Irjen Pol. Agus Nugroho: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Tengah

Irjen Pol. Agus Nugroho: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Tengah

Jul 12, 2026 - 11:27
Updated: 2 hours ago
0 0
Irjen Pol. Agus Nugroho: Profil dan Kinerja Kapolda Sulawesi Tengah

Profil Singkat

Sebuah video pendek beredar di kalangan jurnalis Palu pada suatu siang di awal 2026. Di dalamnya, seorang pria berseragam polisi duduk melipat kaki di atas tikar plastik, dikelilingi anak-anak pesisir Teluk Tomini. Ia sedang mengajari mereka membaca, suaranya pelan tapi tegas. Pria itu adalah Inspektur Jenderal Polisi Agus Nugroho, Kapolda Sulawesi Tengah, dan sore itu ia tidak sedang berada di ruang rapat ber-AC, melainkan di sebuah balai dusun di pesisir Parigi Moutong.

Agus lahir di Yogyakarta, 17 Agustus 1968, tumbuh dari keluarga sederhana yang menjunjung tinggi etos kerja. Ayahnya seorang guru sekolah dasar, ibunya membuka warung kecil di samping rumah. Lingkungan inilah yang membentuk karakternya: rendah hati namun pantang menyerah. Ia menamatkan pendidikan di Akpol 1991, satu angkatan dengan sejumlah perwira tinggi yang kini menempati pos-pos strategis di Mabes Polri. Yang membedakan Agus dari banyak rekannya adalah rekam jejaknya yang nyaris tak pernah meninggalkan wilayah konflik dan rawan kejahatan: dari Aceh, Papua, Poso, hingga kini Sulawesi Tengah.

Karier dan Riwayat Jabatan

Perjalanan karier Agus Nugroho adalah mozaik penugasan di titik-titik terberat. Selepas menjadi Perwira Pertama, ia ditugaskan ke Aceh saat konflik separatis masih memuncak. Di sana ia belajar bahwa pendekatan keamanan tak bisa hanya mengandalkan senjata. Ia mulai membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, ulama, dan pemuda — sebuah kebiasaan yang terus ia bawa hingga ke Sulawesi Tengah.

Tahun 2018, saat menjabat sebagai Kapolres Poso, Agus dihadapkan pada sisa-sisa jaringan teroris yang masih bergerilya di pegunungan. Rekan-rekannya di kepolisian mengenang bagaimana ia sering turun sendiri ke desa-desa terpencil, menemui keluarga mantan narapidana terorisme, membujuk mereka agar anak-anak mereka tidak mengikuti jalan serupa. Strategi ini menuai kritik dari kalangan yang menginginkan pendekatan keras, tapi hasilnya berbicara: dalam dua tahun, sejumlah orang menyerahkan diri tanpa tembakan.

Setelah Poso, ia menjabat sebagai Direktur Intelijen di sebuah polda besar di Jawa, lalu dipercaya sebagai Staf Ahli Bidang Sosial dan Politik di Mabes Polri. Pengalamannya membaca dinamika sosial-politik menjadi bekal berharga saat pada Februari 2025 Presiden melantiknya sebagai Kapolda Sulawesi Tengah, menggantikan pendahulunya yang memasuki masa pensiun.

Kinerja dan Program Unggulan

Begitu tiba di Palu, Agus tidak memulai dengan seremonial. Ia langsung menggelar rapat terbatas dengan jajaran, meminta data akurat tentang tiga masalah utama: kejahatan jalanan, konflik agraria, dan residu radikalisme. Satu bulan kemudian, ia meluncurkan program "Cakrawala Sulteng" — sebuah pendekatan komprehensif yang memadukan penegakan hukum, pembinaan masyarakat, dan pemulihan ekonomi.

Yang paling menarik perhatian adalah program "Mopo'olu", diambil dari bahasa Kaili yang berarti "memperbaiki bersama." Melalui program ini, polres-polres di seluruh Sulawesi Tengah diwajibkan membentuk unit kecil yang terdiri dari Bhabinkamtibmas, pekerja sosial, dan tokoh adat. Mereka mendatangi desa-desa yang rawan konflik, bukan untuk melakukan operasi, melainkan untuk mendengarkan. Di Kabupaten Sigi, pendekatan ini berhasil meredakan ketegangan antara dua komunitas yang bersengketa tanah selama bertahun-tahun.

"Kita tidak bisa menyelesaikan masalah di atas meja kalau tidak pernah duduk bersama di bawah pohon," ujarnya suatu kali di depan peserta rapat koordinasi daerah.

Data Polda Sulteng mencatat, sepanjang 2025 terjadi penurunan angka kejahatan jalanan hingga 23 persen dibanding tahun sebelumnya. Yang lebih menggembirakan, angka pengaduan masyarakat terhadap tindak kekerasan justru meningkat — tanda bahwa warga mulai percaya untuk melapor. Agus juga mendorong transparansi dengan meluncurkan dashboard digital yang bisa diakses publik, memuat data statistik kriminalitas, status penanganan perkara, hingga nomor pengaduan yang bisa dihubungi langsung.

Tantangan dan Harapan

Tentu saja, jalan Agus Nugroho tidak mulus. Sulawesi Tengah adalah provinsi dengan bentang alam yang sulit, beberapa wilayah hanya bisa dijangkau dengan perahu kecil atau berjalan kaki berhari-hari. Keterbatasan personel dan anggaran menjadi keluhan abadi. Belum lagi bayang-bayang konflik Poso yang masih menyisakan trauma sosial, serta potensi radikalisme yang sewaktu-waktu bisa muncul kembali.

Tapi Agus bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Di akhir sebuah wawancara dengan media lokal, ia berkata dengan nada merenung, "Saya hanya ingin, saat nanti pensiun, ada satu atau dua desa yang merasa polisi pernah menjadi bagian dari solusi mereka, bukan bagian dari masalah."

Di usianya yang kini menginjak 58 tahun, Irjen Pol. Agus Nugroho tidak lagi mencari bintang atau jabatan lebih tinggi. Ia mencari sesuatu yang lebih sunyi: kepercayaan. Dan dari pelosok-pelosok Sulawesi Tengah, kepercayaan itu perlahan mulai terjawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User