Dulu Kayuh Sepeda Jual Ikan, Kini Risky Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat
Medan - Setahun silam, pagi buta menjadi waktu yang tak asing bagi Muhammad Risky Pratama. Bocah 12 tahun itu harus bangun sebelum matahari terbit, bukan untuk bersiap ke sekolah, melainkan untuk men
Medan - Setahun silam, pagi buta menjadi waktu yang tak asing bagi Muhammad Risky Pratama. Bocah 12 tahun itu harus bangun sebelum matahari terbit, bukan untuk bersiap ke sekolah, melainkan untuk mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalanan di kawasan Bagan Deli, Kota Medan. Di keranjang sepedanya, tersimpan ikan-ikan segar hasil tangkapan laut yang harus ia jual hingga habis demi menyambung hidup keluarga.
Puluhan kilometer jarak tempuh setiap harinya bukanlah perkara mudah bagi anak seusianya. Namun, Risky tak punya pilihan. Hasil penjualan ikan menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam sehari, ia hanya mampu mengantongi penghasilan yang jauh dari kata cukup.
"Kadang (sehari) Rp30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp90 ribu, kalau habis semua (ikannya)," kata Risky saat menceritakan pengalamannya berjualan ikan di Medan, Sumatera Utara, Selasa (23/6/2026).
Angka itu menjadi saksi bisu perjuangan seorang anak yang harus rela menukar waktu bermain dan belajarnya dengan peluh dan terik matahari. Namun, roda kehidupan terus berputar. Kini, cerita Risky tak lagi melulu tentang ikan dan sepeda tua. Ada babak baru yang memberinya secercah cahaya terang bernama harapan.
Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Risky mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terenggut oleh kerasnya tuntutan ekonomi. Program Sekolah Rakyat ini hadir sebagai wadah bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera untuk mengenyam bangku pendidikan tanpa terbebani biaya. Bagi Risky, sekolah ini bukan sekadar gedung dengan deretan ruang kelas, melainkan sebuah gerbang menuju masa depan yang lebih baik.
Risky kini tak perlu lagi mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk membawa pulang receh yang nilainya tak seberapa. Tangannya yang dulu memegang keranjang ikan, kini memegang buku dan pena, merajut mimpi yang sempat tertunda. Cita-cita yang dulu hanya berani ia bisikkan dalam hati, kini mulai menemukan jalannya.
Perubahan hidup Risky menjadi potret nyata bagaimana akses pendidikan mampu mengubah takdir seorang anak. Sekolah Rakyat membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukanlah tembok penghalang untuk meraih impian. Setiap anak berhak atas pendidikan yang layak, tanpa terkecuali.
Berdasarkan laporan media kami, kehadiran SRMP 2 Medan dan sekolah-sekolah sejenis di berbagai daerah menjadi angin segar bagi keluarga-keluarga yang selama ini terpinggirkan. Bukan hanya memberikan ruang belajar gratis, program ini juga menanamkan kembali kepercayaan diri pada anak-anak bahwa mereka mampu bermimpi besar dan mewujudkannya.
Kini, di wajah Risky tak lagi tergurat lelah karena berjualan ikan. Yang ada hanyalah senyum sumringah seorang pelajar yang tengah meniti jalan menuju masa depan. Dari peluh seorang penjual ikan kecil, kini Risky menjelma menjadi salah satu pejuang muda yang siap menggapai asa setinggi langit.
Comments (0)