Jakarta — IHSG Dibuka di Dua Arah, Sentimen Pasar Terbelah
Layar-layar besar di lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia seolah ikut menahan napas. Pukul 09.00 WIB, Rabu (14/10/2020), angka-angka berwarna hijau berm
Layar-layar besar di lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia seolah ikut menahan napas. Pukul 09.00 WIB, Rabu (14/10/2020), angka-angka berwarna hijau bermunculan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melangkah mantap di teritori positif, membawa secercah harapan di tengah ketidakpastian yang sudah terlalu lama menyelimuti pasar. Beberapa pelaku pasar yang sudah duduk di depan terminal komputer mereka sejak subuh, tersenyum tipis. “Ini hari yang kami tunggu,” gumam salah satu dari mereka, matanya tak lepas dari grafik yang mendaki. Namun, cerita hari itu ternyata tak sesederhana harapan pagi.
Asa yang Tumbuh di Awal Sesi
Ketika jarum jam menyentuh pukul sembilan, optimisme terasa nyata. Data-data awal menunjukkan respons positif terhadap sejumlah sentimen global. Investor ritel yang memadati sudut-sudut gedung BEI tampak lebih rileks dari biasanya. Bahkan, seorang pria paruh baya yang biasa berdagang saham dari laptop tuanya di lobi gedung, terlihat mengacungkan jempol ke arah koleganya. Ada kelegaan yang tak terucap—seakan seluruh ruangan percaya bahwa kali ini tren positif akan bertahan. Tapi pasar saham selalu punya caranya sendiri untuk berbicara.Ketika Arah Berubah Dalam Hening
Tak sampai satu jam setelah lantai perdagangan riuh oleh antusiasme, layar-layar itu mulai menunjukkan tanda yang berbeda. Grafik yang tadinya menanjak perlahan melandai, lalu berubah warna. IHSG bergerak turun, meninggalkan zona nyamannya. Secara pasti, indeks melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130,18. Fragile. Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi pagi itu. Di sudut lain, seorang ibu setengah baya yang akrab disapa “Mbak Ning” oleh sesama trader hanya bisa menghela napas. Ia menatap layar dengan campuran pasrah dan waspada. “Biasa, mas. Pagi naik, siang turun. Kadang cuma semenit doang,” katanya lirih sambil menyesap kopi instannya yang sudah dingin.Suara dari Balik Layar
Di antara data dan grafik, ada kisah-kisah yang jarang terdengar. Satrio, seorang analis muda yang baru setahun bergabung di salah satu sekuritas kecil, mengaku bahwa pergerakan dua arah seperti ini bukan hal baru—namun tetap menguras mental.“Saya lihat banyak investor sekarang lebih banyak menahan diri. Begitu IHSG naik sedikit, langsung jual. Takutnya, ini cuma jebakan. Jadi ya wajar kalau indeks bolak-balik seperti tadi,” ujar Satrio saat kami temui di ruang istirahat BEI, suaranya lelah tapi matanya masih menyala.Ia bercerita bahwa tekanan terbesar justru datang dari ketidakpastian global saat itu—isu pandemi, stimulus yang tak kunjung jelas, hingga ketegangan geopolitik. “Semua bikin kami seperti berjalan di atas es tipis,” tambahnya.
Comments (0)