Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Ottawa — Kanada Tinjau Ulang Jet Tempur, Gripen Saab Goyang Dominasi F-35

Langit politik dan pertahanan Kanada tengah diwarnai keraguan yang semakin pekat. Di hanggar-hanggar dingin Ottawa, para perwira dan teknisi membayangkan m

Jul 08, 2026 - 06:49
0 0
Ottawa — Kanada Tinjau Ulang Jet Tempur, Gripen Saab Goyang Dominasi F-35

Langit politik dan pertahanan Kanada tengah diwarnai keraguan yang semakin pekat. Di hanggar-hanggar dingin Ottawa, para perwira dan teknisi membayangkan mesin yang akan menjaga perbatasan luas mereka — dan pilihan itu tidak lagi otomatis jatuh pada F-35 Lightning II. Nama Gripen E buatan Saab, Swedia, kembali berseliweran di koridor parlemen, menantang pesawat siluman Amerika dalam perdebatan yang tak sekadar soal spesifikasi mesin perang.

Kanada masih menimbang ulang rencana pembelian 88 unit jet tempur yang semula digadang-gadang senilai 19 miliar dolar Kanada. Sebuah jumlah yang bagi warga biasa terasa abstrak, tetapi dampaknya akan menyentuh pabrik, lapangan kerja, dan bahkan cara anak-anak di Yellowknife memandang langit yang tenang.

"Ini bukan sekadar kontrak. Kita bicara tentang napas pertahanan negara selama 40 tahun ke depan. Setiap dolar yang kita belanjakan harus memastikan bahwa pilot kita bisa lepas landas dari landasan pendek di Arktik, dan bahwa bengkel di Quebec tetap hidup,"

ujar Brigadir Jenderal (Purn.) Marc Doucet, mantan komandan Wing Bagotville, saat ditemui di sela-sela forum keamanan di Montreal, Selasa (15/7).

Di atas kertas, F-35 adalah mesin siluman paling canggih dengan sensor fusi data yang mampu melumpuhkan musuh sebelum terdeteksi. Namun Gripen E menawarkan narasi berbeda: biaya operasi dua pertiga lebih rendah per jam terbang, kemampuan lepas landas dari jalan raya biasa (road base) yang krusial di bentang alam Arktik Kanada, dan — yang paling menyentuh sisi manusiawi — kesediaan Saab untuk mentransfer teknologi penuh dan membangun ekosistem industri di dalam negeri.

Di balik angka dan kurva radar, ada wajah-wajah yang gelisah. Marie-Claire Bélanger, seorang teknisi avionik di pabrik komponen pesawat di Mirabel, mengaku keluarganya sudah merasakan ketidakpastian sejak hubungan dagang Kanada-Amerika memanas.

"Suami saya bekerja di lini perakitan yang berharap mendapat kontrak turunan F-35. Tapi dengan tarif baru dan retorika 'America First' dari Washington, kami tak yakin lagi. Gripen mungkin memberi kami pekerjaan yang lebih pasti karena Saab berjanji membangun kemitraan lokal, bukan sekadar menjual barang jadi,"

katanya dengan suara bergetar, Selasa lalu.

Kegamangan ini memang tak lepas dari konteks geopolitik. Pemerintahan Trump kala itu memberlakukan tarif baja dan aluminium yang menyakiti industri Kanada, serta kerap meremehkan kontribusi Ottawa dalam NATO. Kini, setelah transisi kekuasaan di AS, memori itu masih membekas. Banyak anggota parlemen dari Partai Liberal dan Bloc Québécois mulai mempertanyakan logika menggantungkan pertahanan pada negara yang sewaktu-waktu bisa menjadikan suku cadang sebagai alat diplomasi paksa.

Arktik dan Nyawa Pilot Lebih Penting dari Stealth

Bagi warga sipil di utara, perdebatan ini terasa sangat dekat. Di Iqaluit, Nunavut, landasan pacu sering tertutup es dan angin kencang. Gripen E dirancang untuk dirawat oleh satu tim teknisi dan beberapa wajib militer dalam waktu 10 menit di jalan raya beku — sesuatu yang mustahil dilakukan F-35 dengan lapisan siluman dan keperluan hanggar khusus.

"Saya pernah menerbangkan kedua prototipe dalam simulasi operasi Arktik. Gripen terasa lebih lentur, lebih memaafkan. Kalau mesin mati di tengah badai salju, saya lebih ingin duduk di kokpit Gripen,"

tutur Kapten (Pnb.) David Lépine, pilot uji yang kini menjadi instruktur di sekolah penerbangan tempur, Rabu pagi (16/7).

Sementara itu, Lockheed Martin belum tinggal diam. Mereka menawarkan paket offset industri dan menegaskan interoperabilitas F-35 dengan sistem NORAD dan NATO. Namun bagi banyak warga Kanada, kata “interoperabilitas” terdengar seperti kendali asing atas tombol tempur mereka sendiri.

Perbandingan ini kembali mengemuka karena parlemen Kanada harus segera memutuskan: melanjutkan pembelian F-35 yang sudah ditandatangani oleh pemerintah sebelumnya, atau memberi kesempatan resmi bagi Saab untuk mengajukan penawaran final. Minggu-minggu ke depan adalah jendela emas yang akan menentukan apakah langit Kanada nanti diwarnai siluet F-35 atau Gripen yang ramping.

Di rumah-rumah sederhana di Trois-Rivières, keluarga seperti Bélanger hanya bisa berdoa agar keputusan politik itu membawa kepastian — bukan sekadar jet tempur, melainkan masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User