Denpasar — Proyek Sampah Jadi Listrik Senilai Rp 3 Triliun Dikebut Rampung 2027
Di tengah hiruk-pikuk Denpasar yang kian padat, seorang ibu rumah tangga bernama Ni Ketut (42) sudah bertahun-tahun menahan napas setiap melintas di dekat
Di tengah hiruk-pikuk Denpasar yang kian padat, seorang ibu rumah tangga bernama Ni Ketut (42) sudah bertahun-tahun menahan napas setiap melintas di dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Aroma menyengat dan pemandangan gunungan sampah seolah menjadi pemandangan sehari-hari yang enggan ia terima. “Anak saya sering batuk-batuk. Lalat di mana-mana. Rasanya, tinggal di surga bernama Bali kok masih begini,” keluhnya suatu sore, mengenang perjuangan warga sekitar melawan dampak lingkungan yang terus menggerogoti kualitas hidup mereka.
Keluhan Ni Ketut bukan hanya keresahan pribadi. Ia adalah cerminan dari puluhan ribu warga Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan yang selama ini menanggung beban ekologis dari pertumbuhan pariwisata dan konsumsi rumah tangga. Kini, secercah asa mulai menyingsing dari hamparan sampah yang dulu hanya menjanjikan penyakit. Di atas lahan yang sama, mimpi untuk mengubah bencana ekologis menjadi sumber kehidupan mulai dibangun.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan keyakinannya bahwa pembangunan megaproyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya yang menelan biaya investasi Rp 3 triliun akan mencapai garis finis lebih cepat dari jadwal resmi. Dengan penuh optimisme, Rosan menyatakan bahwa meskipun dokumen proyek menargetkan penyelesaian pada Semester I-2028, ia melihat momentum di lapangan memungkinkan operasional penuh dilakukan pada akhir tahun 2027.
“Saya meyakini, walaupun targetnya Semester I-2028 kalau saya baca tadi di luar, tapi ini bisa selesai pada akhir tahun 2027,” ujar Rosan dalam peresmian PSEL Denpasar Raya yang dipantau daring, menghadirkan secercah keyakinan bagi warga yang sudah puluhan tahun menanti solusi.
Di balik megahnya angka triliunan dan teknologi modern yang akan mengubah sampah menjadi listrik, tersimpan kisah tentang harga diri masyarakat lokal. Wayan Sudiarta, seorang pemuda yang pernah bekerja sebagai pemulung di TPA yang sama, kini berdiri tegap menyaksikan peresmian proyek. “Dulu saya memungut barang bekas di sini. Sekarang, tempat yang sama akan menghasilkan listrik untuk rumah-rumah kami. Ini bukan sekadar kemajuan, ini pemulihan martabat,” ucapnya dengan suara bergetar.
Proyek ini dirancang untuk tidak hanya menjadi solusi energi, melainkan napas baru bagi lingkungan dan kesehatan publik. Rosan menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan tonggak penting dalam sejarah Indonesia—sebuah langkah progresif yang mengakui bahwa sampah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sumber daya yang terabaikan.
Dari Krisis ke Peradaban Baru: Analisis Dampak Proyek
Di era di mana darurat sampah menjadi ancaman bisu bagi destinasi wisata seperti Bali, pendekatan “waste-to-energy” menjadi lebih dari sekadar pilihan—ia adalah keniscayaan. Secara teknis, proyek ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang mencemari tanah dan air, tetapi juga berkontribusi pada bauran energi terbarukan di Pulau Dewata.
“Ini adalah sebuah koreksi peradaban. Selama ini kita memperlakukan sampah sebagai sesuatu yang kotor dan harus disingkirkan sejauh mungkin. PSEL Denpasar Raya mengajarkan kita untuk melihat sampah sebagai energi yang tertunda,” ujar Dr. Putri Maharani, pengamat kebijakan lingkungan dari Universitas Udayana, yang menilai keberhasilan proyek ini akan menjadi lompatan besar bagi standar pengelolaan limbah di tingkat nasional.
Namun, di balik optimisme yang membuncah, akselerasi target penyelesaian dari Semester I-2028 menjadi akhir 2027 bukan tanpa risiko. Dibutuhkan sinergi yang mulus antara pemerintah daerah, kontraktor, dan masyarakat agar percepatan ini tidak mengorbankan kualitas konstruksi atau aspek keselamatan lingkungan hidup di sekitarnya.
| Target Resmi | Target Optimistis | Perbedaan Waktu |
|---|---|---|
| Semester I-2028 | Akhir 2027 | Sekitar 6 bulan lebih cepat |
| Berdasarkan dokumen kontrak proyek | Keyakinan Rosan Roeslani melihat progres di lapangan | Selisih waktu yang signifikan dalam proyek infrastruktur |
Meski begitu, bagi Ni Ketut dan ribuan warga lainnya, perbedaan beberapa bulan itu tidak lagi menjadi soal. Yang terpenting adalah kepastian bahwa anak-anak mereka kelak tidak lagi tumbuh dalam kepungan sampah. “Kalau benar-benar selesai, saya ingin jadi yang pertama menyalakan lampu dari listrik sampah itu. Supaya anak saya tahu, dari yang tadinya sumber penyakit, bisa jadi berkah,” pungkasnya dengan senyum yang telah lama hilang.
Comments (0)