Jakarta — Ayam Asam Manis Solaria Jadi Favorit Pelanggan Setia
Bagi Sari (34), ibu rumah tangga di bilangan Jakarta Selatan, sepiring ayam asam manis ala Solaria bukan sekadar menu makan siang. Aroma saus tomat yang se
Bagi Sari (34), ibu rumah tangga di bilangan Jakarta Selatan, sepiring ayam asam manis ala Solaria bukan sekadar menu makan siang. Aroma saus tomat yang segar berpadu dengan potongan ayam goreng renyah langsung membawanya kembali ke masa-masa awal pernikahan, ketika ia dan suami pertama kali jatuh hati pada hidangan Kanton yang satu ini. “Rasanya selalu pas, nggak terlalu asam, manisnya juga lembut—bedanya yang bikin nagih itu kuahnya yang kental banget,” ujar Sari sambil tersenyum, mengenang kunjungan pertamanya ke gerai Solaria di kawasan Blok M lebih dari satu dekade silam.
Kini, setiap kali keluarga kecilnya berkumpul—baik untuk merayakan ulang tahun, syukuran kecil, atau sekadar melepas rindu, menu ayam asam manis pesanan daring dari Solaria selalu hadir di meja makan. Kisah Sari hanyalah satu dari ribuan pelanggan yang menjadikan hidangan ini sebagai "comfort food" lintas generasi, sebuah fenomena kuliner yang tumbuh diam-diam menjadi denyut nadi sosial di banyak keluarga urban.
Awal Mula Kecintaan pada Citra Rasa Kanton
- Tahun 2005: Solaria membuka gerai pertamanya, menyajikan aneka masakan Indonesia dan Chinese food yang mudah diterima lidah lokal. Ayam asam manis—yang dalam tradisi Kanton dikenal sebagai koloke atau ayam kuluyuk—menjadi salah satu menu andalan sejak awal.
- Tahun 2010: Seiring ekspansi gerai hingga lebih dari 80 titik di Jabodetabek, formula bumbu ayam asam manis disempurnakan. Chef senior Solaria, Pak Hendra (52), mengisahkan, “Kami tidak mau sekadar ikut-ikutan. Kami ingin menciptakan saus yang melekat di hati, jadi kami berani menambah takaran tepung maizena sedikit lebih banyak agar kuahnya benar-benar kental melapisi ayam.”
- Masa pandemi 2020: Pesanan daring melonjak. Sari mengaku, “Justru saat pandemi kami makin sering pesan. Rasanya seperti ada yang menguatkan—makanan yang sama sejak awal pernikahan, tetap bisa dinikmati meski dunia sedang susah.” Data internal menunjukkan, menu ayam asam manis bertahan di posisi tiga besar penjualan Solaria sepanjang tahun tersebut.
Rahasia Kuah Kental yang Menghangatkan
Berbeda dengan versi ayam asam manis kebanyakan yang cenderung encer, kuah racikan Solaria punya tekstur glossy dan kental yang membuatnya menempel sempurna di setiap gigitan ayam goreng tepung. Kuncinya, menurut Pak Hendra, terletak pada kesabaran mengaduk larutan maizena dan perbandingan saus tomat, cuka, serta gula yang dihitung cermat.
“Kadang pelanggan tanya, kenapa di rumah nggak bisa sekental ini? Jawabannya karena kami punya tim yang setiap pagi menyiapkan saus dalam jumlah besar dengan teknik slow simmer, sehingga pati jagungnya matang sempurna tanpa menggumpal,” jelasnya. Proses ini menjaga kelembapan daging ayam yang digoreng dua kali metode khas restoran, menciptakan sensasi crunchy di luar namun tetap juicy di dalam.
Dari Dapur Restoran ke Meja Keluarga
Bagi Sari, keistimewaan ayam asam manis Solaria bukan hanya soal teknis. “Ini soal kenangan,” katanya lirih. “Dulu saya dan suami sering berbagi satu piring saat masih hemat-hematnya. Sekarang, anak kami yang berusia 7 tahun ikut suka. Dia selalu minta ‘ayam merah’ kalau kami tanya mau makan apa.” Kisah serupa bermunculan dari komunitas daring ibu-ibu muda yang kerap merekomendasikan menu ini sebagai penyelamat acara keluarga mendadak.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana sepiring ayam asam manis bisa menjadi benang merah lintas waktu—menghubungkan kenangan, selera, dan ikatan emosional keluarga urban. Dari dapur Solaria yang sibuk hingga ke meja rumah-rumah sederhana, kuah kental yang hangat itu rupanya tak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga hati yang merindukan kebersamaan.
Comments (0)