Elly Sugigi Meradang Dibandingkan Lisa Mariana, Sebut Oplas 6 Kali
Layar ponsel di genggaman tangannya masih menyala. Komentar-komentar tajam berderet, membandingkan wajahnya dengan seorang selebgram muda. Elly Sugigi, kom
Layar ponsel di genggaman tangannya masih menyala. Komentar-komentar tajam berderet, membandingkan wajahnya dengan seorang selebgram muda. Elly Sugigi, komedian yang selama ini dikenal ceplas-ceplos dan penuh tawa, pagi itu terdiam. Ada getir yang menyelinap di sela senyumnya.
Di dunia maya, namanya mendadak bersanding dengan Lisa Mariana. Bukan karena proyek lawak, melainkan soal operasi plastik. Warganet ramai membandingkan transformasi wajah keduanya. Sebagian menyebut wajah Elly “berlebihan”, yang lain menuding Lisa “lebih baik”. Perbandingan itu rupanya menembus batas toleransi Elly.
“Saya tidak terima. Netizen itu seenaknya saja,” ujar Elly saat ditemui di bilangan Jakarta Selatan, mengawali ceritanya dengan nada lebih rendah dari biasanya. “Katanya muka saya begini, begitu. Terus kenapa dibandingin sama dia? Lah, saya baru satu kali oplas, dia sudah enam kali. Masa disamain?”
“Saya melakukan oplas untuk diri saya sendiri, bukan untuk jadi kayak orang lain. Kalian tahu nggak, saya itu dulu sering di-bully karena penampilan. Sekarang saya perbaiki, kenapa juga jadi masalah?”
Kalimat itu meluncur dengan campuran emosi: marah, sedih, dan sedikit kecewa. Elly, yang biasa terbahak di depan kamera, kali ini tampak benar-benar bersungguh-sungguh.
Perbandingan yang Menyakitkan
Bagi sebagian orang, komentar warganet soal fisik mungkin terdengar sepele. Namun bagi Elly, itu membuka luka lama. Perjalanan hidupnya tak selalu diselimuti tawa. Bertahun-tahun ia berjuang melawan body shaming. Satu kali operasi plastik yang ia jalani adalah puncak dari keputusan besar: ingin menerima diri sendiri.
“Dari dulu saya pengin cantik, tapi nggak ada biaya. Pas ada rezeki, saya mutusin buat oplas. Itu pilihan pribadi,” katanya. “Tapi netizen suka lupa, di balik oplas ada proses sakit, ada biaya, ada risiko. Nggak gampang.”
Sementara itu, Lisa Mariana memang kerap menjadi perbincangan karena perubahan wajahnya yang signifikan. Menurut Elly, selebgram itu telah enam kali naik meja operasi. Angka itu ia lontarkan bukan untuk mencela, melainkan menegaskan perbedaan konteks.
“Aku bilang enam kali bukan buat jelek-jelekkin dia. Aku cuma mau bilang, perjalanan kami beda. Jadi jangan disamain. Saya respect sama pilihannya, tapi saya juga berhak dihormati,” ujar Elly.
Standar Ganda di Mata Publik
Perdebatan soal operasi plastik di kalangan figur publik sebenarnya cermin dari tekanan sosial yang lebih besar. Perempuan, terutama yang bekerja di dunia hiburan, sering kali dinilai dari tampilan fisik. Lucu, ketika seseorang memilih tampil natural, ia dianggap kurang menarik. Saat memilih untuk “memperbaiki” diri lewat prosedur medis, cap “palsu” siap menanti.
Psikolog sosial Dr. Retno Handayani (nama samaran) menjelaskan bahwa fenomena perbandingan di media sosial bisa berdampak serius pada kesehatan mental. “Ketika figur publik diperbandingkan soal fisik secara terbuka, itu bukan hanya mengoyak harga diri mereka, tapi juga memperkuat narasi bahwa nilai seseorang ditentukan oleh penampilan,” katanya.
Elly sendiri mengaku sempat merasa rendah diri membaca komentar netizen. Namun ia memilih untuk melawan dengan cara yang ia kuasai: bicara terus terang.
“Saya capek, tapi saya nggak mau diam. Ini tentang harga diri. Siapa pun boleh oplas, mau satu kali, dua kali, atau banyak kali. Tapi yang penting jangan lupa, itu urusan masing-masing. Jangan buat perempuan saling sikut hanya karena beda pilihan,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Wajah
Di balik riuh soal oplas, ada pesan yang coba dititipkan Elly: bahwa makna “cantik” tak pernah tunggal. Ia yang dulu kerap menerima ejekan, kini belajar menerima dirinya dengan cara yang ia anggap terbaik. Oplas baginya adalah bagian dari perjalanan, bukan tujuan akhir.
Lisa Mariana sendiri hingga kini belum memberikan tanggapan langsung. Namun percakapan di media sosial terus bergulir, membelah warganet dalam kubu-kubu yang saling membela atau menyalahkan.
Di sudut ruangan, sambil mematikan layar ponselnya, Elly kembali tersenyum tipis. Mungkin benar, dunia maya tak pernah benar-benar ramah. Tapi bagi Elly, satu pelajaran berharga tetap ia genggam: perjuangan untuk mencintai diri sendiri adalah perjalanan panjang, dan setiap orang punya hak untuk menempuhnya dengan caranya masing-masing.
Comments (0)