Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Pulisic Kecewa Berat Usai AS Tersingkir di 16 Besar

SEATTLE — Hujan rintik-rintik membasahi Lumen Field, seakan ikut menangisi langkah Timnas Amerika Serikat yang terhenti di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Jul 08, 2026 - 06:52
0 1
Pulisic Kecewa Berat Usai AS Tersingkir di 16 Besar
SEATTLE — Hujan rintik-rintik membasahi Lumen Field, seakan ikut menangisi langkah Timnas Amerika Serikat yang terhenti di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Di tengah lapangan, Christian Pulisic berdiri mematung. Kedua tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk. Butuh waktu lama baginya untuk akhirnya berjalan ke tepi lapangan, di mana air mata sudah tak terbendung lagi. “Ini adalah kekecewaan terbesar dalam karier saya,” ucap Pulisic dengan suara bergetar di zona campuran, matanya masih sembab. “Kami punya segalanya: bermain di kandang sendiri, dukungan puluhan ribu suporter, dan skuad terbaik yang pernah dimiliki negara ini. Dan kami gagal. Saya gagal.” Amerika Serikat kalah 1-2 dari Kroasia dalam laga yang berlangsung sengit hingga menit akhir. Sempat unggul lebih dulu lewat gol Timothy Weah di menit ke-34, keunggulan AS buyar setelah Kroasia membalikkan keadaan melalui dua gol di babak kedua—masing-masing dari sepakan jarak jauh Luka Modric dan sundulan Josko Gvardiol memanfaatkan bola mati. Pulisic, yang mengenakan ban kapten, menciptakan dua peluang emas dan satu assist kunci, namun penampilan gemilang kiper Dominik Livakovic menggagalkan setiap upaya AS. Yang membuat kekalahan ini begitu menyayat hati adalah konteksnya. Piala Dunia 2026 adalah momen bersejarah bagi Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama. Ekspektasi publik melambung tinggi, terutama setelah performa impresif di fase grup yang membuat mereka lolos sebagai juara grup. Publik Amerika—yang biasanya acuh terhadap sepak bola—tiba-tiba berubah menjadi lautan penggemar fanatik. Layar raksasa di Times Square dipenuhi penonton. Bar-bar di Seattle penuh sesak. Bahkan Presiden AS menyempatkan hadir di stadion. “Anak saya yang berusia 10 tahun menangis di tribun,” kata Maria Gonzalez, seorang guru sekolah dasar dari Portland yang hadir bersama keluarganya. “Dia memakai jersey Pulisic. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa pahlawannya juga manusia biasa yang bisa kalah.”

Perbandingan Performa: Pulisic di Tiga Edisi Piala Dunia

Aspek2018 (Tidak Lolos)2022 (16 Besar)2026 (16 Besar)
Gol-21
Assist-03
Peluang Tercipta-814
Menit Bermain-350390
Status TimTidak lolosTersingkir 16 besarTersingkir 16 besar
Data menunjukkan Pulisic justru tampil lebih kreatif di 2026—menciptakan 14 peluang sepanjang turnamen, nyaris dua kali lipat dari 2022. Tapi kreativitas tak selalu berbanding lurus dengan gol. “Ini paradoks yang menyakitkan: dia adalah pemain terbaik di lapangan malam ini, tapi juga yang paling patah hati,” ujar mantan pemain nasional Landon Donovan yang kini menjadi komentator televisi. “Pulisic melakukan segalanya dengan benar. Kadang sepak bola memang tidak adil.” Rekan setimnya, Weston McKennie, mencoba menghibur di lorong stadion. “Dia saudara saya. Kami tumbuh bersama di tim junior. Melihat dia seperti ini... rasanya lebih sakit daripada kekalahan itu sendiri.” McKennie memeluk Pulisic cukup lama. Tak ada kata-kata yang terucap. Hanya diam yang penuh pengertian. Beban sebagai kapten tim tuan rumah di Piala Dunia, bagi Pulisic, bukan sekadar fungsi teknis di lapangan. Ia menjelma simbol harapan satu bangsa yang sedang belajar mencintai “soccer”—bangsa yang ingin membuktikan bahwa mereka bisa bersaing di panggung tertinggi olahraga paling populer dunia. Setiap konferensi pers, setiap sesi latihan terbuka, setiap unggahan media sosialnya dipantau jutaan pasang mata. Tekanan itu tak kasat mata, tapi memiliki gravitasi yang luar biasa. “Saya tidak akan berpura-pura: ini akan menghantui saya untuk waktu yang lama,” kata Pulisic, kali ini dengan nada lebih tenang namun getir. “Tapi saya akan bangkit. Kami akan bangkit. Negara ini pantas mendapatkan lebih.” Perkataan itu, meskipun dilontarkan dalam duka, membawa secercah keteguhan yang justru membuat para penggemar semakin mencintainya. Di Seattle malam itu, meski langit mendung dan hati remuk, sebuah benih tetap tertanam: bahwa kekecewaan ini, sepahit apa pun, adalah bagian dari perjalanan menuju kejayaan yang lebih besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User