Jakarta — Disfungsi Ereksi Tak Hanya Serang Lansia, Pria Muda Semakin Banyak Terdampak
Ketika Andi (32) pertama kali mengalami kesulitan mempertahankan ereksi, ia menyalahkan kelelahan. Sebagai manajer proyek di perusahaan startup, ia bekerja
Ketika Andi (32) pertama kali mengalami kesulitan mempertahankan ereksi, ia menyalahkan kelelahan. Sebagai manajer proyek di perusahaan startup, ia bekerja 12 jam sehari, merokok sebungkus, dan jarang berolahraga. Namun saat kejadian itu berulang, rasa percaya dirinya runtuh. “Saya merasa bukan laki-laki seutuhnya,” kisahnya pada Beritaseputar, dengan suara bergetar. Andi bukan kasus langka. Di Indonesia, gangguan ereksi—yang dulu identik dengan penuaan—kini semakin banyak dikeluhkan pria berusia 20 hingga 30 tahun.
Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (PERSANDI) menunjukkan bahwa sekitar 30% pasien disfungsi ereksi (DE) yang datang ke klinik berusia di bawah 40 tahun, naik dari 15% satu dekade lalu. Angka ini sejalan dengan survei global yang menyebutkan bahwa 1 dari 4 pria dewasa pernah mengalami setidaknya satu episode ereksi yang tidak memuaskan dalam setahun terakhir. “Banyak yang mengira ereksi sekadar urusan aliran darah, padahal ini simfoni rumit antara otak, hormon, saraf, dan emosi,” ujar dr. Reza Mahendra, Sp.And, dari RS Cipto Mangunkusumo, dalam wawancara eksklusif.
Gaya Hidup Modern dan Derita di Balik Selimut
Jika dulu penyebab utama disfungsi ereksi adalah faktor vaskular akibat penuaan, kini pola hidup tidak sehat menjadi tersangka utama. Pola makan tinggi lemak jenuh, minim serat, dan konsumsi alkohol berlebih memicu obesitas serta diabetes tipe 2 yang merusak pembuluh darah kecil di penis. Rokok—dengan ribuan zat racunnya—menyempitkan arteri dan mengurangi aliran darah. Data Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) mencatat, perokok memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi mengalami DE dibanding non-perokok.
Namun yang lebih mengejutkan adalah peran stres kronis dan kesehatan mental. Pria modern dituntut tampil sempurna—dari karier, finansial, hingga citra di media sosial. Ketika otak terus-menerus dibanjiri kortisol (hormon stres), produksi testosteron menurun drastis. “Saya melihat pasien muda dengan kadar testosteron normal, tapi ereksinya gagal karena pikirannya penuh kecemasan,” kata Rina Widowati, M.Psi., psikolog klinis yang menangani banyak kasus kecemasan performa seksual. “Mereka bukan sakit secara fisik, tapi sakit secara jiwa. Satu kegagalan ereksi bisa menciptakan lingkaran setan: takut gagal lagi, lalu benar-benar gagal.”
Perbandingan Faktor Risiko Berdasarkan Usia
| Faktor Risiko | Usia 20-35 Tahun | Usia 36-50 Tahun | Di atas 50 Tahun |
|---|---|---|---|
| Stres/Kecemasan | Tinggi | Sedang | Rendah |
| Obesitas/Diabetes | Meningkat | Tinggi | Sangat Tinggi |
| Penyakit Jantung | Rendah | Sedang | Tinggi |
| Gangguan Hormonal | Rendah | Sedang | Tinggi |
| Konsumsi Pornografi Berlebih | Tinggi | Sedang | Rendah |
Meski demikian, dr. Reza mengingatkan bahwa disfungsi ereksi bisa menjadi penanda awal penyakit serius. “Pada pria muda tanpa faktor risiko klasik, DE seringkali merupakan alarm dari diabetes tersembunyi atau gangguan pembuluh darah yang baru muncul. Jadi, jangan pernah malu untuk memeriksakan diri.”
Dari Stigma Menuju Pemulihan
Stigma bahwa “pria sejati selalu bisa ereksi” membuat banyak penderita memendam masalahnya sendiri. Mereka enggan berkonsultasi ke dokter, memilih membeli obat kuat ilegal, atau malah menghindari hubungan intim sama sekali. Akibatnya, hubungan dengan pasangan memburuk, perceraian terjadi, dan kesehatan mental mereka semakin terpuruk. Rina bercerita tentang seorang klien yang nyaris bunuh diri karena merasa tidak berguna setelah tiga tahun menyembunyikan DE dari istrinya. “Ketika akhirnya dia bercerita, istrinya menangis dan bilang, ‘Aku kira kamu sudah tidak cinta lagi.’ Komunikasi adalah kunci pertama,” ujar Rina.
Pengobatan DE saat ini tidak hanya mengandalkan obat kuat. Terapi psikoseksual, perubahan gaya hidup (olahraga rutin, berhenti merokok, pola makan seimbang), serta latihan kegel untuk menguatkan otot dasar panggul terbukti efektif. Dalam kasus tertentu, dokter akan meresepkan obat penghambat PDE5 seperti sildenafil, namun hanya setelah diagnosis menyeluruh. Yang terpenting, kata dr. Reza, adalah deteksi dini. “Semakin cepat masalah ini diatasi, semakin besar peluang sembuh total tanpa perlu obat seumur hidup.”
Bagi Andi, perjalanan menuju pemulihan dimulai dari satu langkah kecil: mengakui bahwa dirinya butuh bantuan. Setelah berkonsultasi dengan androlog dan psikolog, serta berhenti merokok, ia kini bisa kembali menikmati hubungan intim bersama istrinya. “Ternyata, menjadi jantan bukan berarti tidak pernah tumbang. Tapi berani bangkit dan mencari solusi,” katanya, tersenyum.
Comments (0)