keamanan yang khas, dari kejahatan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) hingga konflik lahan di pelosok.

Kinerja dan Program Unggulan

Begitu menjabat, Irjen Nanang tidak langsung menyentuh meja birokrasi. Ia memilih menyusuri setiap polres di 10 kabupaten/kota di Kaltim, sebuah "safari" yang ia tempuh dalam 40 hari tanpa henti. Hasil dari perjalanan itu bukan hanya laporan tebal, melainkan sebuah peta realitas yang berdarah-darah: kemacetan kronis di jalur tambang, bentrokan antara perusahaan sawit dan warga adat, hingga peredaran narkoba yang semakin agresif di kalangan pekerja migran IKN. Dari sinilah lahir Program Unggulan "SIAP SIJI"—Sinergi, Inovasi, Akuntabel, Profesional dan Satu Jiwa.

SIAP SIJI bukan sekadar akronim kosong. Di bawah kepemimpinannya, Polda Kaltim meluncurkan inovasi digital bernama e-Tilang IKN, sistem penindakan lalu lintas berbasis kamera AI yang diintegrasikan dengan Satpas dan Bapenda—yang pertama di luar Jawa. Ia juga menggandeng tokoh adat Dayak dan Kutai untuk membentuk Pos Kamtibmas Adat di Kawasan Segitiga Emas (Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau), sebuah langkah revolusioner yang berhasil menurunkan konflik agraria hingga 30 persen dalam setahun. Yang paling menyentuh adalah "Gerobak Perdamaian", sebuah layanan konseling hukum keliling yang mendatangi pasar-pasar tradisional dan permukiman kumuh. Bagi Nanang, polisi adalah rumah bagi mereka yang tidak punya akses ke pengadilan.

Tantangan dan Harapan

Namun, menjadi Kapolda di era pembangunan IKN bukanlah tanpa gelombang besar. Arus urbanisasi tidak terkontrol membawa masalah baru: geng motor yang mulai tumbuh di Balikpapan Utara, penyelundupan senjata rakitan dari perbatasan Malaysia, hingga potensi ancaman teror di tengah euforia nasional. Irjen Nanang menghadapinya dengan "Cooling System Strategy", di mana intelijen sosial dibangun dari tingkat RT dengan mengaktifkan kembali peran Bhabinkamtibmas.

Di tahun 2026 ini, ia tengah mempersiapkan Operasi Aman Nusantara II untuk pengamanan tahap akhir pemindahan aparatur sipil negara ke IKN. Di sela-sela rapat yang padat, ia masih menyempatkan diri berkunjung ke asrama mahasiswa Papua di Samarinda, sekadar makan bersama dan mendengar curhat mereka tentang rasisme laten. Ada yang berbisik, "Pak, kami takut." Nanang menjawab dengan senyum yang sama seperti saat ia bicara dengan pedagang nasi kuning dua tahun lalu: "Tugas saya memastikan kalian tidak perlu takut."

Di balik seragam polisi itu, Irjen Pol. Nanang Avianto tetaplah pria Pacitan yang percaya bahwa pengabdian sejati tidak butuh panggung—cukup hati yang datang lebih dulu sebelum suara sirene meraung. Dan Samarinda yang berkabut itu kini punya cerita baru tentang seorang jenderal yang memilih mendengar sebelum memerintah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User