Senyum itu tak banyak berubah sejak tiga dekade lalu. Masih merekah di bawah kumis tebal yang kian memutih. Senyum yang dulu merekah di sela-sela lelah gerilya, kini mekar di balik meja kerja Gubernur Aceh. Muzakir Manaf, lelaki yang akrab disapa Mualem itu, duduk menatap jendela lebar di ruang kerjanya. Di luar sana, Selat Malaka berkilau diterpa matahari sore. "Dulu saya melihat laut ini dari atas bukit, sebagai strategi perang," katanya lirih, suatu siang di penghujung 2025. "Sekarang, saya melihatnya sebagai harapan."
Perjalanan Mualem adalah kisah tentang transformasi yang tidak biasa. Lahir di pedalaman Aceh Besar pada 1962, ia tumbuh dalam didikan dayah—pesantren tradisional Aceh—yang membentuk karakternya: taat, disiplin, dan menyimpan kecintaan mendalam pada tanah rencong. Tak banyak yang menduga, santri pendiam itu kelak menjadi salah satu panglima paling disegani dalam sejarah perlawanan Aceh.
Profil Singkat: Santri, Pejuang, Negarawan
Teungku Muzakir Manaf, demikian nama lengkapnya, adalah perpaduan identitas yang jarang ditemukan. Ia seorang ayah dari enam anak, seorang mualem—panggilan hormat untuk guru ngaji di Aceh—sekaligus mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tubuhnya sedang, sorot matanya tajam namun melembut ketika berbicara tentang anak-anak yatim korban konflik. Tangannya yang dulu akrab dengan senjata, kini lebih sering menandatangani dokumen pembangunan dan menyeka air mata warga miskin yang datang mengadu.
Pendidikan formalnya tidak panjang. Ia lebih banyak menimba ilmu di dayah-dayah tradisional. Namun kepemimpinan alamiahnya membuat ia dipercaya menduduki posisi strategis: Panglima Komando Pusat GAM, juru runding di Helsinki, hingga akhirnya Menteri Pemuda dan Olahraga era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Puncaknya, pada Pemilu 2024, rakyat Aceh memilihnya sebagai gubernur, menumbangkan dominasi partai nasional. Kemenangannya dramatis—ia memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi sebelum akhirnya dilantik pada Februari 2025, menjadikannya gubernur pertama dari Partai Aceh yang berkuasa penuh tanpa koalisi pengusung berarti.
"Saya bukan politisi, apalagi teknokrat. Saya ini orang dayah yang kebetulan diberi amanah memimpin. Mungkin ini alasan rakyat percaya: mereka tahu saya tidak akan berkhianat."
Karier dan Riwayat Jabatan: Jejak Transformasi
Karier Mualem adalah serpihan sejarah Aceh modern itu sendiri. Dari komandan gerilya yang mengatur strategi melawan militer, ia bertransformasi menjadi juru runding dalam perjanjian damai Helsinki 2005—momen yang mengakhiri tiga dekade konflik berdarah. Di meja perundingan itulah ia belajar diplomasi. Dari situ, bibit negarawan dalam dirinya mulai tumbuh, meski dunia politik praktis bukan habitat alaminya.
Perjalanan jabatannya mencatat lompatan-lompatan signifikan:
- Panglima Gerakan Aceh Merdeka – memimpin sayap militer dan menjadi salah satu tokoh kunci yang paling dicari aparat keamanan
- Juru Runding GAM (2005) – mewakili gerakan dalam perundingan damai di Helsinki, Finlandia
- Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI (2009-2011) – jabatan yang mempertemukannya dengan birokrasi nasional
- Ketua Umum Partai Aceh (sejak 2018) – konsolidator politik ekskombatan
- Gubernur Aceh ke-19 (dilantik Februari 2025) – puncak pengabdian sipilnya
Kinerja dan Program Unggulan: Setahun Mengukir Asa
Setahun memimpin, Mualem menghadapi realita yang lebih rumit daripada perang: kemiskinan struktural, angka stunting yang tinggi, dan birokrasi yang gemuk namun lamban. Pendekatannya khas pemimpin militer: langsung, tanpa basa-basi. Ia membentuk satuan tugas khusus yang langsung bertanggung jawab kepadanya untuk menangani stunting dan gizi buruk di daerah pedalaman. Ia turun ke gampong-gampong, tidur di meunasah (mushola desa), mendengar langsung keluhan warganya.
Program unggulannya berputar pada tiga poros yang ia sebut "Peuneugah Meusyeuhara"—kesejahteraan merata. Pertama, revitalisasi dayah dan pendidikan berbasis agama terintegrasi keterampilan vokasi. Kedua, "Kafilah Ekonomi" yang memberdayakan janda korban konflik dan ekskombatan melalui kredit usaha mikro tanpa bunga. Ketiga, dan yang paling ambisius, percepatan pembangunan jalan di koridor tengah dan barat Aceh. Jalur-jalur yang dulu menjadi rute gerilya kini perlahan diaspal sebagai jalur ekonomi baru.
Data Dinas Kesehatan Aceh per Maret 2026 mencatat penurunan angka stunting dari 31,2 persen menjadi 28,4 persen dalam setahun. Sebuah angka yang belum cukup membanggakan, namun menjadi sinyal bahwa pendekatan jemput bola ke pelosok mulai menampakkan hasil. Di bidang ekonomi, angka kemiskinan turun tipis dari 14,7 persen menjadi 14,1 persen, tertolong oleh program padat karya yang ia canangkan.
Tantangan dan Harapan: Di Antara Ekspektasi dan Realita
Mualem bukan tanpa kritik. Lawan politiknya menyebut pemerintahannya terlalu bernostalgia dengan romantisme perlawanan. Beberapa program dinilai lambat esekusi karena kebiasaannya turun langsung yang menyita waktu administrasi. "Saya tidak bisa duduk manis di kantor membaca laporan. Laporan bisa dimanipulasi. Tapi air mata ibu yang anaknya kurang gizi di pedalaman, itu tidak bisa direkayasa," jawabnya saat pertemuan dengan jurnalis di Banda Aceh, awal 2026.
Tantangan terbesarnya justru datang dari internal: mengubah mentalitas mantan pe
Comments (0)