Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Fenomena Aphelion Diklaim Sebabkan Cuaca Dingin dan Meriang, Cek Faktanya

Di sebuah sudut ruang tamu sederhana di kawasan Pasar Minggu, Mawar (38) menggigil. Tangannya meraih remote televisi, lalu beralih ke ponsel yang terus ber

Jul 09, 2026 - 12:23
0 0
Fenomena Aphelion Diklaim Sebabkan Cuaca Dingin dan Meriang, Cek Faktanya

Di sebuah sudut ruang tamu sederhana di kawasan Pasar Minggu, Mawar (38) menggigil. Tangannya meraih remote televisi, lalu beralih ke ponsel yang terus bergetar. Dari grup keluarga, sebuah pesan berantai muncul: tangkapan layar tentang fenomena Aphelion yang membuat bumi lebih dingin dan memicu meriang. Ia membaca, lalu menghela napas lega—ternyata, ini penjelasan untuk rasa tidak enak badan yang ia alami dua hari terakhir. Atau, benarkah demikian?

Pesan Berantai yang Membingungkan

Pesan tersebut mengklaim bahwa pada Juli lalu, bumi berada di titik terjauhnya dari matahari, sehingga suhu turun drastis dan menyebabkan banyak orang meriang. Mawar, yang saat itu memang sedang kurang sehat, langsung percaya. "Saya kira ini efek cuaca dingin ekstrem. Tapi, kenapa Jakarta panas sekali?" gumamnya, bingung. Ia meneruskan pesan itu ke beberapa rekan kerja, yang kemudian membalas dengan tautan artikel klarifikasi. Keraguan mulai mengusik.

Kronologi Klarifikasi: Dari Pesan Viral ke Fakta Ilmiah

Untuk memahami duduk perkara, mari kita susuri langkah yang ditempuh oleh para pemeriksa fakta dan kisah Mawar dalam mencari kebenaran.

  1. 8 Juli 2024: Sejumlah grup WhatsApp mulai menyebarkan narasi Aphelion yang dikaitkan dengan meriang dan cuaca dingin.
  2. 10 Juli 2024: Mawar menerima pesan tersebut dari tantenya. Ia merasakan demam ringan dan mengira itu akibat suhu yang turun signifikan.
  3. 11 Juli 2024: Mawar pergi ke klinik dan bertemu dokter Arifin. "Ibu hanya mengalami flu ringan, tidak ada hubungannya dengan jarak matahari. Perubahan cuaca musiman lebih berpengaruh," jelas dokter Arifin sambil tersenyum.
  4. 12 Juli 2024: Mawar menghubungi Dr. Langit Buana, peneliti astronomi dari Observatorium Bosscha, melalui surel. Balasannya datang cepat dan tegas: klaim tersebut tidak berdasar.

Di Balik Klaim Aphelion: Penelusuran Sains dan Sentuhan Manusia

Dr. Langit, yang sudah 15 tahun mendalami dinamika tata surya, menjelaskan dengan sederhana. "Aphelion memang membuat bumi sekitar 5 juta kilometer lebih jauh dari posisi terdekatnya (perihelion). Namun, jarak itu hanya menyebabkan perbedaan energi matahari sekitar 3 persen—setara penurunan suhu global kurang dari 2 derajat Celsius. Itu pun tersebar merata dan tidak signifikan dirasakan manusia secara langsung," ujarnya. Ia menambahkan, musim kemarau di Indonesia justru bisa membuat suhu terasa lebih panas, bukan dingin.

Bagi Mawar, penjelasan itu melegakan sekaligus memalukan. "Saya jadi berpikir, kenapa saya mudah sekali percaya? Mungkin karena saat sakit, kita ingin mencari jawaban cepat," akunya. Pengalamannya ini menggambarkan betapa rentannya kita terhadap misinformasi, terutama saat kondisi fisik dan emosional sedang rendah. Pesan berantai sering kali menyentuh sisi personal—kesehatan, cuaca, dan hal sehari-hari—sehingga lebih mudah diterima tanpa filter logis.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan, selama 2024 saja, terdapat lebih dari 2.000 hoaks seputar kesehatan dan sains yang beredar di media sosial. Fenomena alam seperti gerhana, solstis, dan Aphelion kerap jadi sasaran klaim palsu karena masyarakat awam belum familier.

Titik Balik: Memilih Verifikasi Sebelum Menyebar

Kini, Mawar tak lagi buru-buru membagikan setiap pesan yang masuk. "Saya belajar untuk selalu mencari sumber yang jelas. Kalau tidak, cukup saya simpan sendiri," katanya sambil menunjuk ke tab penelusuran di ponselnya. Ia bahkan membuat catatan kecil tentang Aphelion untuk diingat: bahwa matahari tetap memberikan kehangatan yang hampir sama, dan meriang lebih mungkin disebabkan oleh virus yang menular di sekitar kita.

Di akhir perbincangan, Dr. Langit berpesan, "Alam semesta terlalu indah untuk disalahpahami. Jika ada fenomena yang terasa aneh, tanyakan pada ahlinya, bukan pada pesan berantai." Pesan ini, barangkali, tak hanya untuk Mawar, tapi untuk kita semua yang kerap terjebak di antara klik dan percaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User