Irjen Pol. Winarto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Selatan
Irjen Pol. Winarto: Profil dan Kinerja Kapolda Kalimantan Selatan
Pagi itu, langit Banjarmasin mendung tipis. Di halaman Polda Kalimantan Selatan, seorang pria berambut putih di pelipisnya berdiri tegap di depan barisan. Bukan pidato menggelegar yang keluar dari mulutnya, melainkan kalimat sederhana yang diingat anak buahnya berbulan-bulan kemudian: "Kita ini tamu di tanah orang Banjar. Tugas kita cuma satu: memastikan tuan rumah bisa tidur nyenyak."
Kalimat itu keluar dari mulut Inspektur Jenderal Polisi Winarto di hari-hari pertamanya menjabat sebagai Kapolda Kalimantan Selatan. Bukan kata-kata heroik tentang menumpas kejahatan. Bukan jargon penegakan hukum tanpa pandang bulu. Hanya pengakuan rendah hati tentang peran kepolisian sebagai pelayan. Di mata polisi jebolan Akpol 1993 ini, jenderal bukanlah penguasa—melainkan penjaga.
Dari Tanah Deli ke Bumi Antasari
Orang Medan itu merantau sejak remaja. Ayahnya seorang pegawai negeri biasa, ibunya guru ngaji di surau kampung. Kecil-kecil, Winarto sudah terbiasa melihat ayahnya menyelesaikan perkara warga hanya dengan secangkir kopi dan percakapan di teras rumah. Mungkin dari sanalah naluri problem solving ala bapak kampung itu tumbuh. Mungkin pula keterampilan mendengarkannya yang luar biasa terasah sejak usia belia.
Ketika memilih masuk Akademi Kepolisian, bayangan bocah Medan itu sederhana: seragam yang gagah. Tapi kini, puluhan tahun berselang, ia berbicara tentang polisi dengan kosakata yang berbeda. Polisi ideal baginya adalah sosok yang paham bahwa senyum sering kali lebih ampuh daripada todongan senjata.
Karier dan Riwayat Jabatan
Seperti para perwira tinggi lainnya, perjalanan Winarto adalah mozaik pengalaman dari berbagai medan. Ia bukan tipe polisi yang lama berdiam di satu tempat. Mobilitasnya tinggi, dengan catatan penugasan yang membentang dari kota metropolitan hingga daerah konflik:
- Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan — tempat ia pertama kali berhadapan dengan kompleksitas kejahatan urban
- Kapolres Madiun — pengalaman memimpin di kota kecil dengan dinamika sosial yang guyub
- Dirreskrimum Polda Metro Jaya — posisi panas yang mengasah ketahanan mentalnya
- Koorspripim Polri — belajar membaca denyut nadi institusi dari lingkar dalam Mabes
- Kapolrestabes Surabaya — memimpin salah satu satuan wilayah terbesar dengan prestasi penanganan konflik sosial yang dipuji banyak pihak
- Wakapolda Jawa Timur — tangan kanan kapolda di provinsi dengan tingkat kerawanan tinggi
- Kapolda Kalimantan Timur — pengalaman pertamanya sebagai kapolda, menghadapi isu IKN dan kejahatan lingkungan
- Kapolda Kalimantan Selatan — penugasan sejak 2025 yang menjadi panggung kepemimpinan matangnya
Setiap perpindahan, katanya, mengajarinya satu hal: Indonesia ini terlalu luas untuk dipahami dengan satu kacamata saja.
Kinerja dan Program Unggulan
"Banua" adalah kata pertama yang dipelajarinya saat tiba di Kalsel. Artinya kampung halaman. Winarto memahami bahwa pendekatan kepolisian di sini tidak bisa dengan gaya metropolitan. Masyarakat Banjar, yang religius dan berpegang teguh pada adat, membutuhkan pendekatan yang subtil.
Program unggulannya selama memimpin Polda Kalsel mencerminkan pemahaman itu. Ia meluncurkan program "Ma'afatan" — akronim dari Masyarakat Aman, Tertib, dan Tenteram — yang menitikberatkan pada penyelesaian perkara ringan melalui mediasi di tingkat desa. Di bawah komandonya, polsek-polsek berubah fungsi menjadi semacam balai pertemuan warga.
Data menunjukkan hasil yang menggembirakan: angka kriminalitas di Kalsel sepanjang 2025 hingga triwulan pertama 2026 turun hampir 14 persen dibandingkan periode sebelumnya. Lebih menarik lagi, penyelesaian perkara melalui keadilan restoratif meningkat hingga 22 persen—tanda bahwa warga mulai percaya pada jalur damai.
Di sektor lain, Winarto getol mengampanyekan "Polisi Tanpa Asap" — komitmen pemberantasan peredaran rokok ilegal dan narkoba yang mulai merambah desa-desa di Kalsel. Puluhan kilogram sabu berhasil diamankan dalam beberapa operasi besar, tapi yang lebih membekas adalah pendekatannya: ia menginstruksikan jajarannya untuk tidak sekadar menangkap, tapi juga merangkul keluarga pengguna untuk direhabilitasi.
"Menangkap orang itu mudah. Yang sulit adalah memastikan dia tidak kembali lagi," ujarnya dalam sebuah bincang-bincang dengan tokoh agama.
Tantangan dan Harapan
Kalsel bukan tanpa luka. Konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat adat masih menyisakan residu. Banjir tahunan yang melanda Kabupaten Banjar menjadi pekerjaan rumah kemanusiaan. Di titik-titik rawan inilah ketenangan Winarto diuji.
Strateginya tidak muluk-muluk: hadir sebelum diminta. Satuan Bhabinkamtibmas yang dipimpinnya kini punya standar baru—setiap anggota wajib menghabiskan minimal tiga hari seminggu di desa binaan, bukan cuma mampir dan meneken daftar hadir. Ia percaya, informasi terbaik datang dari ibu-ibu yang mengeluh soal tetangganya, bukan dari laporan intelijen setebal bantal.
Di ruang kerjanya yang sederhana—lebih banyak ornamen khas Banjar daripada piala penghargaan—Win
Comments (0)