Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Banjar Kebonkuri Tengah Persembahkan Jerimpen Agung di Lomba Penjor

Pagi itu, langit di atas Pura Agung Petilan Pengrebongan tampak cerah. Ratusan penjor berdiri tegak, melengkungkan janur-janurnya yang segar, seolah ikut m

Jul 08, 2026 - 13:34
0 0
Banjar Kebonkuri Tengah Persembahkan Jerimpen Agung di Lomba Penjor

Pagi itu, langit di atas Pura Agung Petilan Pengrebongan tampak cerah. Ratusan penjor berdiri tegak, melengkungkan janur-janurnya yang segar, seolah ikut menari dalam irama kidung suci yang mengalun dari pengeras suara. Di antara kemegahan itu, sebuah penjor dengan konsep Jerimpen Agung berdiri tenang. Ia tidak paling tinggi, tidak paling meriah, tapi ada rasa teduh yang terpancar darinya—seakan ia bukan sekadar peserta lomba, melainkan sebuah doa yang diwujudkan dalam bentuk.

Penjor itulah hasil kerja keras Sekeha Teruna (ST) Yowana Satrya Werdhi dari Banjar Kebonkuri Tengah, Kesiman, Denpasar. Bagi anak-anak muda di banjar ini, kembalinya lomba penjor Pengrebongan adalah momen yang sudah lama dinanti.

Setahun Menanti, Semangat Ngayah Membuncah

Lomba penjor yang menjadi bagian dari piodalan di Pura Agung Petilan Pengrebongan sempat ditiadakan pada akhir 2025. Bukan karena pandemi, melainkan karena restorasi areal pura yang memakan waktu cukup panjang. Kini, setelah pura kembali bersolek, lomba pun hidup lagi. Dan bagi anggota ST Yowana Satrya Werdhi, tiadanya lomba tahun lalu justru menjadi pupuk yang menyuburkan kerinduan untuk berkarya.

"Rasanya seperti ada yang hilang kalau tidak ikut bikin penjor. Tahun ini, begitu dengar lomba diadakan lagi, semua langsung semangat. Bahkan yang biasanya susah diajak gotong royong, kali ini datang sendiri," ujar Ni Luh Putu Sari (24), salah satu anggota ST yang turut menyiapkan bahan-bahan janur sejak subuh. Ia tertawa kecil mengenang kekompakan yang tiba-tiba muncul itu.

Ketua ST Yowana Satrya Werdhi, I Kadek Ardika, mengakui hal yang sama. "Tahun ini menjadi momentum yang kami tunggu karena lomba penjor kembali digelar. Semangat teman-teman ST sangat besar untuk kembali berkarya sekaligus ngayah menyambut piodalan," ucapnya saat ditemui di tengah kesibukan terakhir merapikan penjor.

Jerimpen Agung: Simbol Persembahan yang Dipilih dengan Sadar

Tahun ini, ST Yowana Satrya Werdhi mengusung tema Jerimpen Agung. Bagi masyarakat Hindu di Bali, jerimpen adalah salah satu sarana banten yang digunakan dalam upacara besar. Bentuknya berupa wadah suci yang menjadi tempat berbagai perlengkapan upakara. Memilih jerimpen sebagai konsep penjor bukanlah keputusan estetis semata—melainkan pilihan filosofis yang lahir dari kebutuhan spiritual.

"Konsep ini kami pilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sarana upakara yang akan digunakan dalam rangkaian karya di Pura Kahyangan nanti," jelas Ardika.

Wayan Gede (56), seorang pemangku adat setempat yang ikut mengawasi proses pembuatan penjor, menambahkan dengan suara lembut, "Jerimpen Agung adalah simbol persembahan suci. Dalam setiap upacara, jerimpen membawa doa dan harapan umat. Anak-anak muda ini ingin penjornya bukan sekadar hiasan, melainkan benar-benar menjadi sarana persembahan."

Proses pembuatan penjor ini dilakukan secara maraton selama beberapa hari. Berikut rangkaian pengerjaannya:

  1. Musyawarah desain dan tema – berlangsung hampir semalam suntuk untuk menyepakati Jerimpen Agung sebagai konsep yang paling relevan dengan rangkaian yadnya mendatang.
  2. Pengumpulan bahan – janur, bambu, dan kelengkapan banten dikumpulkan secara swadaya oleh warga banjar.
  3. Perakitan struktur – dikerjakan oleh anggota ST bersama para tetua yang memberikan arahan teknis sekaligus bimbingan spiritual.
  4. Pemasangan hiasan – dilakukan dengan teliti agar setiap elemen mencerminkan makna persembahan, bukan sekadar keindahan visual.
  5. Penghaturan dan doa bersama – sebelum penjor diarak ke lokasi lomba, digelar ritual singkat untuk menghaturkan penjor sebagai yadnya.

Seluruh proses ini menghabiskan biaya antara Rp10 juta hingga Rp13 juta, yang sepenuhnya berasal dari iuran warga dan donasi sukarela. "Angka itu tidak kecil, tapi kalau untuk yadnya, semua terasa ringan. Karena kami percaya, ini bagian dari bakti," ujar Luh Putu Sari.

Tak Masuk 10 Besar, Tapi Tersenyum Lega

Hasil akhir lomba menempatkan penjor Jerimpen Agung di luar 10 besar. Sebuah fakta yang mungkin mengecewakan bagi sebagian peserta lain, tapi tidak bagi warga Banjar Kebonkuri Tengah. Mereka sudah pernah merasakan manisnya prestasi: tahun-tahun sebelumnya, kreasi mereka bertema Cepuk Poleng berhasil meraih peringkat ketujuh, dan Bedawang Nala menembus posisi keenam.

Tahun ini, ekspektasi itu sengaja dikelola sejak awal. Seluruh ST di Gumi Kebonkuri telah bersepakat untuk membuat penjor dengan konsep madya—lebih sederhana, tidak ambisius mengejar gelar juara. Karena ada sesuatu yang lebih besar menanti: penjor yang sama akan dipasang kembali di areal Pura Kahyangan pada Anggara Kasih Tambir, Agustus mendatang, sebagai bagian dari rangkaian karya.

"Kalau dapat penghargaan, tentu kami bersyukur. Tapi yang paling penting adalah penjor ini menjadi persembahan yang tulus untuk piodalan dan rangkaian karya berikutnya," kata Ardika.

Hal senada diungkapkan Luh Putu Sari sambil menatap penjor yang mulai diterpa sinar sore. "Bagi kami, penjor ini bukan soal menang. Ia adalah perpanjangan doa. Selama ia berdiri tegak dan bisa digunakan lagi untuk piodalan di Kahyangan, kami sudah menang," ujarnya.

Kini, penjor Jerimpen Agung itu telah berdiri, menunggu waktunya dipindahkan ke pura lain—menjadi saksi bisu bahwa sesungguhnya persembahan terindah adalah yang lahir dari hati yang ikhlas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User