Jakarta — Rustam Effendi Sebut Kapolri Harus Bertanggung Jawab atas Penangkapan Roy Suryo
Ruangan kecil di sudut studio podcast itu terasa sedikit pengap ketika Rustam Effendi meluruskan punggungnya. Di balik lensa kamera, ia tampak merapikan ke
Ruangan kecil di sudut studio podcast itu terasa sedikit pengap ketika Rustam Effendi meluruskan punggungnya. Di balik lensa kamera, ia tampak merapikan kerah kemeja yang sudah lusuh—mungkin sisa lelah setelah berhari-hari ramai diperbincangkan sebagai tersangka dalam pusaran kasus ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo. Napasnya pendek, tapi suaranya sengaja ia jaga agar tetap datar. Sebab yang ingin ia sampaikan malam itu terlalu penting untuk dikaburkan oleh emosi yang meledak-ledak: seseorang di pucuk pimpinan harus bertanggung jawab.
Rustam tidak sedang bicara tentang dirinya sendiri. Ia sedang memikirkan Roy Suryo—pakar telematika yang pekan lalu digeledah dan ditangkap dengan cara yang menurutnya jauh dari kata “perlu”.
“Mereka datang ketika dipanggil”
Bagi Rustam, kasus ini seperti drama yang terlalu dipaksakan. Ia tahu persis bagaimana Roy bersikap: sejak awal, Roy selalu kooperatif. Panggilan pemeriksaan dijawab, kewajiban wajib lapor ditunaikan, tak ada jejak perlawanan ataupun manuver yang berusaha mengaburkan jejak. Justru karena itulah Rustam tidak mengerti mengapa harus ada penggeledahan dan penangkapan yang dramatis itu.
“Saya juga kasihan kepada anggota di lapangan. Mereka menjalankan tugas sesuai kewenangannya,” ujar Rustam dalam Podcast The Daily Buzz Okezone, Senin (7/6).
Kalimat itu menggantung. Ada jeda panjang yang biasanya hanya lahir dari seseorang yang menyesali sesuatu yang tak bisa ia kendalikan. Rustam ingin orang tahu: ia tidak sedang menuding polisi yang berdiri di depan rumah Roy. Ia sedang menunjuk ke tempat yang lebih tinggi.
“Cuman kan yang di atas-atas (pimpinan Polri) ini kan yang mereka enggak bisa dilawan perintahnya gitu loh. Jadi memang ya sekelas Kapolrinya harus bertanggung jawab menurut saya.”
Rantai komando yang tak bisa ditolak
Ketika kata “Kapolri” meluncur dari mulutnya, Rustam tahu risikonya. Tapi itulah beban yang ia tanggung sebagai seseorang yang menyaksikan langsung bagaimana mekanisme rantai komando bekerja tanpa kompromi. Personel di tingkat pelaksana, katanya, menghadapi situasi yang tidak mudah. Mereka tidak bisa memilih perintah; mereka hanya bisa menjalankan. Dan jika perintah itu bengkok, maka yang meluruskannya bukanlah mereka yang berseragam di jalanan, melainkan mereka yang duduk di ruang rapat dengan peta kewenangan terbentang di meja.
Pengamat hukum yang mengikuti kasus ini, Andre Manullang, melihat pernyataan Rustam sebagai cermin dari dilema struktural yang sudah lama dikeluhkan. “Dalam banyak kasus, kita melihat personel di bawah sebenarnya tidak nyaman dengan langkah yang mereka ambil. Tapi loyalitas hierarkis sering kali mengunci suara hati mereka,” ucapnya saat dihubungi secara terpisah. “Yang dikatakan Rustam itu bukan isapan jempol. Itu realitas yang dihadapi banyak anggota di lapangan.”
Rustam tidak menggambarkan dirinya sebagai pahlawan. Ia hanyalah seorang yang kebetulan terseret dan memilih untuk tidak menutup mata. Ketika penangkapan Roy terjadi, ia membayangkan wajah istri Roy yang menerima kabar itu tanpa persiapan. Ia membayangkan anak-anaknya yang mungkin bertanya mengapa ayah mereka diperlakukan seperti itu. Sebagai seorang ayah, Rustam mengaku tak bisa menahan rasa iba.
“Roy bukan buronan. Kenapa harus ada adegan penggeledahan dan penangkapan yang seperti mengejar pelaku berbahaya?” bisiknya, hampir tak terdengar.
Tanggung jawab yang tidak bisa dihindari
Bagi Rustam, solusinya sederhana: pimpinan harus bertanggung jawab. Jangan biarkan anak buah yang hanya melaksanakan perintah menanggung beban moral yang bukan milik mereka. Ia bukan ahli hukum, tapi ia paham bahwa suara hati dan rantai komando bukanlah dua kutub yang harus selamanya bertabrakan. Keduanya bisa sejalan, asalkan mereka yang memegang kendali mau memilih jalan yang benar.
Pernyataannya mungkin tidak akan mengubah arah angin. Tapi Rustam sudah menunaikan yang ia bisa: membisikkan nama yang selama ini hanya terdengar dalam sunyi.
- Kronologi singkat: Roy Suryo ditangkap setelah sebelumnya menjalani wajib lapor dan kooperatif dalam proses pemeriksaan.
- Inti penyesalan: Rustam meyakini penangkapan tidak diperlukan dan merupakan hasil perintah pimpinan yang sulit ditolak petugas di lapangan.
- Dampak sosial: Penangkapan dramatis menimbulkan citra seolah Roy berbahaya, padahal ia selalu hadir tanpa paksaan.
Pada akhirnya, yang tersisa adalah sebuah pertanyaan yang menggantung di udara: maukah yang di atas turun menanggung beban itu, atau justru terus bersembunyi di balik pundak mereka yang tak kuasa menolak perintah?
Comments (0)