Mengenang Kakek di Balik Kostum 18 Kg Dwayne Johnson sebagai Maui

Di sudut ruangan sempit berpendingin udara di Hawaii, Dwayne Johnson duduk diam sambil meregangkan punggungnya. Di belakangnya, kerangka kostum Maui menggantung seperti tubuh raksasa yang menanti ruh....

Jul 12, 2026 - 11:26
0 0
Mengenang Kakek di Balik Kostum 18 Kg Dwayne Johnson sebagai Maui

Di sudut ruangan sempit berpendingin udara di Hawaii, Dwayne Johnson duduk diam sambil meregangkan punggungnya. Di belakangnya, kerangka kostum Maui menggantung seperti tubuh raksasa yang menanti ruh. Hari masih gelap, pukul tiga dini hari, tapi the rock sudah bersiap menghadapi hari pengambilan gambar yang akan menguras fisik dan emosinya.

Dwayne Johnson kembali ke peran yang telah menjadi fenomena budaya populer: Maui, dewa setengah jadi dari kisah Moana. Kali ini bukan dalam animasi, melainkan versi live-action yang menuntut totalitas tak tertandingi. Namun, yang paling membebaninya bukan tanggung jawab menghidupkan karakter ikonik itu, melainkan kostum megah seberat 18 kilogram yang harus ia kenakan sepanjang hari.

“Ini bukan sekadar kostum. Setiap kali saya memakainya, ada sebuah perjalanan batin yang menghubungkan saya dengan leluhur saya,” ujar Johnson dalam sebuah wawancara khusus di sela-sela produksi. Ada getar yang sulit disembunyikan dalam suaranya.

Kenangan Akan Sang Kakek

Bagi Dwayne, beban 18 kilogram itu justru menjadi jembatan menuju masa kecilnya yang penuh warna di Hawaii dan Samoa. Dia teringat sosok kakeknya, Peter Maivia, atau yang akrab disapa “High Chief” Fanene Maivia. Peter adalah seorang pegulat profesional legendaris yang juga pemimpin spiritual dalam budaya Samoa. Namun bagi Johnson kecil, kakek adalah penjaga setia yang selalu mengajarinya arti berjuang tanpa kehilangan hati.

“Kakek saya tidak pernah sekadar berbicara tentang kekuatan,” kisah Johnson. “Dia menunjukkan bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan menyatukan orang, bukan menghancurkan mereka. Itu yang saya bawa ke dalam karakter Maui.”

Setiap kali Johnson harus menahan nyeri akibat tali pengikat kostum yang menekan otot punggungnya hingga biru-biru, ia teringat bagaimana sang kakek—saat masih muda—bergulat dengan tubuh yang terluka demi memberi makan keluarga. Pelajaran itulah yang kemudian menjelma menjadi semacam bahan bakar batin.

“Saya mendengar suaranya: ’Anakku, beban ini bukan untuk dirimu sendiri. Kau pikul untuk mereka yang mencintaimu.’”

Kostum 18 Kilogram: Beban yang Menguatkan

Proses menjadi Maui versi manusia nyata bukan sekadar latihan fisik. Johnson harus menjalani sesi rias dan pemasangan kostum selama tiga jam setiap pagi. Tim khusus melapisinya satu per satu: pertama baju dalam ketat yang sudah dilengkapi struktur otot buatan, lalu ikat pinggang dengan tali-tali tradisional, hingga akhirnya diberikan tato Maui yang dilukis dengan tangan di atas otot sintetis.

Menariknya, desain tato itu sebagian terinspirasi oleh tato tradisional milik Peter Maivia.

“Saat saya melihat diri saya di cermin pertama kali dengan kostum lengkap, saya menangis,” aku Johnson. “Saya melihat kakek saya berdiri di sana. Saya merasa dia hadir bersama saya.”

Kostum seberat 18 kilogram itu memang dirancang untuk memberikan tampilan sempurna: dada bidang, lengan kekar, dan kaki yang kokoh. Namun bagi Johnson, bobot itu bukan beban. Itu adalah kehormatan.

“Saya ingin setiap serat otot buatan ini menyampaikan pesan bahwa Maui bukan hanya tentang kekuatan fisik, melainkan tentang pengorbanan dan tanggung jawab terhadap komunitas—nilai-nilai yang ditanamkan kakek saya.”

Momen Mengharukan di Lokasi Syuting

Ada satu momen yang menjadi puncak dari seluruh perjuangan ini. Saat pengambilan adegan di mana Maui dengan gagah berani menyelamatkan Moana dari badai lautan, di tengah hujan buatan dan hembusan angin dari kipas raksasa, Johnson berhenti sejenak. Air mata tiba-tiba mengalir di antara riasan tebalnya.

Sutradara memanggil “Cut!”, dan Johnson masih berdiri terpaku.

“Saya teringat saat masih kecil, saya sering ditindas karena tubuh saya yang gemuk. Dan kakek saya yang selalu menghampiri saya, memeluk saya, dan berkata bahwa suatu hari orang-orang di seluruh dunia akan melihat betapa hebatnya saya,” kata Johnson dengan suara bergetar. “Saya ingin kakek melihat saya sekarang. Saya ingin dia tahu bahwa saya akhirnya memahami apa yang dia maksud.”

Kru yang hadir ikut menitikkan air mata. Momen itu menjadi salah satu kisah yang paling sering diceritakan di belakang layar produksi Moana.

Sebuah Persembahan untuk Leluhur

Kini, ketika film live-action Moana akan diluncurkan, Dwayne Johnson merasa perjalanan ini telah memberinya lebih dari sekadar peran akting. Itu adalah perjalanan pulang—pulang ke akar budaya, ke kenangan seorang kakek, dan ke makna sesungguhnya dari menjadi Maui.

“Maui adalah tentang musik, tarian, dan cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan memerankan dia, saya ingin menunjukkan kepada keponakan-keponakan saya, kepada anak-anak Samoa di seluruh dunia, bahwa kita bisa menjadi pahlawan kita sendiri tanpa kehilangan jati diri kita,” pungkasnya.

Di balik kostum 18 kilogram itu, ada seorang cucu yang memanggul seluruh warisan leluhurnya. Dan bagi Dwayne Johnson, beban itu rasanya justru seringan pelukan kakek di ujung hari.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User