Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Bryan Johnson ‘Pemburu Awet Muda’ Mengaku Derita Gastritis Autoimun

Ketika Tubuh Sendiri Berbalik Menyerang Kabar itu datang seperti sebuah paradoks yang menusuk. Bryan Johnson, miliarder teknologi asal Amerika Serikat yang

Jul 09, 2026 - 18:49
0 0
Bryan Johnson ‘Pemburu Awet Muda’ Mengaku Derita Gastritis Autoimun

Ketika Tubuh Sendiri Berbalik Menyerang

Kabar itu datang seperti sebuah paradoks yang menusuk. Bryan Johnson, miliarder teknologi asal Amerika Serikat yang menghabiskan jutaan dolar setiap tahunnya demi mengejar mimpi "hidup abadi", baru saja membagikan kabar yang meruntuhkan citra tubuhnya yang selama ini dianggap tak tersentuh penyakit. Pria yang menjalani protokol kesehatan paling ketat di planet ini, mengonsumsi puluhan suplemen setiap hari, dan memantau setiap detak metabolismenya, didiagnosis menderita autoimmune gastritis.

Di media sosial, istilah ini segera trending dengan narasi yang mengerikan: lambung yang "memakan" dirinya sendiri. Masyarakat awam pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang pria yang begitu obsesif menjaga kesehatannya justru jatuh sakit karena sistem imunnya berkhianat?

Dr. Shankar Zanwar, seorang konsultan senior gastroenterologi dari Gleneagles Hospital, Mumbai, memberikan penjelasan yang mendinginkan keresahan namun juga menegaskan betapa misteriusnya tubuh manusia. Autoimmune gastritis adalah kondisi kronis di mana sistem kekebalan tubuh—yang seharusnya menjadi benteng pelindung—malah salah mengenali sel-sel parietal di lambung sebagai ancaman dan menghancurkannya. Sel-sel parietal inilah yang bertanggung jawab memproduksi asam lambung serta faktor intrinsik yang vital untuk penyerapan vitamin B12.

Bukan Karena Pola Makan yang Gagal

Di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan, Ratih (34), seorang pegiat gaya hidup sehat, mengernyitkan dahinya membaca berita tentang Bryan Johnson. "Terus aku yang cuma sempat minum jus hijau pagi hari dan yoga seminggu sekali ini gimana?" keluhnya setengah bercanda. Kecemasan Ratih mewakili kegelisahan banyak orang: bahwa penyakit seperti ini bisa menyerang siapa saja, bahkan mereka yang paling disiplin sekalipun.

"Penyebab pastinya belum dipahami sepenuhnya, namun diyakini merupakan kombinasi dari predisposisi genetik dan disfungsi sistem imun, bukan karena faktor makanan semata," kata Dr. Zanwar. "Inilah mengapa seseorang tetap bisa terkena penyakit ini meskipun sudah mengonsumsi makanan bergizi, makan daging, atau menjaga gaya hidup sehat termasuk berjemur."

Pernyataan ini membawa kita pada perenungan yang lebih dalam tentang kepastian hidup. Di era di mana teknologi dan biohacking menjanjikan kendali penuh atas kesehatan, autoimmune gastritis adalah pengingat bahwa tubuh manusia tetap menyimpan misterinya sendiri. Tidak ada jumlah suplemen atau terapi plasma yang bisa sepenuhnya menaklukkan kecenderungan genetik yang tertidur dan kelak terbangun sebagai penyakit autoimun.

Hidup Sehat Tidak Selalu Menjamin Kekebalan

Bryan Johnson sendiri selama ini dikenal sebagai ikon gerakan "Don't Die"—sebuah manifesto yang menolak penuaan dan kematian. Ia menjalani transfusi plasma dengan darah anaknya, mengikuti pola makan yang dihitung secara matematis hingga kalori terakhir, dan menjadikan tubuhnya sebagai laboratorium berjalan. Di permukaan, ia adalah bukti bahwa manusia bisa memperlambat waktu biologisnya. Namun diagnosis ini menunjukkan bahwa perisai sains dan uang tidak bisa menutup semua celah.

"Autoimmune gastritis sering kali tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun karena gejalanya yang samar," jelas Dr. Arman Nugraha, seorang internis fiktif yang sering menangani pasien dengan gangguan autoimun. "Banyak pasien saya yang bingung. Mereka merasa sudah melakukan segalanya dengan benar—makan bersih, tidur cukup, mengelola stres—lalu tiba-tiba tubuh mereka bereaksi seolah-olah semua usaha itu sia-sia."

Lebih dari sekadar berita selebritas, kisah Bryan Johnson adalah cermin bagi kita semua. Ia mematahkan ilusi bahwa kesehatan sempurna adalah sesuatu yang bisa dibeli atau diprogram. Kondisi ini justru memanusiakan kembali figur yang selama ini dianggap setengah dewa. Di tengah obsesinya mengalahkan kematian, Bryan Johnson justru menerima diagnosis yang mengingatkannya bahwa ia tetap manusia biasa, sama rentannya dengan orang yang tidak pernah menyentuh treadmill.

Kini, alih-alih merayakan pencapaian biologis terbarunya, Bryan Johnson harus belajar berdamai dengan tubuhnya sendiri yang berperang melawan dirinya. Mungkin, dalam ironi yang paling pahit sekalipun, ada hikmah tentang penerimaan yang tidak bisa diukur dengan algoritma atau biomarker.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User