Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Kabupaten Tangerang — 49% Lahan TPA Jatiwaringin Padam di Hari Ke-9

Pagi kesepuluh hampir tiba, tapi aroma terbakar masih menusuk dari arah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Di perkampungan terdekat, embun bercamp

Jul 08, 2026 - 09:53
0 1
Kabupaten Tangerang — 49% Lahan TPA Jatiwaringin Padam di Hari Ke-9

Pagi kesepuluh hampir tiba, tapi aroma terbakar masih menusuk dari arah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Di perkampungan terdekat, embun bercampur abu halus melapisi daun pisang di pekarangan. Warga tetap beraktivitas, kini lengkap dengan masker rangkap: kain di dalam, medis di luar—perlawanan hening terhadap asap yang tak kunjung sirna.

Di sudut dapur sederhana, Ibu Sari (43) merebus air jahe lebih banyak dari biasanya. Anak bungsunya yang berusia enam tahun terbatuk lagi semalam. “Katanya sudah hampir setengah mati apinya, tapi bau masih seperti hari pertama. Anak saya sudah sembilan hari bolos sekolah, trauma kalau napas dalam-dalam,” ucapnya lirih, matanya menerawang ke arah bukit sampah yang masih mengepulkan asap putih pekat. Sesekali helikopter melintas rendah, menjatuhkan beribu liter air dari udara—pemandangan yang menjadi latar keseharian baru warga Desa Jatiwaringin.

Sementara itu, di sisi selatan zona pembuangan, belasan petugas berselimut lumpur dan keringat berusaha membelah lajur pendinginan. Kopral Fahri (28), salah satu anggota tim lapangan, tersenyum kecut ketika ditanya kabar. “Kemarin saya injak bara yang diam-diam masih merah di bawah tumpukan. Sepatu tak berguna. Tapi ini sudah lumayan, Pak—dua hari lalu kami masih bermain api, sekarang tinggal pendinginan.” Jemarinya menunjuk peta operasi yang warnanya perlahan berubah dari merah pekat ke jingga pudar.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, per Selasa (7/7), lahan yang berhasil dipadamkan mencapai 49 persen. Angka ini diumumkan oleh Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, yang menyebut bahwa “kolaborasi seluruh instansi menunjukkan kemajuan signifikan, kini fokus pada pendinginan.” Operasi gabungan terus berjalan dua arah: tim darat membongkar tumpukan sampah untuk memutus jalur api bawah permukaan, sementara water bombing dari helikopter menyasar titik api yang sulit dijangkau.

Mengapa Pemadaman Butuh Waktu Hampir Dua Pekan?

Kebakaran di TPA bukan sekadar api permukaan. Tumpukan sampah yang menggunung menciptakan lapisan-lapisan material organik yang terdekomposisi dan menghasilkan gas metana—bahan bakar laten yang membuat bara mampu bertahan berminggu-minggu di kedalaman puluhan meter. “Model kebakaran TPA adalah kebakaran tiga dimensi. Anda padamkan permukaan, dua meter di bawahnya api masih menjilat. Butuh strategi pendinginan berlapis dan waktu yang tak sebentar,” jelas Dr. Rudianto, ahli pengelolaan sampah dari Institut Teknologi Bandung yang turun langsung memantau pada hari kelima operasi.

Selain medan, faktor cuaca turut memperpanjang penderitaan. Beberapa hari terakhir angin selatan membawa asap langsung ke permukiman, memaksa tiga sekolah dasar terdekat meliburkan siswa. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat lonjakan kunjungan pasien ISPA hingga 19% dibanding minggu sebelumnya. Sementara itu, puluhan keluarga pemulung yang menggantungkan hidup dari sampah segar terpaksa beralih menjadi buruh serabutan, atau—seperti yang diucapkan Pak Ujang (57)—“hanya menghitung hari sambil menunggu api mati.”

IndikatorHari Ke-3Hari Ke-6Hari Ke-9
Luas area padam (%)8%27%49%
Titik api aktif (pantauan drone)422314
Rata-rata kunjungan ISPA/hari647178

Data di atas menunjukkan padamnya lahan hampir setengah dari total area terdampak, namun tekanan kesehatan justru meningkat—menandakan asap dan partikel halus tetap melayang meski api permukaan mulai jinak.

Harapan kini tertuju pada tiga hari ke depan. Personel darat dirotasi dalam shift ketat, stok air dan foam ditambah, dan titik-titik residual masih dalam pengawasan intensif. Di langit, dua helikopter terus menari seperti capung raksasa—sebuah balet darurat yang diiringi desing mesin dan doa-doa warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User