Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Aditya Waskita Jauhari Tewas Saat Tugas Pengawasan di Perairan Siak

Lampu-lampu dermaga Tanjung Buton masih temaram ketika deru mesin pompong kecil itu memecah sunyi dini hari. Senin, 7 Juli 2026, pukul 02.00 WIB. Tak ada y

Jul 08, 2026 - 14:33
0 1
Aditya Waskita Jauhari Tewas Saat Tugas Pengawasan di Perairan Siak
Lampu-lampu dermaga Tanjung Buton masih temaram ketika deru mesin pompong kecil itu memecah sunyi dini hari. Senin, 7 Juli 2026, pukul 02.00 WIB. Tak ada yang menyangka, dari rutinitas pemeriksaan muatan ekspor yang sudah puluhan kali dijalani, akan menjadi malam terakhir bagi seorang Aditya Waskita Jauhari. Angin lembap Selat Malaka berembus pelan, namun arus di bawah permukaan menyimpan kekuatan yang kelak merenggut segalanya. Tim gabungan Bea Cukai Pekanbaru dan instansi terkait malam itu sedang menuntaskan pemeriksaan fisik muatan kapal (final draft) MV Himala V.195, bagian dari pengawasan kepabeanan terhadap komoditas ekspor Palm Kernel Shell in Bulk—cangkang sawit yang akan dikirim ke negeri seberang. Aditya, pegawai muda berdedikasi, berdiri di antara rekan-rekannya di atas pompong yang membawa mereka mendekati lambung kapal besar.

Arus Kuat, Maut Datang

Pukul 03.15 WIB, arus pasang laut berubah tiba-tiba. Pusaran air menghantam sisi pompong yang tengah bersandar di buritan MV Himala V.195. Perahu sepanjang delapan meter itu oleng ke kiri, lalu ke kanan, sebelum akhirnya terbalik dan langsung ditelan gelapnya perairan Selat Panjang. “Saya lihat Pak Aditya sempat terdorong ke depan, mungkin berusaha mengamankan dokumen yang dibawanya,” tutur Ridwan, seorang anggota tim yang selamat, dengan suara bergetar saat dihubungi, Selasa (8/7/2026). “Semua terjadi begitu cepat. Saya dan dua teman lain bisa berenang ke badan kapal besar, tapi arus menarik dia ke bawah.” Tim SAR yang dikerahkan dari pos terdekat baru menemukan jasad Aditya sekitar pukul 07.00 WIB, terapung di antara serpihan kayu pompong yang hancur. Ia ditemukan masih mengenakan seragam dinas biru tua yang telah direndam air laut berjam-jam.

Senyum yang Tak Lagi Pulang

Bagi keluarga di Pekanbaru, Aditya bukan sekadar pegawai Bea Cukai. Ia adalah suami dari Dina (32) dan ayah dari dua anak lelaki berusia 7 dan 4 tahun. Sehari sebelum insiden, ia masih sempat melakukan panggilan video dengan putra sulungnya yang merengek minta dibawakan oleh-oleh dari Pelabuhan. > “Bapak cuma bilang, ‘Doakan Bapak ya, Nak. Tugas kali ini agak berat,’ dan tersenyum seperti biasa,” kenang Dina, istrinya, di rumah duka kawasan Simpang Tiga, Pekanbaru. “Tak pernah terbayang itu adalah percakapan terakhir kami.” Di kantornya, Aditya dikenal sebagai pribadi yang tenang dan teliti. Rekan-rekannya menyebut ia sering menjadi tempat bertanya soal teknis pengawasan barang ekspor, terutama komoditas sawit yang menjadi andalan daerah Riau.
“Adit itu tipe pekerja yang tidak banyak bicara, tapi kalau soal final draft dan draft survey, dia jagonya,” ujar Hendra Gunawan, Kepala Seksi Pengawasan Bea Cukai Pekanbaru. “Malam itu dia bahkan yang mengusulkan agar pemeriksaan dilakukan lebih awal supaya kapal bisa segera berlayar. Dedikasinya luar biasa.”

Pengorbanan di Garis Depan

Tragedi ini menyentak kesadaran banyak pihak tentang risiko yang dihadapi aparatur negara di lapangan. Kegiatan pengawasan di perairan terbuka, terutama pada jam-jam dini hari saat kapal kargo bersiap berlayar, menyimpan ancaman yang kerap tak terlihat. Mulai dari cuaca ekstrem, arus liar, hingga kelelahan fisik petugas yang harus bekerja melampaui batas normal. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui juru bicaranya menyampaikan duka mendalam dan memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan petugas di lapangan. Sementara itu, pihak keluarga telah menerima santunan dan jaminan pendidikan bagi kedua anak Aditya hingga jenjang perguruan tinggi, sesuai ketentuan yang berlaku bagi pegawai yang gugur dalam tugas. Di Pelabuhan Tanjung Buton, aktivitas bongkar muat kembali berjalan seperti biasa pada keesokan harinya. Namun bagi mereka yang mengenal Aditya, sebuah kursi kosong di sudut kantor Bea Cukai Pekanbaru akan menjadi pengingat sunyi: bahwa di balik setiap ton komoditas yang melintasi perairan ini, ada nyawa yang pernah menjaga agar semuanya berjalan jujur, tepat, dan sempurna—meski harus dibayar dengan kehilangan yang tak tergantikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User