Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Di Kampus Depok, UTBK Perdana Digelar di Tengah Pandemi

Lapangan parkir Fakultas Teknik UPN Veteran Jakarta pagi itu tak lagi dipenuhi deru kendaraan. Kini ia disulap menjadi lajur antrean sunyi—ratusan pemuda b

Jul 09, 2026 - 13:03
0 0
Di Kampus Depok, UTBK Perdana Digelar di Tengah Pandemi

Lapangan parkir Fakultas Teknik UPN Veteran Jakarta pagi itu tak lagi dipenuhi deru kendaraan. Kini ia disulap menjadi lajur antrean sunyi—ratusan pemuda berbaris dengan jarak satu setengah meter, masing-masing menggenggam kartu peserta dan sebotol hand sanitizer di saku jaket. Mata-mata yang biasanya berbinar penuh semangat menjelang ujian, kini sedikit cemas tersembunyi di balik masker kain warna-warni. Minggu pagi (5/7/2020), Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang pertama resmi dimulai. Bukan hanya soal hitungan saintek atau pemahaman soshum yang akan mereka taklukkan, melainkan juga ketakutan tak kasatmata bernama COVID-19.

Ini pertama kalinya seleksi bergengsi masuk perguruan tinggi negeri digelar di tengah pandemi. Adaptasi besar-besaran dilakukan. Meja komputer yang dulu berimpitan kini direnggangkan. Satu ruangan yang semula menampung 50 peserta, kali ini hanya diisi separuhnya. Kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, menyebarkan bau cairan disinfektan yang semalam disemprotkan ke seluruh sudut. Bagi sebagian besar peserta, ujian ini adalah pertaruhan ribuan jam belajar selama berbulan-bulan, kini harus dilalui dengan peraturan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Persiapan: “Kami Berlatih Seperti Menghadapi Perlombaan Ketat”

Di balik kelancaran ujian pagi itu, ada kerja keras panitia lokal yang nyaris tak tidur tiga hari terakhir. Ketua Pelaksana UTBK di kampus itu, Dimas Ardianto (42), menceritakan bahwa simulasi protokol kesehatan dilakukan berkali-kali.

“Kami berlatih seperti menghadapi perlombaan dengan aturan yang belum final. Setiap hari ada saja revisi SOP. Yang pasti, keselamatan peserta dan pengawas adalah yang utama. Kami tak mau ujian ini menjadi klaster baru,”
ujarnya setengah berbisik di sela-sela memantau peserta masuk ruangan. Panitia menyediakan lebih dari 40 titik cuci tangan dan menempatkan petugas kesehatan di setiap lantai. Setiap peserta diwajibkan menyerahkan surat keterangan sehat dan menjalani pengecekan suhu tubuh sebelum diizinkan melangkahkan kaki ke dalam gedung.

Para pengawas pun kini berperan ganda: menjaga integritas ujian sekaligus menjadi “satgas” kecil yang sigap mengingatkan apabila ada peserta yang maskernya melorot atau secara tak sadar berdiri terlalu dekat dengan temannya. Total 7.200 peserta UTBK gelombang pertama dijadwalkan mengikuti ujian di kampus ini, terbagi dalam beberapa sesi harian untuk menghindari kerumunan.

Di Balik Masker: Narasi Perjuangan Para Pejuang Kampus

Nadia Ramadhani (18), salah satu peserta dari SMAN 3 Depok, datang sejak pukul 06.00 WIB. Wajahnya hanya tampak dari mata yang sedikit berkaca-kaca.

“Aku gugup banget, rasanya beda dari try out biasa. Bukan cuma takut salah jawab, tapi juga takut… ya, tertular. Tapi aku yakin ini demi masa depan. Orang tuaku juga menitip doa dari rumah, tidak boleh ikut antar,”
tutur Nadia sambil menenteng tas transparan berisi alat tulis dan masker cadangan. Cerita Nadia mewakili banyak peserta yang datang tanpa pengawalan orang tua—sebuah pemandangan kontras jika dibandingkan UTBK tahun-tahun sebelumnya yang riuh oleh iring-iringan keluarga. Kini, keheningan berlapis: antara kekhusyukan pra-ujian dan diamnya kendaraan yang hanya berhenti sejenak untuk menurunkan penumpang lalu pergi.

Sementara itu, peserta asal Jakarta Selatan, Rizky Maulana (19), mengaku harus menempuh perjalanan dua jam menggunakan kereta untuk tiba di lokasi.

“Setiap batuk atau bersin di gerbong, refleks aku menahan napas. Sampai di kampus, lega lihat protokolnya ketat. Semoga perjuangan ini terbayar dengan hasil yang manis,”
katanya sambil menyemprotkan disinfektan ke tangan sebelum memasuki ruang ujian. Beberapa peserta bahkan membawa masker dengan desain lucu—karakter kartun atau corak batik—sebagai upaya kecil menghibur diri di tengah situasi suram.

Di dalam arena pertempuran intelektual itu, yang terdengar hanya ketukan papan ketik dan embusan napas yang sesekali lebih berat karena masker membatasi aliran udara. Seorang pengawas, Fitriani (35), bercerita bahwa banyak peserta yang mengaku pusing di tengah sesi karena terbiasa berpikir keras tanpa masker.

“Kami selalu siapkan air mineral dan memberi izin untuk menyesuaikan masker sejenak di tempat duduk masing-masing. Tapi hampir semua tetap bertahan. Saya salut, mereka serius ingin menang,”
ungkapnya.

Harapan di Tengah Badai

Selepas sesi pertama berakhir pukul 10.30 WIB, para peserta keluar dengan wajah yang sulit ditebak. Ada yang langsung meregangkan tubuh, ada yang memejamkan mata sejenak, ada pula yang langsung meraih ponsel untuk menelepon orang rumah. Petugas sigap mengarahkan mereka untuk segera meninggalkan area dan tidak berkumpul. Puluhan peserta melangkah menuju gerbang, menyisakan bayangan panjang di aspal yang mulai dipanasi matahari. Seperti metafora perjalanan mereka menuju kampus impian: di depan tampak terang, meski jalan yang dilalui penuh bayang-bayang risiko.

Prof. Dr. Hilman Maulana, seorang pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia, berkomentar bahwa UTBK di masa pandemi adalah ujian karakter yang sesungguhnya.

“Di tengah keterbatasan, para peserta ini menunjukkan kegigihan luar biasa. Mereka bukan hanya menguji pengetahuan, tetapi juga ketahanan mental. Ini akan menjadi angkatan mahasiswa yang lebih tangguh setelah melewati masa-masa genting seperti ini,”
tulisnya dalam pesan singkat.

Bagi panitia, ujian ini belum selesai. Malam harinya, mereka akan mengecek kembali setiap perangkat dan mensterilkan ruangan untuk sesi esok hari. Bagi peserta, lembar hasil ujian kelak akan menjadi penentu langkah mereka. Namun pagi itu di kampus Depok, ada satu pelajaran yang sudah tertera jelas: mimpi tak boleh berhenti meski dunia tengah berjuang melawan pandemi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User