Dua Adik Dokter Icha Diperiksa Polda NTT
Kupang – Suasana di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur siang itu terasa berbeda. Dua orang muda, masing-masing bernama Maria dan Yohanes, berjalan gontai menuju ruang ...
Kupang – Suasana di gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur siang itu terasa berbeda. Dua orang muda, masing-masing bernama Maria dan Yohanes, berjalan gontai menuju ruang pemeriksaan. Mereka adalah adik kandung dari mendiang dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa Dokter Icha, perempuan muda yang kematiannya dua pekan silam masih menyisakan duka dan tanda tanya bagi banyak pihak.
Langkah Maria dan Yohanes pelan, mata mereka tampak sembap. Sejak kepergian kakak tercinta, keduanya nyaris tak punya waktu untuk sekadar menarik napas panjang. Kini, mereka harus menjalani pemeriksaan intensif yang rencananya berlangsung hingga malam hari. "Kami hanya ingin keadilan untuk Kak Icha," bisik Maria lirih sebelum pintu ruang pemeriksaan tertutup.
Panggilan sebagai Saksi Kunci
Pemeriksaan terhadap dua adik mendiang dokter Icha ini merupakan bagian dari upaya penyidik untuk mengumpulkan keterangan dari orang-orang terdekat korban. Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol. Andreas Surya, saat ditemui di sela-sela kegiatan, membenarkan bahwa keduanya dimintai keterangan sebagai saksi. "Mereka adalah orang yang paling memahami keseharian almarhumah. Informasi dari mereka sangat penting untuk membuat terang peristiwa yang terjadi," ujarnya singkat.
Tidak banyak yang bersedia diungkapkan oleh pihak kepolisian. Namun, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa penyidik mendalami sejumlah hal, termasuk aktivitas terakhir dokter Icha, orang-orang yang berkomunikasi dengannya sebelum kematian, hingga pesan-pesan pribadi yang mungkin tersimpan di telepon genggam korban. "Semua masih dalam proses. Kami belum bisa menyimpulkan apa pun," tambah Kombes Andreas.
Mengenang Dokter Icha, Sosok yang Penuh Semangat
Nama dokter Icha bukanlah nama asing di lingkungan tempat ia bekerja. Sebagai seorang dokter umum di salah satu fasilitas kesehatan swasta di Kota Kupang, ia dikenal sebagai pribadi yang ceria, sabar, dan penuh dedikasi. Rekan-rekannya masih belum percaya bahwa senyum yang biasa menghangatkan ruang praktik itu kini hanya tinggal kenangan.
Dalam sebuah unggahan lama di media sosial, dokter Icha pernah menulis, "Setiap pasien adalah cerita. Dan tugasku adalah mendengarkannya dengan hati." Kalimat itu kini sering dikutip oleh sahabat-sahabatnya sebagai gambaran paling pas tentang sosoknya. Bagi Maria, kakaknya bukan sekadar saudara. "Dia adalah orang tua kedua buat kami. Setelah Mama dan Papa meninggal, Kak Icha yang membiayai sekolahku dan Yohanes. Dia rela tidak menikah dulu supaya kami bisa jadi sarjana," kenangnya dalam sebuah wawancara singkat.
Kehilangan dokter Icha bukan hanya pukulan bagi keluarga kecil ini, tetapi juga bagi komunitas yang selama ini merasakan manfaat dari kerja-kerja sosialnya. Ia aktif dalam kegiatan bakti sosial ke desa-desa terpencil, bahkan sering kali menggunakan uang pribadi untuk membeli obat-obatan bagi warga kurang mampu. Tak heran, saat kabar kematiannya menyebar, media sosial dibanjiri ucapan duka dan doa.
Perjalanan Panjang Menuju Titik Terang
Pemeriksaan terhadap Maria dan Yohanes menandai babak baru dalam penanganan kasus ini. Sebelumnya, penyidik telah memeriksa sejumlah saksi lain, termasuk rekan kerja dan beberapa pasien terakhir yang sempat berinteraksi dengan dokter Icha. Tim dokter forensik juga sudah menyelesaikan serangkaian uji laboratorium, namun hasilnya belum diumumkan secara resmi sambil menunggu validasi akhir.
Di luar gedung Polda, sekelompok kecil kerabat dan simpatisan tampak menunggu dengan setia. Mereka membawa spanduk kecil bertuliskan "Keadilan untuk Dokter Icha". Meliana, salah satu sahabat korban, tampak duduk di teras minimarket seberang, pandangannya kosong menerawang ke pintu gerbang. "Kami sudah kehilangan satu malaikat. Sekarang kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi," katanya dengan suara bergetar.
Hari mulai berganti senja ketika Maria dan Yohanes akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan. Keduanya terlihat lelah, namun ada sedikit kelegaan di raut wajah mereka. "Kami sudah menyampaikan semua yang kami tahu. Sekarang kami serahkan kepada Tuhan dan pihak berwenang," ujar Yohanes pelan. Tanpa banyak bicara, mereka berlalu menuju mobil yang sudah menanti, meninggalkan gedung yang masih sibuk dengan lampu-lampu yang baru menyala.
Publik kini menanti dengan harap-harap cemas. Kasus yang menyita perhatian ini diharapkan segera menemui titik terang. Sebab, di balik setiap misteri, ada keluarga yang merindukan jawaban dan sebuah nama baik yang perlu dijaga dalam kehormatan abadi.
Baca juga:
Comments (0)