Industri Farmasi Mulai Terapkan Operasional Hijau dan Manfaatkan Energi Terbarukan
JAKARTA — Industri farmasi nasional kini tak hanya berfokus pada inovasi obat, tetapi juga mulai serius membenahi dampak lingkungan dari operasional mereka
JAKARTA — Industri farmasi nasional kini tak hanya berfokus pada inovasi obat, tetapi juga mulai serius membenahi dampak lingkungan dari operasional mereka. Langkah menuju operasional hijau ini menjadi babak baru bagi sektor yang selama ini dikenal dengan konsumsi energi tinggi dan rantai pasok yang kompleks. Pemanfaatan energi terbarukan, efisiensi air, hingga pengelolaan limbah farmasi yang bertanggung jawab kini menjadi prioritas.
Salah satu inisiatif nyata datang dari PT Kalbe Farma Tbk, yang mulai memasang panel surya di fasilitas produksinya di Cikarang. Langkah ini, menurut SVP Corporate Communication Kalbe, Dyah Puspita, merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan.
"Kami menargetkan pengurangan emisi karbon hingga 30 persen pada 2030. Saat ini, panel surya yang terpasang sudah menyuplai sekitar 15 persen kebutuhan listrik di pabrik Cikarang,"ungkapnya saat ditemui di sela acara Indonesia Green Industry Summit, Selasa.
Distribusi Ramah Lingkungan Jadi Sorotan
Tak hanya di level produksi, penguatan sistem distribusi obat yang memenuhi standar regulator juga menjadi bagian dari strategi hijau ini. Distribusi farmasi memiliki tantangan unik karena produk obat kerap memerlukan suhu terkontrol, yang secara tradisional membutuhkan energi besar. Sejumlah perusahaan kini beralih ke kendaraan listrik untuk distribusi jarak menengah, serta mengoptimalkan rute pengiriman dengan teknologi AI agar konsumsi bahan bakar lebih efisien.
Direktur Logistik PT Kimia Farma, Andi Setiawan, menyebut pihaknya telah mengintegrasikan sistem cold chain hemat energi di 12 titik distribusi utama.
"Kami mengganti refrigerant lama dengan yang lebih ramah lingkungan dan menggunakan sensor IoT untuk memantau suhu secara real-time. Ini tidak hanya menekan jejak karbon, tapi juga memastikan kualitas obat tetap terjaga hingga ke tangan pasien,"jelasnya.
Regulasi dan Insentif Hijau
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian juga mendorong percepatan transformasi ini dengan memberikan insentif fiskal bagi perusahaan farmasi yang memenuhi standar industri hijau. Sertifikasi green industry dan standar ISO 14001 kini menjadi acuan yang semakin diwajibkan dalam tender pengadaan obat nasional.
Pengamat farmasi dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Dewi, menilai langkah ini sudah tepat namun perlu pengawasan ketat.
"Operasional hijau di sektor farmasi bukan tren, melainkan keniscayaan. Tapi jangan sampai ini hanya jadi label pemasaran. Perlu audit independen secara berkala untuk memastikan klaim keberlanjutan ini benar-benar dijalankan,"katanya.
Sementara itu, masyarakat mulai merasakan dampak positif dari perubahan ini. Beberapa apotek besar kini menyediakan drop box khusus untuk obat kedaluwarsa, mencegah pembuangan obat sembarangan yang dapat mencemari air tanah. Dengan sinergi antara pelaku industri, regulator, dan konsumen, operasional hijau di sektor farmasi diharapkan bukan hanya menjadi wacana, melainkan standar baru yang mengawal kesehatan manusia dan bumi secara bersamaan.
Comments (0)