Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Di sebuah sudut warung kopi sederhana di bilangan Jakarta Timur, Jumadi (52),

"Saya langsung kepikiran, ini rezeki buat bayar kontrakan yang udah nunggak tiga bulan," kisah Jumadi, sembari menggeleng pelan. "Untung anak saya bilang,

Jul 09, 2026 - 13:18
0 1
Di sebuah sudut warung kopi sederhana di bilangan Jakarta Timur, Jumadi (52),
"Saya langsung kepikiran, ini rezeki buat bayar kontrakan yang udah nunggak tiga bulan,"

kisah Jumadi, sembari menggeleng pelan. "Untung anak saya bilang, 'Pak, itu hoaks. Jangan di-klik.'"

Ketika Harapan Ditunggangi Kelicikan

Cerita Jumadi hanyalah satu dari ribuan kisah warga yang nyaris terperangkap dalam pusaran disinformasi digital. Klaim video yang beredar di platform Facebook itu memperlihatkan sosok Anies Baswedan tengah mengumumkan program tebak kata berhadiah Rp 100 juta. Nyaris sempurna, video tersebut menggunakan rekaman asli yang disunting dan disisipi narasi buatan menggunakan teknologi deepfake atau penyuntingan suara sederhana.

Tim Cek Fakta Liputan6.com bergerak cepat. Setelah menelusuri jejak digital video itu, mereka memastikan bahwa klaim tersebut sepenuhnya palsu. Tidak pernah ada pernyataan resmi dari Anies Baswedan maupun timnya mengenai program berhadiah semacam itu. Rekaman aslinya diambil dari potongan wawancara lama yang sama sekali berbeda konteks.

"Kami melihat pola ini berulang. Tokoh publik digunakan sebagai 'umpan' karena masyarakat cenderung percaya pada figur yang mereka kenal,"

ujar Maya Pratiwi, seorang analis media digital yang kami temui secara daring. "Targetnya jelas: masyarakat kelas bawah yang sedang berjuang secara ekonomi."

Bukan Sekadar Berita Bohong

Di balik tombol "tebak kata" yang menggiurkan itu, tersembunyi jerat phishing yang siap mencuri data pribadi pengguna. Nomor telepon, alamat surel, hingga informasi perbankan bisa raib dalam hitungan detik begitu seseorang tergoda untuk mengisi formulir daring yang disediakan.

Siti Nurhaliza (38), seorang ibu rumah tangga di Bekasi, nyaris menjadi korban.

"Saya sudah isi nama, nomor HP, bahkan nomor rekening. Tinggal satu langkah lagi kirim. Tiba-tiba saya ingat pesan suami: jangan pernah kasih data pribadi di internet,"

tuturnya dengan suara bergetar. Siti mengaku, iming-iming hadiah Rp 100 juta membuatnya lupa diri sejenak. "Kami butuh modal untuk buka warung kecil-kecilan. Jadi ya, gelap mata."

Mengapa Hoaks Figur Publik Begitu Berbahaya?

Psikolog sosial Dr. Rina Handayani menjelaskan, ada mekanisme psikologis yang membuat hoaks bersosok tokoh publik begitu mudah menyebar dan dipercaya.

  • Efek otoritas: Masyarakat cenderung memercayai informasi yang datang dari figur berwibawa atau dikenal luas.
  • Harapan di tengah himpitan: Dalam kondisi ekonomi sulit, tawaran uang dalam jumlah besar menonaktifkan nalar kritis seseorang.
  • Efek viral: Ketika sebuah konten sudah dibagikan oleh teman atau kerabat, tingkat kepercayaan meningkat drastis.
"Ini bukan soal bodoh atau pintar. Ini soal kondisi emosional manusia yang dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab,"

tegas Dr. Rina.

Langkah Kecil Melawan Gelombang Hoaks

Di tengah derasnya arus informasi palsu, langkah verifikasi sederhana bisa menjadi penyelamat. Periksa sumber berita, bandingkan dengan media arus utama, dan jangan mudah tergoda oleh janji-janji manis yang mengatasnamakan tokoh publik. Seperti yang dilakukan Jumadi dan Siti—beruntung mereka sempat berhenti sejenak dan berpikir ulang.

Tim Cek Fakta Liputan6.com pun terus bekerja di garis depan, menjadi benteng terakhir bagi masyarakat yang rentan terpapar disinformasi. Satu artikel klarifikasi yang mereka tayangkan mungkin tak menghapus seluruh hoaks yang beredar, tetapi setidaknya menyelamatkan satu-dua orang dari kerugian finansial dan emosional.

Sebab di era digital ini, kewaspadaan adalah hadiah yang sesungguhnya—jauh lebih berharga dari Rp 100 juta yang tak pernah ada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User