Presiden Prabowo: Korupsi BUMN Harus Berhenti, Rakyat Tunggu Bukti

Di sudut sebuah warung kopi sederhana di pinggiran Jakarta, Pak Tarmizi menuang cangkir demi cangkir dengan tangan yang masih bergetar. Ia bukan sekadar peracik kopi; ia adalah mantan pekerja proyek i...

Jul 12, 2026 - 22:46
0 0

Di sudut sebuah warung kopi sederhana di pinggiran Jakarta, Pak Tarmizi menuang cangkir demi cangkir dengan tangan yang masih bergetar. Ia bukan sekadar peracik kopi; ia adalah mantan pekerja proyek infrastruktur yang mangkrak karena dananya digerogoti. “Harusnya jembatan itu sudah berdiri,” katanya lirih, “tapi uangnya raib, dan saya cuma bisa ngopi begini.” Suaranya tenggelam dalam gemericik air yang mendidih. Hari itu, di televisi kecil yang menempel di dinding, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen yang barangkali menjadi secercah harapan bagi jutaan warga seperti Pak Tarmizi: memberantas korupsi di tubuh BUMN, tanpa pandang bulu.

Dengan nada yang tegas namun tak kehilangan sisi manusiawi, Presiden menyoroti praktik penyelewengan kekayaan negara yang selama ini menjadi luka terbuka di negeri ini. Ia tak sekadar meminta; ia memperingatkan para pelaku untuk segera menghentikan aksi mereka. “Kekayaan negara adalah titipan rakyat yang harus dijaga, bukan untuk ditilep segelintir orang,” demikian pesannya, seolah mewakili jeritan hati warga kecil yang selama ini hanya bisa menatap kosong.

Di Balik Dinding Kaca: Wajah-Wajah yang Terluka

Korupsi BUMN bukanlah angka abstrak di atas kertas laporan. Ia menjelma menjadi gedung yang tak kunjung jadi, listrik yang mahal, hingga obat-obatan yang langka di puskesmas terpencil. Di salah satu dusun di Nusa Tenggara Timur, seorang bidan desa mengisahkan bagaimana ia harus mencuci alat medis dengan air hujan karena proyek sanitasi yang dijanjikan tak pernah tuntas. Air mata menetes saat ia bercerita tentang bayi yang meninggal akibat infeksi yang seharusnya bisa dicegah. “Mereka yang di Jakarta mungkin tak pernah merasa,” katanya, “tapi kami di sini benar-benar berjuang sendirian.”

Kisah-kisah seperti ini yang coba disentuh oleh Presiden melalui retorika dan kebijakannya. Ia menegaskan bahwa pemberantasan korupsi bukan semata penegakan hukum, melainkan juga upaya mengembalikan mimpi-mimpi yang telah dicuri. Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut nama-nama BUMN yang rawan, mulai dari sektor energi, konstruksi, hingga pangan, dan menuntut transparansi total. “Saya sudah perintahkan audit menyeluruh. Jika ada yang terbukti korup, jangan harap bisa berlindung di balik jabatan.”

Janji di Tengah Badai: Komitmen atau Sekadar Angin?

Publik tentu bertanya-tanya: akankah tekad itu bertahan? Sebab, sejarah mencatat banyak retorika serupa yang akhirnya menguap begitu saja. Namun, ada yang berbeda kali ini. Presiden Prabowo tampil dengan bahasa yang membumi, tak lagi penuh diksi hukum yang menjemukan. Ia berbicara tentang “perjuangan bersama”, tentang “malu kalau anak cucu mewarisi budaya curang”. Di depan ratusan direktur BUMN yang hadir dalam acara peluncuran program antikorupsi, ia bahkan berhenti sejenak, menunduk, lalu berkata, “Kita semua orang tua. Apa yang mau kita tinggalkan? Gunungan utang dan malu?” Momen itu hening. Beberapa peserta tertunduk.

Komitmen itu diwujudkan dalam bentuk pembentukan satuan tugas khusus yang langsung bertanggung jawab kepada presiden. Langkah ini, meski belum teruji, memberi sinyal bahwa kali ini “perang” itu sungguhan. “Saya sudah bilang ke mereka: berhenti, kembalikan uang rakyat, atau berhadapan dengan saya,” ucapnya dalam sebuah wawancara eksklusif. Nada suaranya tak meninggikan intonasi, justru lebih getir dari marah.

Harapan yang Tumbuh dari Bilik-Bilik Sederhana

Berita tentang sikap tegas Presiden itu sampai ke telinga Pak Tarmizi lewat layar ponselnya yang retak. Ia tersenyum tipis, lalu menuangkan kopi pahit ke dalam gelas. “Semoga beneran,” gumamnya. Di belakang warungnya, tumpukan semen tua mengingatkan proyek yang dulu memberinya hidup. Ia tak lagi bekerja di sana, tapi ia masih percaya, mungkin suatu hari nanti pembangunan akan kembali bergerak—kali ini tanpa setetes pun uang yang hilang.

Di tingkat akar rumput, inspirasi baru mulai merekah. Komunitas-komunitas pemuda di beberapa daerah menggelar diskusi tentang pengawasan anggaran desa. Ibu-ibu di pasar tradisional ramai membicarakan berita ini sambil menimbang cabai. Seorang penjual sayur berkata, “Kalau benar presiden kita bisa bersihkan BUMN, mungkin harga minyak goreng bisa turun. Itu saja harapan saya.” Sederhana, namun menyentuh.

Presiden Prabowo tampaknya sadar bahwa kepercayaan yang retak tak bisa direkatkan semata oleh pidato. Perlu aksi nyata, perlu proses hukum yang transparan, dan yang terpenting, perlu keteladanan. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat yang meninggalkan bunyi panjang: “Mimpi kita besar, tapi korupsi adalah lubang yang bisa menelan seluruh mimpi itu. Mari kita tutup lubang itu, bersama.” Kata-kata itu bergema, terbawa angin ke warung-warung kopi, ke bilik-bilik sederhana, dan ke hati warga yang telah lama menanti bukti.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User