Hari Pertama Sekolah di Depok Kini Jadi Momen Kebersamaan Keluarga

Pagi itu, mentari belum sepenuhnya meninggi saat tangan-tangan kecil itu menggenggam jemari ayah dan ibu mereka. Di halaman sekolah, pemandangan tak biasa mulai terlihat: para orang tua tidak hanya me...

Jul 12, 2026 - 22:20
0 0

Pagi itu, mentari belum sepenuhnya meninggi saat tangan-tangan kecil itu menggenggam jemari ayah dan ibu mereka. Di halaman sekolah, pemandangan tak biasa mulai terlihat: para orang tua tidak hanya menurunkan anak di depan gerbang, tetapi justru masuk dan menemani langkah pertama sang buah hati ke dunia pendidikan. Inilah wajah baru hari pertama sekolah di Kota Depok, hasil dari imbauan resmi yang mengajak setiap orang tua untuk hadir secara utuh dalam momen penting tersebut.

Kebijakan itu tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan pemerintah kota. Tujuannya sederhana namun mendalam: mengembalikan makna hari pertama sekolah sebagai peristiwa keluarga, bukan sekadar ritual administratif. Dengan mengantarkan langsung, orang tua diharapkan mampu meredakan kecemasan anak, sekaligus mempererat ikatan emosional yang akan menjadi bekal sepanjang tahun ajaran. Bagi banyak anak, kehadiran ayah atau ibu di bangku kelas baru adalah suntikan keberanian yang tak tergantikan.

Langkah Awal Membangun Tradisi

Di balik surat edaran itu, ada kesadaran bahwa kebiasaan mengantar anak pada hari pertama sekolah telah lama memudar. Kesibukan kerja dan rutinitas perkotaan kerap membuat orang tua terlalu cepat menyerahkan tanggung jawab itu kepada pengasuh, sopir, atau bahkan kendaraan umum. Pemerintah kota ingin mengubahnya. Gerakan ini dipandang sebagai titik awal menciptakan budaya yang lebih hangat dan terhubung antara keluarga dan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan setempat dalam sebuah kesempatan mengungkapkan, "Kami tidak sekadar meminta hadir secara fisik. Lebih dari itu, kami berharap setiap langkah kecil anak di pagi hari itu disaksikan oleh mata penuh cinta." Imbauan ini bersifat fleksibel; orang tua bisa menyesuaikan dengan kondisi pekerjaan, tetapi sangat dianjurkan agar setidaknya satu anggota keluarga meluangkan waktu. Sekolah-sekolah pun diinstruksikan untuk menyambut kedatangan orang tua dengan ruang dan suasana yang bersahabat.

Beberapa sekolah langsung merespons dengan menggelar acara penyambutan khusus. Di SDN Mekarjaya 7 misalnya, pagi itu para siswa baru disambut dengan hiasan balon dan papan nama kelas yang dipersonalisasi. Para orang tua duduk berdampingan dengan anak, mendengarkan arahan wali kelas sambil sesekali melempar senyum penuh harap. Suasana haru pecah di salah satu sudut kelas saat seorang ibu mendapati anaknya yang pemalu tiba-tiba mencium tangannya tanpa diminta; momen sederhana yang mungkin tak akan terjadi jika sang ibu hanya menunggu di rumah.

Alasan di Balik Imbauan

Alasan mendorong kebijakan ini jauh melampaui sekadar seremonial. Penelitian lokal yang dilakukan oleh tim psikologi pendidikan menunjukkan bahwa anak yang diantar orang tua pada hari pertama sekolah menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah dan proses adaptasi yang lebih cepat. Rasa aman yang ditransfer melalui genggaman tangan atau pelukan singkat di depan kelas mampu menjadi fondasi psikologis yang kokoh. Lebih dari itu, momen ini adalah jembatan komunikasi awal antara orang tua dan guru, membangun kepercayaan sejak dini.

"Saya biasanya berangkat kerja jam enam pagi, tapi hari ini saya izin telat dua jam," tutur Pratama, seorang ayah yang putranya masuk SDIT Al-Ikhlas. "Melihat dia duduk manis di kursi paling depan dan melambaikan tangan sambil tersenyum, rasanya dua jam itu sepadan dengan semua presentasi di kantor." Pratama mengaku, surat edaran yang ia terima lewat grup WhatsApp sekolah membuatnya sadar bahwa ia bisa mengatur ulang prioritas untuk satu hari yang tak akan terulang.

