Jakarta — Kemenag akan Benahi Tata Kelola Pengiriman Mahasiswa Al Azhar
Di sebuah gang sempit di Pekalongan, Rahmat (19) masih menyimpan setumpuk kertas bukti transfer senilai Rp45 juta. Uang itu ia kumpulkan bersama ibunya, se
Di sebuah gang sempit di Pekalongan, Rahmat (19) masih menyimpan setumpuk kertas bukti transfer senilai Rp45 juta. Uang itu ia kumpulkan bersama ibunya, seorang penjual gudeg, demi satu mimpi: menjadi mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo. Namun, alih-alih surat penerimaan, yang ia dapat hanyalah janji palsu dari oknum yang mengaku bisa ‘memuluskan’ jalannya ke kampus Islam tertua di dunia itu.
“Saya percaya karena katanya dia punya link ke panitia seleksi. Ternyata setelah uang ditransfer, nomornya tidak aktif lagi,” ujar Rahmat dengan suara bergetar, saat ditemui di sela-sela pengajian di masjid kampungnya.
Mimpi yang Tercabik Praktik Percaloan
Kisah Rahmat bukan sekadar catatan kaki. Dalam pertemuan tertutup antara Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafii, dan Duta Besar RI untuk Mesir di Kairo pekan lalu, terungkap bahwa praktik percaloan dalam pengiriman mahasiswa Indonesia ke Al Azhar telah menjadi masalah sistemik. Modusnya beragam: dari menjanjikan jalur khusus bebas tes, memalsukan dokumen rekomendasi Kemenag, hingga mematok tarif puluhan hingga ratusan juta rupiah dengan iming-iming ‘jaminan lolos’.
“Kami menerima banyak aduan dari orang tua dan calon mahasiswa. Mereka ini korban, bukan hanya kehilangan uang, tapi juga kehilangan kesempatan belajar dan kepercayaan pada sistem kita,” ujar Romo Syafii, nada bicaranya tegas namun tetap teduh.
Praktik ini tidak hanya merugikan individu, tapi juga mencederai reputasi pendidikan Indonesia di mata mitra internasional. Setiap tahun, Kuota resmi untuk mahasiswa Indonesia di Al Azhar berkisar antara 200 hingga 250 orang—sebuah angka yang terbatas dan karena itu rawan dipermainkan oleh para calo yang memanfaatkan ketidaktahuan publik serta celah birokrasi.
Dampak Sosial yang Menghantui
Dari sisi sosial, korban percaloan seringkali berasal dari keluarga kelas menengah bawah yang mengorbankan segalanya demi pendidikan agama anak mereka. Seperti keluarga Rahmat, yang kini harus memulai lagi dari nol. “Ibu saya sampai jatuh sakit karena stres. Uang itu tabungan bertahun-tahun,” katanya lirih. Bagi banyak orang tua, mengirim anak ke Al Azhar bukan sekadar soal gelar akademik, melainkan juga kebanggaan spiritual dan investasi masa depan umat.
Sementara itu, para calo semakin lihai beroperasi dengan memanfaatkan media sosial. Grup-grup WhatsApp dan Telegram dipenuhi tawaran ‘jalur cepat Al Azhar’, lengkap dengan testimoni palsu. Hal ini membuat deteksi dan penindakan menjadi semakin sulit dilakukan tanpa adanya sistem pendaftaran yang transparan dan terintegrasi.
Langkah Konkret Kemenag
Menindaklanjuti temuan tersebut, Kemenag berkomitmen mereformasi total tata kelola pengiriman mahasiswa. Beberapa poin utama yang disepakati dalam pertemuan tersebut meliputi:
- Digitalisasi seleksi: Sistem pendaftaran dan seleksi akan dilakukan secara daring penuh melalui portal tunggal Kemenag untuk menghilangkan celah perantara.
- Transparansi kuota: Kuota resmi dan daftar nama yang lolos seleksi akan dipublikasikan secara terbuka dan real-time.
- Kerja sama bilateral yang diperketat: Bersama Kedutaan Besar RI di Kairo, proses verifikasi dokumen akan dilakukan langsung dengan pihak Al Azhar untuk memutus mata rantai calo.
- Pendampingan dan edukasi publik: Kemenag akan menggencarkan sosialisasi ke pesantren-pesantren dan masyarakat luas tentang mekanisme resmi untuk mencegah jatuhnya korban baru.
“Kami tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi para calo. Sistem baru ini akan membuat semuanya jelas, terukur, dan bisa diawasi oleh siapa saja,” tegas Duta Besar RI untuk Mesir dalam pernyataan tertulisnya, memberi sinyal dukungan penuh reformasi ini.
Bagi Rahmat dan ratusan pemuda lainnya, janji perbaikan ini seperti setitik cahaya di ujung lorong yang sempat gelap. Meski belum bisa mengembalikan uang yang telah raib, setidaknya ada harapan bahwa generasi berikutnya tak akan mengalami nasib serupa. “Saya mungkin gagal berangkat tahun ini, tapi saya ingin adik-adik saya nanti bisa mendaftar dengan cara yang jujur dan adil,” pungkasnya.
Comments (0)