Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Pembeli Dimaki "Tuli" Usai Tunjukkan Bukti Bayar QRIS ke Penjual

Sebuah niat baik untuk bertransaksi secara jujur justru berubah menjadi pengalaman pahit bagi seorang pembeli ayam gunting di kawasan Jakarta. Alih-alih me

Jul 09, 2026 - 00:37
0 0
Jakarta — Pembeli Dimaki "Tuli" Usai Tunjukkan Bukti Bayar QRIS ke Penjual

Sebuah niat baik untuk bertransaksi secara jujur justru berubah menjadi pengalaman pahit bagi seorang pembeli ayam gunting di kawasan Jakarta. Alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih setelah menunjukkan bukti pembayaran QRIS, ia malah menerima makian kasar yang menyayat hati: "tuli."

Peristiwa yang terekam dan viral di media sosial itu langsung memantik kemarahan publik. Netizen ramai-ramai mengecam sikap pedagang yang dinilai tidak menghargai etika paling dasar dalam berbisnis: menghormati pelanggan.

Kronologi: Bukti Pembayaran yang Berbuah Luka

Kronologi bermula ketika pembeli yang tak disebutkan namanya itu mendatangi sebuah lapak ayam gunting. Setelah memesan dan menerima dagangannya, ia melakukan pembayaran secara nontunai melalui QRIS. Merasa perlu memberikan kepastian, ia pun menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan notifikasi transaksi sukses kepada sang penjual.

Namun respons yang ia terima sungguh di luar dugaan. Penjual tersebut—yang tampaknya tidak sabar atau mungkin sudah terbawa emosi sejak awal—menanggapinya dengan bentakan dan makian. Kata "tuli," yang berarti tuli, meluncur begitu saja, seolah merendahkan si pembeli yang hanya ingin memastikan bahwa transaksi mereka bersih.

"Saya cuma tunjukin HP biar jelas, biar enggak ada salah paham. Eh malah dimaki. Rasanya campur aduk, malu, kesal, dan sedih. Sampai rumah, ayamnya saja saya enggak selera makan," ujar korban saat dihubungi melalui pesan singkat, suaranya masih menyiratkan getar kecewa.

Luka Mikro dalam Transaksi Digital

Kejadian ini sebenarnya merefleksikan fenomena yang lebih luas. Di tengah gegap gempita digitalisasi transaksi, masih ada ruang-ruang interaksi manusia yang rentan terluka. Persoalannya bukan hanya soal teknis pembayaran, melainkan tentang penghargaan terhadap martabat seseorang. Si pembeli melakukan hal yang benar—menunjukkan bukti—namun justru dihukum secara verbal.

Pengamat perilaku konsumen, Irma Dewanti, menilai bahwa insiden ini adalah akibat dari stres ekonomi yang kerap tidak terkelola dengan baik oleh pelaku UMKM mikro. "Pedagang itu mungkin lelah, omzet seret, atau sudah kesal duluan dengan sesuatu yang lain. Tapi tetap saja tidak ada pembenaran untuk memaki pembeli yang sedang menunjukkan itikad baik," tuturnya.

Hikmah dan Ragam Wajah Kuliner yang Menyejukkan

Di sisi lain, kabar yang lebih menghangatkan datang dari dunia per-mie-an. Tujuh pilihan mi instan terbaik versi Smarter Ranking baru saja diumumkan, dan sang legenda, Indomie, kembali menempati daftar bergengsi tersebut bersama dengan merek-merek global lainnya. Seakan menjadi pengingat bahwa di luar konflik, citarasa negeri ini tetap diakui, dan semangkuk mi hangat kerap menjadi obat bagi hati yang terluka.

Begitu pula dengan kawasan Rawamangun yang menyimpan harta karun kuliner legendaris. Siapa yang tak kenal Bakmi Tasik dengan racikan ayamnya yang gurih, atau Soto Bening Klaten Bu Poniyem yang kuah segarnya selalu bikin kangen? Cerita-cerita ini menjadi penyeimbang: bahwa dalam satu lanskap kota yang sama, bisa terjadi luka karena makian, namun juga ada kehangatan yang ditawarkan oleh sepiring hidangan penuh dedikasi.

Semoga insiden makian itu menjadi refleksi bersama. Bagi pedagang, sepatah kata buruk bisa menghancurkan reputasi yang dibangun puluhan tahun. Bagi pembeli yang terluka, mungkin semangkuk soto legendaris bisa sedikit mengembalikan rasa percaya pada dunia kuliner yang seharusnya memuaskan perut sekaligus memanusiakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User