JAKARTA — Denting gitar dan hentakan drum menggema di gelombang udara pagi
Di sebuah sudut Purbalingga, Sunaryo—atau yang akrab disapa Paguru—tersenyum haru mendengar lagunya mengalun di mana-mana. “Ini sebuah kehormatan,” katanya
Di sebuah sudut Purbalingga, Sunaryo—atau yang akrab disapa Paguru—tersenyum haru mendengar lagunya mengalun di mana-mana. “Ini sebuah kehormatan,” katanya lirih, Selasa (30/6/2026). “Kami hanya guru biasa, ingin menyampaikan sesuatu yang penting lewat musik.” Paguru, yang juga pemilik Kawasan Wisata Samingah Wised, tahu betul bahwa kritik sosial yang dibungkus melodi pop rock bisa lebih mudah menyentuh hati daripada sekadar wejangan di kelas.
Lagu itu lahir dari keresahan. Sebagai guru, Paguru melihat betapa tingkah laku figur panutan membekas lebih dalam daripada hapalan rumus. “Kalau guru berbuat salah sedikit saja, murid bisa melakukan kesalahan lebih banyak. Sebaliknya, kalau guru memberi kebaikan, murid juga akan melakukan lebih banyak kebaikan,” ujarnya terbata, menahan emosi. Metafora “kencing” dalam judul sengaja dipilih karena mewakili hal-hal kecil yang dianggap remeh, namun dampaknya bisa lari jauh ke mana-mana.
Pengamat budaya pop dari Universitas Jenderal Soedirman, Dr. Ratna Dewi, menilai langkah D’Guru fenomenal. “Di tengah gempuran lagu cinta galau, mereka menghadirkan kritik sosial yang cerdas. Ini bentuk literasi budaya yang patut diapresiasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa pemutaran serentak di 32 radio menunjukkan adanya dahaga publik akan musik yang bermakna.
Lebih dari Sekadar Lagu Kritik
Tidak hanya “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”, D’Guru juga meluncurkan dua lagu lain: “Dolanan Rakyat” dan “Balada Pekerja”. Ketiganya bisa dinikmati di berbagai platform digital. Namun, single baru ini menjadi pembicaraan justru karena ia menampar dengan halus, mengajak pendengarnya merenung sejenak tentang peran panutan di negeri ini.
| Judul Lagu | Tahun Rilis | Tema | Respon Publik |
|---|---|---|---|
| Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari | 2026 | Kritik keteladanan | Diputar serentak, viral di medsos |
| Dolanan Rakyat | 2026 | Pelestarian budaya | Diterima kalangan pendidik |
| Balada Pekerja | 2026 | Nasib kaum pekerja | Dinyanyikan di aksi buruh |
| Pejabatku | 2024 | Satire politik | Sering diputar di radio kampus |
D’Guru terbentuk sejak 2013. Digawangi oleh Sunaryo (vokal), Gie (gitar), Fry (bass), dan Erwin (drum), mereka konsisten menyuarakan kritik sosial lewat lirik yang lugas. Bukan tanpa risiko, beberapa stasiun radio sempat ragu memutar lagu mereka. Namun, Paguru tetap teguh. “Kami generasi tua yang ingin tetap berkarya. Sebagai guru, kami ingin mewariskan petuah, bukan sekadar hiburan,” tegasnya.
Band ini sebelumnya telah melepas lagu “NKRI”, “Penjaga Negeri”, hingga “Pejabatku”. Semuanya memuat benang merah yang sama: cinta tanah air dan gugatan halus kepada para pemegang kekuasaan. “Kami ingin generasi muda terinspirasi. Kita semua bisa menjadi sumber kebaikan,” ucap Paguru, menutup perbincangan dengan nada optimistis.
Comments (0)