Ahmad Luthfi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Tengah
Ahmad Luthfi: Profil dan Kinerja Gubernur Jawa Tengah
Senja belum sepenuhnya luruh ketika rombongan itu tiba di sebuah dusun terpencil di perbatasan Wonogiri. Jalan tanah merah masih basah oleh hujan siang tadi. Seorang lelaki berbadan tegap turun dari kendaraan tanpa pengawalan protokoler yang mencolok. Ia melangkah melewati genangan, menyapa warga dengan bahasa Jawa ngoko yang fasih. "Pripun kabare, Mbah? Hasile panen tahun iki piye?" Tangan kekar yang dulu akrab dengan gagang pistol itu kini menggenggam cangkul, membantu seorang petani tua membersihkan saluran irigasi.
Itulah potret keseharian Ahmad Luthfi yang jarang tertangkap kamera utama. Di balik sosoknya yang dikenal sebagai mantan jenderal polisi, tersimpan naluri pengayom yang membuatnya memilih jalan sunyi: turun langsung ke akar rumput, mendengar keluh kesah yang jarang terdengar di ruang rapat ber-AC.
Dari Baret Biru ke Kursi Gubernur
Lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 10 Februari 1966, Ahmad Luthfi menghabiskan masa kecilnya di lingkungan santri. Ayahnya seorang pedagang kecil, ibunya perajin tenun tradisional. Disiplin dan ketegasan ditanamkan sejak dini, membentuk karakter yang kelak membawanya menembus Akademi Kepolisian pada 1989.
Kariernya di Korps Bhayangkara melesat terukur. Ia menempati sejumlah posisi strategis: Kapolres di sejumlah kota besar, Direktur Intelijen di Polda Metro Jaya, hingga akhirnya dipercaya sebagai Kapolda Jawa Tengah pada 2022. Di sinilah babak baru hidupnya dimulai. Menangani provinsi dengan dinamika sosial yang kompleks seperti Jawa Tengah memberinya pemahaman mendalam tentang denyut nadi masyarakat.
Ketika namanya muncul sebagai calon gubernur, banyak yang bertanya: mampukah seorang polisi memimpin pemerintahan sipil? Luthfi menjawab bukan dengan retorika, melainkan dengan langkah. Ia mundur dari dinas aktif pada 2024, melepas seragam kebanggaannya, lalu mendaftarkan diri sebagai kontestan Pilkada. "Saya tidak meninggalkan pengabdian, hanya ganti seragam," ucapnya saat itu.
Bekerja dalam Senyap: Program yang Menyentuh Langsung
Dilantik pada 20 Februari 2025, Luthfi tidak membuang waktu. Seratus hari pertamanya ditandai dengan blusukan ke hampir seluruh kabupaten dan kota. Ia tidak membawa rombongan besar. Sering kali hanya ditemani sopir, ajudan, dan satu orang staf. Dari lawatan-lawatan ini lahir sejumlah kebijakan yang tidak megah secara nama, namun terasa dampaknya.
"Jateng Melangkah" menjadi payung program andalannya. Bukan sekadar akronim, ini adalah pemetaan kebutuhan dasar yang selama ini terabaikan. Untuk sektor pertanian, ia menggulirkan Program Serbu Tani: penyediaan alat modern, pupuk bersubsidi tepat sasaran, dan pendampingan petani milenial. Di wilayah pesisir, ia meluncurkan Gerakan Pelabuhan Rakyat yang merevitalisasi tambak-tambak tradisional dan membangun cold storage hasil laut.
Yang menarik, program Jateng Cakap Digital muncul dari pengamatannya terhadap kaum muda di daerah-daerah blank spot. Ia memerintahkan pembangunan 500 titik akses internet desa hanya dalam delapan bulan pertama masa jabatannya. "Anak muda di pelosok tidak boleh kalah cepat dari anak-anak kota. Mereka punya hak yang sama untuk maju," begitu keyakinannya.
Di sektor kesehatan, inovasi SMART Puskesmas yang mengintegrasikan rekam medis digital dan telemedicine berhasil menurunkan angka rujukan ke rumah sakit besar hingga 30 persen pada akhir 2025. Program Sekolah Vokasi Siap Kerja juga mencatat keberhasilan: 70 persen lulusannya terserap industri dalam tiga bulan pertama.
Yang tak kalah penting adalah pendekatannya pada reformasi birokrasi. Ia menerapkan sistem meritokrasi ketat dan memangkas prosedur yang berbelit. "Birokrasi itu pelayan, bukan tuan," tegasnya dalam sebuah rapat kabinet gubernuran. Kebijakan ini memang tak populer di kalangan pegawai lama, namun mendapatkan apresiasi luas dari investor.
Salah satu capaian yang patut dicatat adalah transformasi PT Jamkrida Jateng yang di bawah arahannya berubah dari BUMD pasif menjadi motor penjaminan kredit UMKM. Per 2026, total penjaminan kredit tembus Rp3,2 triliun, melibatkan lebih dari 80 ribu pelaku usaha mikro.
Jalan Panjang yang Masih Terbentang
Namun, kepemimpinan Luthfi tidak tanpa ujian. Kesenjangan antara wilayah utara yang industrialis dan selatan yang masih agraris tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Banjir rob di pesisir Pekalongan dan Demak masih menuntut solusi struktural jangka panjang. Belum lagi arus urbanisasi yang menyebabkan kota-kota seperti Semarang dan Solo semakin sumpek.
Kritik juga datang dari kelompok masyarakat sipil yang menilainya terlalu cautious dalam isu lingkungan. Proyek-proyek infrastruktur strategis di zona rawan ekologis menjadi sorotan. Luthfi menanggapi dengan membuka ruang dialog. Ia membentuk panel independen yang melibatkan akademisi dan aktivis lingkungan hidup untuk mengaudit setiap proyek besar.
Di sela-sela kesibukannya, Luthfi tetap menyempatkan diri mengajar di sebuah pesantren di Magelang. Di sana, ia tak lagi bergelar gubernur, melainkan hanya "Pakde" bagi para santri. Ini bukan sekadar pencitraan. Ia benar-benar hadir
Comments (0)