Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jombang — Gus Ipul Serukan Kegembiraan di Muktamar NU ke-35

Mentari pagi menyelinap di sela-sela dinding bambu Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Embun yang masih enggan berlalu menggantung di pucuk daun beringi

Jul 08, 2026 - 06:43
0 1
Jombang — Gus Ipul Serukan Kegembiraan di Muktamar NU ke-35

Mentari pagi menyelinap di sela-sela dinding bambu Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Embun yang masih enggan berlalu menggantung di pucuk daun beringin tua yang meneduhkan halaman masjid. Kepulan uap kopi tubruk dari warung kayu di sudut pesantren berbaur dengan lantunan selawat para santri yang baru saja menuntaskan salat Subuh. Di tanah yang pernah mencatatkan sejarah panjang Nahdlatul Ulama inilah, helaian napas para kiai dan pengurus wilayah akan segera bertemu dalam satu ritme: Muktamar ke-35 NU. Kabar dari Jakarta membawa pesan menyejukkan, lewat suara Ketua Panitia Pelaksana, Saifullah Yusuf—Gus Ipul—yang meminta semua peserta mengikuti muktamar dengan kegembiraan.

Pesan Sejuk dari Jantung Pesantren

Gus Ipul bukan sekadar mengirimkan instruksi administratif. Ia menyampaikan harapan yang lahir dari pengalaman panjang sebagai kader muda NU yang pernah mengemban amanah sebagai ketua umum GP Ansor. Suaranya tenang, namun membawa ketegasan khas seorang yang paham betul bahwa muktamar bukan hanya soal pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, melainkan juga tempat pulang bagi seluruh keluarga besar NU. Ajakan ini disambut hangat oleh para pengurus yang mulai berdatangan dari berbagai penjuru.

“Waktu pertama dengar pesan Gus Ipul, hati saya langsung adem. Kami disuruh datang dengan hati yang riang, bukan tegang. Saya rasa, itu pengingat bahwa muktamar adalah milik kita semua, bukan cuma milik elite pusat,” ujar Kiai Abdul Majid, pengasuh pesantren kecil di pinggir Bojonegoro yang menjadi utusan dari PCNU setempat.

Menyulam Persaudaraan di Tanah Kelahiran

Tambakberas bukan tempat asing bagi warga NU. Di sinilah ruh organisasi ini seolah menemukan sumbu sejak era Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kini, ketika ratusan pengurus cabang dari 34 provinsi mulai memadati ponpes, getaran itu kembali terasa. Bagi warga setempat, muktamar adalah peristiwa yang mempertemukan doa-doa dan harapan ribuan nahdliyin dari Sabang sampai Merauke.

“Setiap kali ada muktamar besar di sini, rasanya seperti leluhur kami ikut hadir menyaksikan. Ini bukan soal rapat akbar saja, ini semacam upacara adat yang mempersatukan,” kata Suparno, petani yang rumahnya hanya berjarak dua ratus meter dari kompleks pondok, dengan mata berbinar.

Suasana pun mulai terasa semarak. Warung-warung kecil bermunculan menjual kopi dan nasi bungkus. Para relawan dari Banom NU berseliweran menyiapkan tikar di pendopo-pendopo. Di sudut lain, sekelompok ibu Muslimat tengah menyulam kain bertuliskan “Muktamar ke-35 NU” yang akan dibentangkan saat pembukaan. Kegembiraan yang diinginkan Gus Ipul menemukan wajahnya yang paling jujur di sini.

Kegembiraan Jadi Pagar Persatuan

Muktamar kerap diwarnai dinamika internal yang bisa memanas. Namun, pesan Gus Ipul ibarat embun yang mendinginkan bara. Ia mengingatkan bahwa seluruh perbedaan pendapat adalah lumrah, namun tak boleh memecah ikatan yang telah dirajut selama hampir satu abad. “Muktamar bukan ajang adu kekuatan,” demikian inti seruannya yang disampaikan melalui telekonferensi, “melainkan wahana untuk merawat ghirah ke-NU-an kita. Isi dari awal hingga penutupan dengan senyum tulus.”

“Sebagai sekretaris di kepanitiaan daerah, saya rasakan betul getar pesan Gus Ipul. Kami ingin semua tamu merasa dijamu, bukan malah dijauhkan oleh tegang urusan administrasi atau politik internal. Kalau hati sudah senang, pikiran pun jernih,” ujar Susi Rahmawati, sekretaris panitia lokal Jombang.

Harapan yang Terbungkus Doa

Di balik seluruh persiapan, kisah-kisah personal para peserta menyimpan makna mendalam. Ada kiai sepuh yang rela menempuh perjalanan dua hari dari pedalaman Kalimantan dengan membawa sebungkah harum tembakau dan untaian doa yang ditulis di atas kertas lusuh. Ada pula pemuda NU yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tambakberas, tak kuasa menahan haru saat melihat makam para muassis yang selama ini hanya ia kenal lewat buku-buku usang. Mereka datang bukan sekadar sebagai delegasi, melainkan sebagai peziarah yang rindu akan rumah besarnya.

Di sinilah, barangkali, makna sesungguhnya dari kegembiraan yang diinginkan Gus Ipul: bukan sekadar euforia sesaat, melainkan sebuah kesadaran mendalam bahwa setiap langkah di tanah kelahiran para wali adalah sebuah perjalanan batin yang tak ternilai. Muktamar bukan panggung untuk saling mengunggulkan diri, melainkan ruang untuk menyadari bahwa Nahdlatul Ulama adalah napas bersama, yang denyutnya sama kuat di pondok megah maupun surau paling sunyi di pelosok desa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User