Tak hanya orang tua yang merasakan manfaatnya. Para guru pun menyampaikan bahwa anak-anak yang didampingi orang tua cenderung lebih tenang dan tidak rewel saat sesi perpisahan. Tangis yang biasa pecah di menit-menit pertama berkurang signifikan. "Biasanya kami harus menyiapkan stiker atau mainan untuk membujuk anak yang menangis. Hari ini, hampir tidak ada yang menangis lebih dari lima menit," ujar Ika, guru kelas satu di salah satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Cimanggis.

Respons Masyarakat dan Sekolah

Meski disambut baik, imbauan ini tentu tak lepas dari tantangan. Bagi orang tua yang bekerja di sektor informal atau dengan jam kerja ketat, meluangkan waktu pada jam sekolah bisa jadi dilema. Untuk itu, pemerintah kota tidak memberlakukan sanksi, melainkan mendorong fleksibilitas: mengantar bisa dilakukan oleh kakek, nenek, atau saudara dekat, asalkan ada figur keluarga yang mendampingi. Beberapa perusahaan di Depok bahkan merespons positif dengan memberi kebijakan toleransi keterlambatan khusus untuk hari pertama sekolah anak karyawan.

Media sosial perlahan menjadi ruang dokumentasi bagi momen-momen ini. Tagar #AntarAnakDepok sempat ramai diperbincangkan di kalangan warganet lokal. Banyak orang tua yang mengunggah foto bersama anak dengan latar gerbang sekolah, menceritakan kisah haru masing-masing. Dari sanalah benih kesadaran itu mulai menjalar: tradisi mengantar anak bukanlah beban, melainkan investasi emosional jangka panjang.

Sekolah-sekolah swasta pun ikut menyelaraskan program. Sebuah TK Islam di kawasan Sawangan menyelenggarakan sarapan pagi bersama di halaman sekolah sebelum kelas dimulai. "Kami ingin orang tua merasakan bahwa mereka adalah bagian dari ekosistem pendidikan, bukan sekadar penonton," kata kepala sekolah itu. Ia percaya, kolaborasi rumah dan sekolah dimulai dari langkah-langkah kecil dan konsisten.

Harapan Menuju Budaya Berkelanjutan

Gagasan terpenting dari surat edaran itu bukanlah seremoni satu hari. Pemerintah kota menitipkan harapan agar kebiasaan mendampingi anak di momen-momen penting tidak berhenti setelah bel pertama berbunyi. "Kalau hari pertama saja kita sudah berusaha hadir, semoga di hari-hari berikutnya — saat anak lomba, pentas, atau sekadar curhat tentang teman sekelasnya — kita juga tetap ada," demikian bunyi salah satu kalimat penutup dalam surat edaran yang dibacakan di banyak forum orang tua murid.

Hal ini diamini oleh Rina, seorang ibu tiga anak yang tahun ini mengantar putri bungsunya ke kelas satu. "Dulu saya sering absen di acara sekolah kakak-kakaknya karena alasan kerja. Penyesalan itu nyata. Sekarang, saya bertekad untuk lebih hadir, bukan hanya di hari pertama, tapi setiap kali anak butuh saya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Rina berharap, imbauan ini menjadi pengingat kolektif bahwa kehadiran adalah hadiah paling sederhana yang bisa diberikan orang tua.

Beberapa bulan setelah surat edaran berlaku, pemerintah kota berencana melakukan evaluasi. Bukan sekadar angka partisipasi, melainkan dampaknya pada iklim belajar dan kesejahteraan psikologis anak. "Kami ingin ini menjadi budaya, bukan proyek," ujar pejabat setempat. "Kalau semua orang tua merasa bahwa hadir di hari pertama itu penting, maka setengah dari persoalan transisi anak ke sekolah sudah selesai." Kini, di sudut-sudut kelas Depok, tidak hanya suara anak-anak yang terdengar, tetapi juga helaan napas lega dan bisikan doa dari para orang tua yang percaya bahwa setiap awal adalah permulaan paling suci dari segala kemungkinan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User