Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Gus Lilur: Penggeledahan 12 Lokasi Bukan Pertarungan Polisi Vs Jaksa

Pagi itu, Sudirman—warga biasa yang tinggal di salah satu rumah petak di kawasan Tanah Abang—terhenyak ketika lima orang berseragam lengkap mengetuk pintun

Jul 09, 2026 - 14:23
0 0
Jakarta — Gus Lilur: Penggeledahan 12 Lokasi Bukan Pertarungan Polisi Vs Jaksa

Pagi itu, Sudirman—warga biasa yang tinggal di salah satu rumah petak di kawasan Tanah Abang—terhenyak ketika lima orang berseragam lengkap mengetuk pintunya. “Saya kira ada razia biasa, tapi mereka tunjukkan surat penggeledahan. Istri saya langsung gemetar, anak saya nangis,” kenangnya lirih. Penggeledahan yang terjadi serentak di 12 lokasi berbeda itu sontak menggetarkan banyak keluarga. Bukan hanya karena prosedur yang mendadak, melainkan juga karena gosip yang segera menyebar: bahwa ini adalah babak baru “pertarungan” antara kepolisian dan kejaksaan. Isu itu seperti api menyambar ilalang kering, membakar kecemasan warga yang sudah lelah dengan drama antarpenegak hukum.

Kegaduhan itu sampai ke telinga Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa Gus Lilur. Tokoh muda yang dikenal sebagai jembatan antara dunia pesantren dan publik ini angkat bicara dengan nada menyejukkan. “Semua dipicu oleh salah mengambil momentum, gagal berkoordinasi, lalu merasa hebat sendiri,” tandasnya. Ia meminta publik tidak mudah tersulut narasi bentrokan institusi. “Jangan digiring seolah ini pertarungan polisi versus jaksa. Justru ini ujian bagi kita semua: bisakah kita tetap percaya bahwa sistem masih bisa bekerja dengan adil?” ujarnya dalam sebuah perbincangan santai.

Di warung kopi pojok pasar, kata-kata Gus Lilur jadi perbincangan. Mahmud, penjual nasi uduk, mengangguk-angguk. “Betul itu. Kalau polisi dan jaksa ribut, yang susah kami. Mau lapor kehilangan motor aja mikir-mikir, takut cuma dijadiin tumbal,” selorohnya. Di sudut lain, seorang ibu muda bernama Yanti yang rumahnya termasuk dalam daftar lokasi penggeledahan mengaku lega setelah mendengar imbauan Gus Lilur. “Saya kira kami akan jadi korban perang dingin aparat. Ternyata ada suara yang mengingatkan agar tidak semua dibenturkan,” katanya sambil menggendong buah hatinya.

Koordinasi yang Gagal Menggores Luka Sosial

Dari pengakuan sejumlah sumber di lapangan, penggeledahan massal itu sejatinya adalah operasi gabungan yang seharusnya menjadi simbol sinergi pemberantasan kejahatan. Namun karena ketiadaan koordinasi matang, pesan yang sampai ke publik malah terdistorsi menjadi duel kewenangan. “Ini fenomena klasik ego sektoral. Masing-masing ingin unjuk gigi, tapi lupa dampaknya ke masyarakat,” ujar Rina Marlina, pengamat kebijakan publik dari Universitas Mercu Buana. Ia menambahkan, ketidakpercayaan publik adalah harga mahal yang tidak sebanding dengan siapa yang menang secara prosedural.

Dampak sosialnya mulai terasa. Beberapa warga di lokasi penggeledahan mengaku takut meninggalkan rumah karena khawatir dianggap buron. Sekolah-sekolah di sekitar lokasi sempat menghentikan kegiatan luar ruangan. Rasa saling curiga di antara tetangga pun muncul: siapa yang menjadi target, siapa yang dilindungi, dan siapa yang hanya “tumbal”. Dalam situasi seperti ini, narasi humanis Gus Lilur menjadi oase yang mendinginkan hati. Ia tidak membela salah satu pihak, melainkan mengajak semua untuk kembali kepada marwah penegakan hukum yang berkeadaban.

Perbandingan: Narasi Pertarungan vs Narasi Kolaborasi

Berikut adalah gambaran sederhana tentang perbedaan dampak ketika suatu peristiwa hukum dibingkai sebagai pertarungan institusi dan ketika dibingkai sebagai kolaborasi penegakan hukum:

Aspek Narasi Pertarungan Polisi vs Jaksa Narasi Kolaborasi Penegakan Hukum
Persepsi publik Krisis kepercayaan, sinisme terhadap hukum Harapan, kepercayaan pada sistem
Dampak pada warga terdampak Trauma, rasa takut berkepanjangan Ketenangan, kepastian hukum
Efek pada keamanan lingkungan Polarisasi, saling curiga Solidaritas, pemulihan ketertiban
Proses hukum Saling hambat, ego sektoral Efisien, saling mendukung

Gus Lilur mengingatkan, momentum seperti ini seharusnya dipakai untuk memperkuat akuntabilitas, bukan saling melemahkan. “Jika yang dikejar adalah kebenaran, maka tak ada yang perlu ditakuti dari kerja sama. Tapi kalau yang diburu adalah pengakuan, maka di situlah setan ego bersemayam,” ujarnya dengan gaya khasnya yang puitis namun menusuk.

Kini, masyarakat menanti langkah nyata. Bukan sekadar klarifikasi dari pihak-pihak yang berseteru, melainkan bukti bahwa harmoni antarlembaga bisa menjadi fondasi keadilan yang sesungguhnya. Pekerjaan rumah terbesar bukan hanya menyelesaikan kasus yang menjadi pemicu penggeledahan itu, melainkan memulihkan hati 12 keluarga—dan jutaan warga lainnya—yang sempat dihantui monster bernama ketidakpastian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User