Jakarta — Fadli Zon Sebut Ziarah Gunung Kawi Bagian Tradisi Lama
Angin sore berembus lembut di pelataran makam Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Aroma bunga melati dan dupa bercampur, menciptakan atmosfer yang syahdu sekali
Angin sore berembus lembut di pelataran makam Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Aroma bunga melati dan dupa bercampur, menciptakan atmosfer yang syahdu sekaligus penuh harapan. Sunarti (52), seorang ibu rumah tangga dari Lawang, menunduk dalam doa di depan nisan yang diyakini sebagai peristirahatan Eyang Djoego dan Eyang Sujo. Ia datang bersama rombongan keluarga, menempuh perjalanan tiga jam demi menunaikan laku spiritual yang telah diwariskan turun-temurun. “Ini bukan sekadar ziarah, ini napas hidup kami. Nenek moyang saya sudah ke sini sejak zaman Belanda. Kalau tidak ke sini, rasanya ada yang kurang,” tutur Sunarti sambil menata sesaji sederhana di sudut cungkup. Cerita Sunarti hanyalah satu dari ribuan mozaik yang membentuk wajah Gunung Kawi: sebuah titik temu antara spiritualitas, budaya, dan perekonomian warga yang tak bisa dipisahkan.
Gunung Kawi dalam Pusaran Perbincangan Publik
Dalam beberapa pekan terakhir, Gunung Kawi menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Foto dan video yang menunjukkan lautan manusia berpakaian putih tengah berdoa dan menabur bunga viral, memicu diskusi tentang batas antara tradisi leluhur dan ajaran agama formal. Sebagian warganet mempertanyakan praktik tersebut, namun lebih banyak lagi yang membela dan menyebutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Di balik riuh rendah komentar itu, masyarakat sekitar Gunung Kawi hanya bisa pasrah. Darman (60), pemilik warung pecel di pintu masuk area wisata religi, mengaku khawatir tradisi yang menjadi tumpuan hidupnya akan dilarang. “Kalau sampai ditutup, kami mau makan apa? Saya sudah 30 tahun jualan di sini, pelanggan saya ya para peziarah itu,” ujarnya dengan nada getir.
Pandangan Menteri Fadli Zon: Mozaik Budaya yang Harus Dijaga
Keresahan seperti yang dirasakan Darman dan Sunarti akhirnya mendapat titik terang. Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan pernyataan resmi yang menyejukkan. Alih-alih mengecam, ia justru menempatkan ziarah Gunung Kawi sebagai bagian dari realitas budaya Indonesia yang kaya. “Gunung Kawi ya, itu kan kita keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi dan di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama,” kata Fadli dikutip dari Antara, Selasa (7/7/2026). Pernyataan itu disampaikan Fadli di Jakarta, sekaligus menekankan bahwa selama praktik tersebut mendatangkan kebaikan dan tidak merusak, maka ia adalah bagian dari kehidupan berbangsa yang harus dihormati. “Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu dan tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita,” imbuhnya.
Kronologi Sorotan Terhadap Ziarah Gunung Kawi
- Minggu kedua Juni 2026: Media sosial ramai memperbincangkan foto dan video ribuan peziarah yang memadati Gunung Kawi. Tagar #TradisiAtauSyirik sempat menjadi trending topic, memantik perdebatan sengit antarwarganet.
- Senin (7/7/2026): Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan tanggapan resmi di Jakarta. Ia menyebut ziarah Gunung Kawi sebagai bagian dari mozaik tradisi dan budaya lama yang tidak perlu dipertentangkan, selama memberi manfaat ekonomi dan tidak merusak tatanan.
- Selasa (8/7/2026): Warga dan pelaku usaha di sekitar Gunung Kawi menyambut lega pernyataan menteri. Setidaknya 5.000 peziarah berkunjung setiap akhir pekan, dan menurut data paguyuban pedagang setempat, pendapatan mereka naik hingga 40 persen saat musim ziarah dibanding hari biasa.
Napas Ekonomi di Balik Laku Spiritual
Pernyataan Fadli Zon menjadi oase di tengah kegelisahan warga. Siti Maryam (45), penjual bunga dan perlengkapan ziarah, mengaku sempat ketar-ketir mendengar isu pelarangan. “Saya punya tiga anak yang kuliah dari hasil jualan di sini. Kalau Gunung Kawi sepi, bisa berhenti sekolah mereka,” katanya. Ia menuturkan, dalam sehari saat akhir pekan, ia bisa meraup omzet hingga Rp1,5 juta, jumlah yang sangat besar untuk ukuran desa. Senada dengan Siti, Joko (35), juru parkir yang sudah bekerja sejak 2015, mengungkapkan bahwa ziarah bukan hanya memberi rezeki, tapi juga menghidupkan kembali nilai gotong royong. “Setiap ada acara besar seperti malam Jumat Legi, warga sini bahu-membahu. Ada yang masak, ada yang jadi pemandu doa. Ini tradisi yang menyatukan kami,” ucapnya. Bagi mereka, Gunung Kawi adalah lebih dari sekadar situs keramat; ia adalah urat nadi kehidupan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dengan sikap Kementerian Kebudayaan yang terbuka dan apresiatif, masyarakat berharap tradisi ziarah Gunung Kawi dapat terus lestari tanpa stigma. Sebab, di setiap anak tangga yang mereka tapaki, di setiap untaian doa yang mereka bisikkan, ada denyut kebudayaan dan ekonomi yang menghidupi ribuan keluarga.
Comments (0)