Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Bumbum Hengkang dari Sukses Lancar Rejeki Demi Pendidikan

Suasana latihan di sebuah studio kecil di bilangan Jakarta Selatan mendadak hening ketika Bramantyo Aditya—yang karib disapa Bumbum—menghentikan ketukan dr

Jul 08, 2026 - 15:26
0 0

Suasana latihan di sebuah studio kecil di bilangan Jakarta Selatan mendadak hening ketika Bramantyo Aditya—yang karib disapa Bumbum—menghentikan ketukan drumnya lebih awal. Tangannya yang biasanya lincah menabuh snare dan hi-hat, kali ini memegang secarik kertas. Di hadapan ketiga rekannya di band Sukses Lancar Rejeki (SLR), ia membacakan sebuah pernyataan yang sudah ia siapkan matang-matang: ia memutuskan untuk hengkang. Bukan karena berseteru, bukan pula karena tawaran dari grup musik yang lebih besar. Alasannya sederhana namun penuh bobot: ia ingin fokus menyelesaikan sekolah.

Keputusan itu sontak membuat ruangan berubah menjadi ruang perenungan. SLR yang tengah menanjak di skena indie, dengan jadwal manggung yang kian padat, harus merelakan salah satu pilar energinya pergi. Namun tidak ada nada protes dari rekan-rekannya. Yang ada hanyalah pelukan panjang dan janji untuk tetap saling mendukung.

Detak Drum yang Berbenturan dengan Bel Sekolah

Bumbum baru berusia 18 tahun. Ia bergabung dengan SLR sejak duduk di bangku SMP, dan dalam tiga tahun terakhir namanya mulai diperhitungkan sebagai drummer muda berbakat. Bersama SLR, ia telah merilis satu album mini dan beberapa single yang hangat di telinga pendengar setia. Namun di balik hingar-bingar panggung, ada perjuangan sunyi yang jarang tersorot: mempertahankan nilai akademis di tengah jadwal manggung yang kadang barunya berakhir saat fajar.

Saat ditemui di sebuah kafe kecil milik rekanan band, Bumbum bercerita dengan suara pelan namun mantap. “Semester lalu saya hampir enggak naik kelas. Sering bolos karena harus syuting video klip atau show di luar kota. Nilai saya anjlok, dan orang tua mulai khawatir,” kenangnya. Bagi Bumbum, titik balik terjadi ketika ia melihat rapor dengan tinta merah dan wajah kecewa sang ibu. Sejak saat itu, ia berjanji untuk menata ulang prioritas hidupnya.

“Saya bukan berhenti bermusik. Saya hanya memilih menyelesaikan apa yang sudah saya mulai lebih dulu. Musik akan selalu jadi bagian dari hidup saya, tapi ijazah juga penting. Di usia saya sekarang, saya butuh bekal yang lebih pasti,” katanya dengan mata berbinar, sembari menyeruput es teh manis yang mulai mencair.

Dukungan Hangat dari ‘Keluarga’ SLR

Vokalis SLR, Genta, mengaku sempat terhenyak mendengar kabar itu. Namun setelah berbincang panjang, ia memahami sepenuhnya. “Kami ini bukan sekadar band, kami keluarga. Bumbum sudah banyak berkorban buat SLR. Sekarang giliran kami mendukung impiannya yang lain. Enggak mungkin kami egois,” ujar Genta sambil menepuk pundak Bumbum. Senyum tipis terlihat dari wajah sang drummer, meskipun matanya masih sedikit sembab.

Manajer band, yang akrab disapa Mbak Rini, menambahkan dengan nada penuh keibuan, “Tidak ada yang bisa memaksa seorang anak untuk terus di atas panggung jika hatinya ingin di ruang kelas. Kami bangga dia berani mengambil keputusan sebesar ini.” Pihak SLR memastikan bahwa posisi yang ditinggalkan Bumbum akan diisi sementara oleh additional player, sembari mencari pengganti tetap. Namun mereka menegaskan, Bumbum akan selalu dicatat sebagai bagian dari sejarah band.

Memilih Sekolah Bukan Berarti Menyerah pada Mimpi

Di era ketika banyak anak muda terburu-buru meninggalkan bangku sekolah demi mengejar popularitas, kisah Bumbum memberi warna berbeda. Ia justru berani menunda mimpinya bermusik demi menuntaskan tanggung jawab akademis. Keputusan ini, menurut psikolog remaja Dr. Riana (nama disamarkan), menunjukkan tingkat kedewasaan yang langka. “Tekanan di industri hiburan pada anak muda seringkali tak kasat mata. Mereka tampak bahagia di atas panggung, tapi di balik sana ada kegelisahan akan masa depan yang tidak pasti. Keputusan Bumbum sangat rasional dan dewasa,” komentarnya.

Bumbum sendiri tidak pernah merasa bersekolah adalah hal yang membatasi kreativitasnya. Sebaliknya, ia menganggap pendidikan sebagai pintu untuk memperluas wawasan bermusiknya. “Saya ingin jadi drummer yang berpendidikan. Mungkin nanti saya kuliah musik, bisa jadi guru drum, sound engineer, atau malah membuat studio rekaman sendiri. Tapi saya mau punya dasar yang kuat dulu,” ujarnya penuh semangat.

“Banyak yang tanya, ‘Kamu yakin mau ninggalin band yang lagi naik?’ Saya jawab, saya enggak ninggalin musik. Saya cuma lagi beresin satu PR besar dulu. Setelah itu, saya kembali—mungkin dengan cara yang berbeda,” kata Bumbum, kali ini dengan senyum lebar.

Konser Kecil, Kenangan Besar

Sebagai penanda perjalanan, SLR menggelar sebuah konser perpisahan intim di sebuah kafe yang sudah seperti rumah kedua mereka. Puluhan penggemar setia datang, sebagian bahkan membawa kertas bertuliskan “Terima Kasih, Bumbum”. Sepanjang malam, Bumbum memainkan sepuluh lagu dengan energi penuh, seolah ingin menorehkan setiap pukulan drumnya dalam ingatan. Tangis haru pecah di ujung acara, ketika Bumbum turun dari panggung dan memeluk satu per satu rekan bandnya.

Kini Bumbum sibuk mempersiapkan ujian akhir dan ujian masuk perguruan tinggi. Ia tetap berlatih drum secara mandiri, bahkan sesekali masih ikut sesi rekaman SLR sebagai additional, meski tidak lagi menjadi personel tetap. “Ini hanya soal waktu,” ucapnya optimis. Sementara itu, SLR berencana merilis album penuh tahun ini dengan formasi baru. Namun bagi para penggemar, nama Bumbum akan selalu identik dengan detak awal perjalanan band tersebut.

Kisah Bumbum menjadi pengingat bahwa sukses tidak selalu berarti memilih satu jalan dan mengabaikan yang lain. Kadang, justru dengan menghargai jeda dan keseimbangan, kita menemukan makna sejati dari sebuah pencapaian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User