Kala Prabowo Ngaku Berguru Ilmu Politik dari NU
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pengakuan menarik pada penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Ban
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pengakuan menarik pada penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (23/6). Berdasarkan laporan Beritaseputar.com, Presiden dengan rendah hati menyatakan bahwa ia seharusnya belajar politik dari NU.
Prabowo tiba di lokasi mengenakan safari khaki dan peci, disambut hangat oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, Ketua Umum Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar. Ribuan nahdliyin antusias menyalami orang nomor satu di Indonesia itu. Tampak hadir pula sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Ketua MPR Ahmad Muzani, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta Menko Pangan Zulkifli Hasan.
Pernyataan yang Membuat Hadirin Terkesima
Dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan ribusan peserta, Prabowo menekankan bahwa NU adalah kawah candradimuka bagi para politisi sejati. Mengutip pantauan media kami, Presiden mengaku bahwa selama ini ia baru menyadari kedalaman ilmu politik yang diajarkan oleh para kiai NU.
"Saya seharusnya lebih banyak berguru politik dari NU. Cara para ulama memperjuangkan bangsa ini seharusnya menjadi contoh bagi saya," ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut langsung disambut gemuruh tepuk tangan dan takbir dari para nahdliyin. Menurut laporan Beritaseputar.com, suasana menjadi begitu khidmat dan penuh kehangatan. Bahkan, Ketua MPR Ahmad Muzani yang duduk di barisan depan tampak mengangguk-angguk penuh setuju. Begitu pula AHY dan Zulkifli Hasan yang terlihat sesekali bertukar senyum menanggapi pengakuan tersebut.
Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran Presiden. Ia menyebut bahwa momen ini menjadi bukti eratnya hubungan NU dan negara. "Kami bersyukur Presiden berkenan hadir. Ini adalah bukti bahwa NU dan negara tidak terpisahkan," ujarnya kepada Beritaseputar.com.
Lebih lanjut, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf menambahkan bahwa Munas dan Konbes kali ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, terutama dalam pengembangan ekonomi umat dan pendidikan. "Rumusan yang kami hasilkan akan langsung dijalankan oleh PBNU di seluruh tingkatan," kata Gus Ipul, sapaan akrabnya, saat diwawancarai media kami usai acara.
Pendalaman Makna Politik ala NU
Pernyataan Prabowo seakan menjadi pengingat bahwa politik yang diajarkan NU adalah politik kebangsaan dan kerakyatan. Menurut pengamatan Beritaseputar.com, acara yang berlangsung sejak pagi ini memang sarat akan semangat persatuan. Para kiai, ulama, dan tokoh masyarakat bahu-membahu merumuskan arah perjuangan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dalam pidato penutupan menegaskan bahwa NU akan terus menjadi penjaga gawang toleransi dan moderasi beragama di Indonesia. "Kami berkomitmen untuk mendukung penuh program-program pembangunan Presiden Prabowo," tukasnya.
Di akhir acara, Presiden Prabowo menyempatkan diri berfoto bersama para pengurus PBNU dan berswafoto dengan para santri. Suasana kekeluargaan sangat terasa. Munas dan Konbes NU 2025 ini pun ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rais Aam. Pengakuan Presiden tentang berguru ilmu politik dari NU menjadi magnet tersendiri yang menunjukkan betapa besar pengaruh strategis Nahdlatul Ulama dalam lanskap politik kebangsaan Indonesia.
Comments (0)